Wednesday, October 23, 2019

Tahapan Pemerolehan Bahasa


Sumber Gambar : https://www.wyethnutrition.co.id
Menurut Piaget dan Vygotsky (dalam Tarigan, 1988), tahap-tahap perkembangan bahasa anak adalah sebagai berikut:


a.      Tahap Meraban (Pralinguistik) pertama (usia 0,0-0,5)
Pada tahap meraban pertama, selama bulan-bulan awal kehidupan, bayi-bayimenangis, mendekut, mendenguk, menjerit, dan tertawa.  Tahapan anak pada usia ini adalah sebagai berikut :
·         Tahap 0-2 minggu
Pada tahap ini anak sudah dapat menghadapkan muka ke arah suara. Meraka sudah dapat membedakan suara manusia dengan suara lainnya, seperti bel, bunyig emerutuk, dan peluit. Mereka akan berhenti menangis jika mendengar orang berbicara.
·         Tahap 1-2 bulan
Pada tahap ini mereka sudah dapat membedakan suku kata, seperti (bu) dan (pa), mereka bisa merespon secara berbeda terhadap kualitas emosional suara manusia. Misalnya suara marah membuat dia menangis, sedangkan suara yang ramah membuat dia tersenyum dan mendekat (seperti suara merpati).
·         Tahap 3-4 bulan
Pada tahap ini mereka sudah dapat membedakan suara laki-laki dan perempuan.
·         Tahap 6 bulan
Pada tahap ini mereka mulai memperhatikan intonasi dan ritme dalam ucapan, mulai meraban (mengoceh) dengan suara melodis.
Jadi, pada tahap ini perkembangan yang mencolok adalah perkembangan comprehension (komprehensi) artinya penggunaan bahasa secara pasif.

b.      Tahap Meraban (Pralinguistik) Kedua: Kata nonsense (usia 0,5-1,0)
Pada tahap ini anak mulai aktif artinya secara fisik. Ia sudah dapat melakukan gerakan-gerakan seperti memegang dan mengangkat benda atau menunjuk. Berkomunikasi dengan mereka mulai mengasyikkan karena mereka mulai aktif dalam komunikasi. Tahapannya seperti berikut :
        Tahap 5-6 bulan
Dari segi komprehensi kemampuan bahasa anak semakin baik dan luas, anak semakin mengerti beberapa makna kata, misalnya nama (diri sendiri atau panggilan ayah dan ibunya), larangan, perintah dan ajakan (misalnya permainan “ciluk baa”). Hal ini menunjukkan bahwa bayi sudah dapat memahami ujaran orang dewasa. Di samping itu bayi mulai dapat melakukan gerakan-gerakan seperti mengangkat benda dan secara spontan memperlihatkannya kepada orang lain. Tahap ini disebut juga kata omong kosong, tahap kata tanpa makna. Ciri-ciri lain yang menarik selain yang telah disebutkan tadi adalah ocehan, seringkali dihasilkan dengan intonasi, kadang-kadang dengan tekanan menurun yang ada hubungannya dengan pertanyaan-pertanyaan. Pada tahap mengoceh ini (babbling) bayi mengeluarkan bunyi-bunyi yang makin bertambah variasinya dan semakin kompleks kombinasinya. Mereka mengombinasikan vokal dengan konsonan menjadi struktur yang mirip dengan silabik (suku kata), misal: ma-ma-ma, ba-ba-ba, pa-pa-pa, da-da-da-da dsb.
        Tahap 7-8 bulan
Pada tahap ini orang tua sudah bisa mengenalkan hal hal baru bagi anaknya, artinya anak sudah bisa mengenal bunyi kata untuk objek yang sering diajarkan dan  dikenalkan oleh orang tuanya secara berulang-ulang. Orang dewasa biasanya mulai menggunakan gerakan-gerakan isyarat seperti menunjuk. Gerakan ini dilakukan untuk menarik perhatian anak karena si ibu ingin menunjukkan sesuatu dan menawarkan sesuatu yang baru dan menarik. Kemampuan anak untuk merespons apa yang dikenalkan secara berulang-ulang pun semakin baik, misalnya melambaikan tangan ketika ayahnya atau orang yang dikenalnya akan pergi, bertepuk tangan, menggoyang-goyangkan tubuhnya ketika mendengar nyanyian.
        Tahap 8 bulan-1 tahun
Setelah anak melewati periode mengoceh, anak mulai mencoba mengucapkan segmen-segmen fonetik berupa berupa suku kata kemudian baru berupa kata. Misalnya bunyi “bu” kemudian “bubu” dan terakhir baru dapat mengucapkan kata “ibu”. Contoh lain adalah “pa”, “empah” baru kemudian anak dapat memanggil ayahnya “papa”atau “bapak”. Pada tahap ini anak sudah dapat berinisiatif memulai komunikasi. Ia selalu menarik perhatian orang dewasa, selain mengoceh ia pun pandai menggunakan bahasa isyarat. Misalnya dengan cara menunjuk atau meraih benda-benda. Anak pada periode ini dapat mengucapkan beberapa suku kata yang mungkin merupakan reaksi terhadap situasi tertentu atau orang tertentu sebagai awal suatu simbolisasi karena kematangan proses mental (kognitif). Dengan kata lain kepandaian anak semakin meningkat.

