Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap. Dalam dengan
hierarki gramatikal, wacana merupakan satuan gramatikal tertinggi dan terbesar.
Persyaratan gramatikal dalam wacana dapat dipenuhi kalau dalam wacana itu sudah
terbina kekohesian dan kekoherensian. Kekohesian yaitu adanya keserasian antara
unsur-unsur yang ada dalam wacana tersebut, sedangkan kekoherensian yaitu isi
wacana yang apik dan benar.
Beberapa hal yang perlu dicermati dalam wacana adalah sebagai
berikut.
·
Wacana
adalah satuan tuturan yang menyatakan suatu ideatau gagasan dengan satu kalimat
atau lebih disertai dengan konteks tertentu (verbal atau nonverbal)
·
Topik
adalah
sesuatu yang disampaikan melalui wacana.
·
Konteks
adalah sesuatu yang mendukung atau memperjelas kalimat di dalam menyampaikan
topik.
·
Konteks
verbal adalah konteks yang berupa bahasa.
·
Konteks
nonverbal adalah konteks non bahasa, seperti konteks sosial, kultural,
mental, dll.
Wacana yang baik harus bersifat kohesif dan koheren. Macam-macam
alat gramatikal untuk membuat sebuah wacana menjadi kohesif dan koheren dapat
dirinci sebagai berikut.
1) Substitusi
(penggantian, kata-kata yang sama diganti dengan kata gantinya.
Contoh: Amir sedang menangis. Pagi ini dia
tidak diberi uang saku oleh ibunya.
2) Repetisi
(pengulangan, mengulang kata-kata yang sama.
Contoh: Hari ini saya harus
membersihkan kelas. Hari ini pula saya harus menemani ibu yang sedang sakit.
3) Elipsis
(pelesapan), menghilangkan kata-kata yang sama.
Contoh: Bunga itu sedang mekar.
Harum dan wangi menyebar ke mana-mana.
4) Aditif
(penambahan), memberikan keterangan tambahan.
Contoh: Hari ini saya membersihkan
kelas. Setelah itu, saya menyau halaman.
5) Kontradiktif
(pertentangan), mempertentangkan dengan pernyataan semula.
Contoh: Hari ini hujan deras. Namun
demikian, ia tetap berangkat ke sekolah.
6) Kausatif
(sebab akibat), menjelaskan sebab atau akibat pernyataan semula.
Contoh:
Hari ini hujan deras. Karena itu, saya tidak berangkat ke sekolah.
7) Deduktif Induktif, menggunakan
hubungan spesifik-generik atau generik-spesifik.
8) Komparatif, menggunakan hubungan
perbandingan antara isi kedua bagian kalimat.
1)
Jenis wacana
a)
Wacana
dilihat dari nilai sastra
a.
Wacana
Sastra, yaitu wacana yang dibentuk dengan kalimat-kalimat yang bernilai sastra.
b.
Wacana
Non-Sastra, yaitu wacana yang dubentuk
dengan kalimat-kalimat yang tidak
bernilai sastra
b)
Wacana
dilihat dari cara penyajiannya
a.
Wacana
Monolog, yaitu yaitu wacana yang disajikan tanpa adanya percakapan atau dialog.
b.
Wacana
Dialog, yaitu wacana yang disajikan dengan
percakapan atau dialog.
c)
Wacana
dilihat dari medianya
a.
Wacana
Tulis, yaitu wacana yang disajikan secara tertulis.
b.
Wacana
Lisan, yaitu wacana yang disajikan secara lisan.
4. Wacana dilihat
dari kedudukan kalimatnya
a.
Wacana
Koordinatif, yaitu wacana yang kalimat-kalimatnya mempunyai kedudukan yang
sederajat.
Contoh:
Langkah pertama
menyusun sinopsis ialah menelaah isi buku yang akan dijadikan sinopsis. Langkah
kedua ialah menuliskan kerangka pokok isi buku itu. Langkah ketiga ialah
mengambil bagian-bagian uraian yang penting dari buku itu. Bagian-bagian itu
ditata sesuai dg kerangka buku. Selanjutnya ringkasan itu diketik.
b.
Wacana
Subordinatif, yaitu wacana yang kalimat-kalimatnya mempunyai kedudukan yang tidak
sederajat.
Contoh:
1)
Deduktif,
yaitu wacana yang kelaimat utamanya berada di awal wacana.
Contoh:
Ada tiga hal
yang harus kita kuasai kalau kita ingin mengarang. Pertama, kita
harus menguasai bahan yang akan ditulis menjadi karangan. Kedua, kita harus
me-nguasai bahasa yang akan digunakan untuk mengarang. Ketiga, kita harus
menguasai teknik mengarang
Beberapa tahun
yang lalu guru SD Kabupaten Semarang mengikuti pelatihan penyusunan sinopsis. Pelatihan itu
diadakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Tempatnya
di SD Bergas Lor I Klepu. Letak SD Bergas Lor itu sangat strategis, yaitu di
tepi jalan besar Semarang – Bawen.
2)
Induktif,
yaitu wacana yang letak kalimat utamanya berada di akhir wacana.
Contoh:
Pada tahun yang lalu yang menjadi juara
lomba penyusunan sinopsis adalah guru SD dari Kabupaten Semarang. Begitu juga
dua tahun yang lalu. Bahkan sebelumnya juara itu juga dari Kabupaten Semarang. Kalau begitu, guru dari Kabupaten Semarang
sudah tiga kali menjadi juara sinopsis.
3)
Ineratif,
yaitu wacana yang letak kalimat utmanya berada di tengah wacana.
Contoh:
Pada tahun yang lalu yang menjadi juara
lomba penyusunan sinopsis adalah guru SD dari Kabupaten Semarang. Begitu juga
dua tahun yang lalu. Bahkan sebelumnya juara itu juga dari Kabupaten Semarang. Kalau begitu, guru dari Kabupaten Semarang
sudah tiga kali menjadi juara sinopsis. Rupanya kejuaraan itu akan
dipertahankan juga pada tahun ini.
4)
Campuran,
yaitu wacana yang letak kalimat utamanya berada di awal dan di akhir wacana.
Contoh:
Ada tiga hal
yang harus dilakukan kalau kita ingin mengarang. Pertama, kita
harus merumuskan topik. Kemu-dian topik
itu kita analisis; unsur-unsurnya kita susun menjadi kerangka. Selanjutnya,
butir-butir kerangka itu kita jabarkan menjadi paragraf-paragraf. Itulah langkah-langkah yang harus dilakukan
kalau kita hendak mengarang.
No comments:
Post a Comment