Bahasa yang baik, jernih dan santun, menunjukkan kebaikan, kejernihan dan kesantunan jiwa penuturnya. Demikian pula, jiwa seseorang penutur yang kacau,
kotor dan kasar biasanya
diekspresikan dengan bahasa yang
rancu, kotor dan kasar pula.Psikis atau
kejiwaan seseorang berhubungan dengan proses berpikir yang pada akhirnya akan menentukan
tingkah laku seseorang. Proses berpikir atau proses akal seseorang itu biasanya diwujudkan dengan menggunakan bahasa, karena bahasa merupakan suatu syarat untuk dapat berpikir.
Dengan kata lain, bahwa proses akal atau proses pikiran seseorang itu
tergantung pada bahasanya, artinya struktur bahasanyalah yang menentukan proses
akal atau struktur pikiran seseorang (Teori Wilhlm von Humboldt, 1838, dan
Sapir-Whorf, 1949). Namun, ada juga yang berpendapat sebaliknya, bahwa proses
akal atau proses pikiran itulah yang menentukan aspek-aspek
kebahasaan seseorang
(teori pertumbuhan kognisi dan Piaget, 1962). Jadi, jelaslah bahwa ada kaitan
yang sangat erat antara bahasa dan gejala psikis atau kejiwaan seseorang.
![]() |
| https://darmawanaji.com |
Dalam
kehidupan sehari-hari, kejiwaan seseorang dinilai dari bagaimana mereka
berbahasa. Bahasa yang baik, jernih, dan santun mencerminkan kebaikan, kejernihan,
dan kesantunan jiwa penuturnya. Demikian juga, jiwa seorang yang kotor, kacau,
kasar, dan tidak tahu sopan santun biasanya diekspresikan dengan bahasa yang
rancu, kotor, kasar, dan tak santun juga. Eratnya hubungan antara bahasa dan
kejiwaan, dalam berbagai bahasa daerah dijadikan suatu pepatah atau nasihat
yang intinya menerangkan bahwa baik buruknya jiwa seseorang itu tergantung pada
baik buruknya bahasa atau kata-kata yang digunakannya. Dalam bahasa Jawa
dikatakan “Ajining diri saka lathi”
(seseorang dihargai dari ucapannya). Maka, tepatlah jika dikatakan bahwa bahasa
itu merupakan pencerminan jiwa penuturnya.
Semarang, 23 Oktober 2019
Sholihul Hadi

No comments:
Post a Comment