c.       Tahap Linguistik I: Holofrastik;Kalimat Satu Kata (usia 1,0-2,0)
Pada usia 1-2 tahun masukan kebahasaan berupa pengetahuan anak tentang kehidupan di sekitarnya semakin banyak, misalnya nama-nama keluarga, binatang, mainan, makanan, kendaraan, perabot rumah tangga, jenis-jenis pekerjaan dan sebagainya. Faktor-faktor masukan inilah yang memungkinkan anak memperoleh semantik (makna kata) dan kemudian secara bertahap dapat mengucapkannya. Pada tahap ini anak sudah mulai mengucapkan satu kata. Menurut Tarigan (1985) ucapan-ucapan satu kata pada periode ini disebut holofrase/holofrastik karena anak-anak menyatakan makna keseluruhan frase atau kalimat dalam satu kata yang diucapkannya itu. Contohnya adalah kata “asi“ (maksudnya nasi) dapat berarti dia ingin makan nasi, dia sudah makan nasi, nasi ini tidak enak atau yang lainnya. Agar kita dapat memahami maksud yang sesungguhnya, kita harus mencermati keadaan anak dan lingkungan pada saat ucapan satu kata itu diucapkan. Orang dewasa harus paham bahwa pada tahap holofrasa ini, ingatan dan alat ucap anak belum cukup matang untuk mengucapkan satu kalimat yang terdiri dari dua kata atau lebih. Pada tahap ini gerakan fisik seperti menyentuh, menunjuk, mengangkat benda dikombinasikan dengan satu kata. Dapat dikatakan bahwa kata dan gerak sama pentingnya bagi anak pada tahap holofrasa ini.
Ada pun kata-kata pertama yang diucapkan berupa objek atau kejadian yang sering ia dengar dan ia lihat. Contoh kata-kata pertama yang biasanya dikuasi anak adalah pipis (buang air kecil), mamam atau maem (makan), dadah sambil malambaikan tangan, mah (mamah), pak (bapak), bo (tidur). Kata-kata yang biasanya digunakan untuk bertanya adalah apa, kenapa, sedangkan kata-kata perintah  sini, sana, lihat; dengan pengucapan yang tidak sama untuk tiap anak. Kata-kata yang digunakan untuk meminta adalah lagi, mau, dan minta (ini pun dengan pengucapan yang berbeda untuk tiap anak). Pada tahap ini anak mengalami kesulitan mengucapkan bunyi tertentu seperti r, s, k, j, dan t. Oleh karena itu, pengucapan mereka beragam dan tidak sama percis dengan ucapan orang dewasa.

d.      Tahap Lingistik II: Kalimat Dua Kata (usia 2,0-3,0)
Tahap linguistik kedua ini biasanya mulai menjelang hari ulang tahun kedua. Anak-anak memasuki tahap ini dengan pertama sekali mengucapkan dua holofrase dalam rangkaian yang cepat (Tarigan, 1980). Misalnya mama masak, adik minum, papa pigi (ayah pergi), baju kakak dan sebagainya. Ucapan-ucapan ini pun, mula-mula tidak jelas seperti ”di“ maksudnya adik, kemudian anak berhenti sejenak, lalu melanjutkan “num” maksudnya minum. Maka berikutnya muncul kalimat, “adik minum”. Keterampilan anak pada tahap ini makin meningkat. Komunikasi yang ingin ia sampaikan adalah bertanya dan meminta. Kata-kata yang digunakan untuk itu sama seperti perkembangan awal, yaitu sini, sana, lihat, itu, ini, lagi, mau, dan minta. Selain keterampilan mengucapkan dua kata, ternyata pada periode ini si anak terampil melontarkan kombinasi antara informasi lama dan baru. Pada periode ini tampak sekali kreativitas anak. Keterampilan tersebut muncul pada anak dikarenakan makin bertambahnya pembendaharaan kata yang diperoleh dari lingkungannya dan juga karena perkembangan kognitif serta fungsi biologis pada anak.

