Sunday, October 20, 2019

Wacana


Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap. Dalam dengan hierarki gramatikal, wacana merupakan satuan gramatikal tertinggi dan terbesar. Persyaratan gramatikal dalam wacana dapat dipenuhi kalau dalam wacana itu sudah terbina kekohesian dan kekoherensian. Kekohesian yaitu adanya keserasian antara unsur-unsur yang ada dalam wacana tersebut, sedangkan kekoherensian yaitu isi wacana yang apik dan benar.
Beberapa hal yang perlu dicermati dalam wacana adalah sebagai berikut.
·         Wacana adalah satuan tuturan yang menyatakan suatu ideatau gagasan dengan satu kalimat atau lebih disertai dengan konteks tertentu (verbal atau nonverbal)
·         Topik adalah sesuatu yang disampaikan melalui wacana.
·         Konteks adalah sesuatu yang mendukung atau memperjelas kalimat di dalam menyampaikan topik.
·         Konteks verbal adalah konteks yang berupa bahasa.
·         Konteks nonverbal adalah konteks non bahasa, seperti konteks sosial, kultural, mental, dll.
Wacana yang baik harus bersifat kohesif dan koheren. Macam-macam alat gramatikal untuk membuat sebuah wacana menjadi kohesif dan koheren dapat dirinci sebagai berikut.
1)      Substitusi (penggantian, kata-kata yang sama diganti dengan kata gantinya.
Contoh: Amir sedang menangis. Pagi ini dia tidak diberi uang saku oleh ibunya.
2)      Repetisi (pengulangan, mengulang kata-kata yang sama.
Contoh: Hari ini saya harus membersihkan kelas. Hari ini pula saya harus menemani ibu yang sedang sakit.
3)      Elipsis (pelesapan), menghilangkan kata-kata yang sama.
Contoh: Bunga itu sedang mekar. Harum dan wangi menyebar ke mana-mana.
4)      Aditif (penambahan), memberikan keterangan tambahan.
Contoh: Hari ini saya membersihkan kelas. Setelah itu, saya menyau halaman.
5)      Kontradiktif (pertentangan), mempertentangkan dengan pernyataan semula.
Contoh: Hari ini hujan deras. Namun demikian, ia tetap berangkat ke sekolah.
6)      Kausatif (sebab akibat), menjelaskan sebab atau akibat pernyataan semula.
Contoh: Hari ini hujan deras. Karena itu, saya tidak berangkat ke sekolah.
7)      Deduktif Induktif, menggunakan hubungan spesifik-generik atau generik-spesifik.
8)      Komparatif, menggunakan hubungan perbandingan antara isi kedua bagian kalimat.

1)      Jenis wacana
a)      Wacana dilihat dari nilai sastra
a.       Wacana Sastra, yaitu wacana yang dibentuk dengan kalimat-kalimat yang bernilai sastra.
b.      Wacana Non-Sastra, yaitu wacana yang dubentuk  dengan kalimat-kalimat yang tidak  bernilai sastra

b)      Wacana dilihat dari cara penyajiannya
a.       Wacana Monolog, yaitu yaitu wacana yang disajikan tanpa adanya percakapan atau dialog.
b.      Wacana Dialog, yaitu wacana yang disajikan dengan  percakapan atau dialog.

c)      Wacana dilihat dari medianya
a.       Wacana Tulis, yaitu wacana yang disajikan secara tertulis.
b.      Wacana Lisan, yaitu wacana yang disajikan secara lisan.

4.      Wacana dilihat dari kedudukan kalimatnya
a.       Wacana Koordinatif, yaitu wacana yang kalimat-kalimatnya mempunyai kedudukan yang sederajat.
Contoh:
Langkah pertama menyusun sinopsis ialah menelaah isi buku yang akan dijadikan sinopsis. Langkah kedua ialah menuliskan kerangka pokok isi buku itu. Langkah ketiga ialah mengambil bagian-bagian uraian yang penting dari buku itu. Bagian-bagian itu ditata sesuai dg kerangka buku. Selanjutnya ringkasan itu diketik.
b.      Wacana Subordinatif, yaitu wacana yang kalimat-kalimatnya mempunyai kedudukan yang tidak sederajat.
Contoh:
1)      Deduktif, yaitu wacana yang kelaimat utamanya berada di awal wacana.
Contoh:
Ada tiga hal yang harus kita kuasai kalau kita ingin mengarang. Pertama, kita harus menguasai bahan yang akan ditulis menjadi karangan. Kedua, kita harus me-nguasai bahasa yang akan digunakan untuk mengarang. Ketiga, kita harus menguasai teknik mengarang

Beberapa tahun yang lalu guru SD Kabupaten Semarang mengikuti pelatihan penyusunan sinopsis. Pelatihan itu diadakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Tempatnya di SD Bergas Lor I Klepu. Letak SD Bergas Lor itu sangat strategis, yaitu di tepi jalan besar Semarang – Bawen.
2)      Induktif, yaitu wacana yang letak kalimat utamanya berada di akhir wacana.
Contoh:
Pada tahun yang lalu yang menjadi juara lomba penyusunan sinopsis adalah guru SD dari Kabupaten Semarang. Begitu juga dua tahun yang lalu. Bahkan sebelumnya juara itu juga dari Kabupaten Semarang. Kalau begitu, guru dari Kabupaten Semarang sudah tiga kali menjadi juara sinopsis.
3)      Ineratif, yaitu wacana yang letak kalimat utmanya berada di tengah wacana.
Contoh:
Pada tahun yang lalu yang menjadi juara lomba penyusunan sinopsis adalah guru SD dari Kabupaten Semarang. Begitu juga dua tahun yang lalu. Bahkan sebelumnya juara itu juga dari Kabupaten Semarang. Kalau begitu, guru dari Kabupaten Semarang sudah tiga kali menjadi juara sinopsis. Rupanya kejuaraan itu akan dipertahankan juga pada tahun ini.
4)      Campuran, yaitu wacana yang letak kalimat utamanya berada di awal dan di akhir wacana.
Contoh:
Ada tiga hal yang harus dilakukan kalau kita ingin mengarang. Pertama, kita harus merumuskan topik.  Kemu-dian topik itu kita analisis; unsur-unsurnya kita susun menjadi kerangka. Selanjutnya, butir-butir kerangka itu kita jabarkan menjadi paragraf-paragraf. Itulah langkah-langkah yang harus dilakukan kalau kita hendak mengarang.

No comments:

Post a Comment

Alat Transportasi Populer

  Transportasi merupakan kegiatan yang sangat penting bagi manusia. Transportasi adalah aktivitas yang melibatkan pemindahan atau pengangkut...