e.      Tahap Linguistik III: Pengembangan Tata Bahasa (usia 3,0-4,0)
Pada umumnya pada tahap ini, anak-anak telah mulai menggunakan elemen-elemen tata bahasa yang lebih rumit, seperti pola-pola kalimat sederhana, kata-kata tugas (di, ke, dari, ini, itu, dan sebagaainya), penjamakan, pengimbuhan, terutama awalan dan akhiran yang mudah dan bentuknya sederhana. Periode ini disebut juga periode diferensiasi. Menurut Marat (1983) ada beberapa keterampilan mencolok yang dikuasai anak pada tahap ini, yaitu:
        Pada akhir periode ini secara garis besar anak telah menguasai bahasa ibunya, artinya kaidah-kaidah tata bahasa yang utama dari orang dewasa telah dikuasai.
        Perbendaharaan kata berkembang, beberapa pengertian abstrak, seperti pengertian waktu, ruang, dan jumlah yang diinginkan mulai muncul.
        Mereka mulai dapat membedakan kata kerja (contoh: minum, makan, masak, pergi, pulang, mandi), dan kata-kata benda (buku, baju, gelas, nasi, susu) dan sudah dapat mempergunakan kata depan (di, ke, dari), kata ganti ( aku, saya) dan kata kerja bantu (tidak, bukan, mau, sudah, dsb.).
        Fungsi bahasa untuk berkomunikasi betul-betul mulai berfungsi; anak sudah dapat mengadakan konversasi (percakapan) dengan cara yang dapat dimengerti oleh orang dewasa.
        Persepsi anak dan pengalamannya tentang duania luar mulai ingin dibaginya dengan orang lain, dengan cara memberikan kritik, bertanya, menyuruh, memberi tahu, dan lain-lain.
        Tumbuhnya kreativitas anak dalam pembentukan kata-kata baru. Gejala ini merupakan cara anak untuk mempelajari perkataan baru dengan cara bermain-main. Hal ini terjadi karena memang daya fantasi anak pada tahap ini sedang pesat berkembang.

f.        Tahap Linguistik IV: Tata Bahasa Pra-Dewasa (usia 4,0-5,0)
Pada tahap ini anak-anak sudah mulai menerapkan struktur tata bahasa dan kalimat-kalimat yang agak lebih rumit. Misalnya kalimat majemuk sederhana seperti di bawah ini:
        mau nonton sambil makan keripik
        aku di sini, kakak di sana
        mama beli sayur dan kerupuk
        kakak, adik dari mana

Kemampuan anak dalam bercakap-cakap terlihat sudah terampil. Kemampuan menghasilkan kalimat-kalimatnya sudah beragam, ada kalimat pernyataan/kalimat berita, kalimat perintah, dan kalimat tanya. Menurut Tarigan (1985), walaupun anak-anak sudah dianggap mampu menyusun kalimat kompleks, tetapi mereka masih membuat kesalahan-kesalahan. Kesalahan tersebut dalam hal menyusun kalimat, memilih kata dan imbuhan yang tepat.

Pada tahap ini anak sudah tidak mengalami kesulitan dalam mengucapkan bunyi-bunyi suara. Menurut Clark (1977) pada tahap ini anak masih mengalami kesulitan bagaimana memetakan ide ke dalam bahasa. Maksudnya adalah Si Anak mengalami kesulitan dalam mengungkapkan pikirannya ke dalam kata-kata yang bermakna. Hal ini karena anak memiliki ketebatasan-keterbatasan seperti pengusaan struktur tata bahasa, kosa kata, dan imbuhan. Pada tahap ini anak-anak sulit mengucapkan kata-kata yang tidak muncul dari hati nuraninya, tetapi pada dasarnya anak-anak senang mempelajari sesuatu.

g.      Tahap Linguistik V: Kompetensi Penuh (usia 5,0-6,0)
Sekitar usia 5-7 tahun, anak-anak mulai memasuki tahap yang disebut sebagai kompetensi penuh. Sejak usia 5 tahun pada umumnya anak-anak yang perkembangannya normal telah menguasai elemen-elemen sintaksis bahasa ibunya dan telah memiliki kompetensi (pemahaman dan produktivitas bahasa) secara memadai. Meskipun perbendaharaan katanya masih terbatas, tetapi terus berkembang/bertambah dengan kecepatan yang mengagumkan.

No comments:

Post a Comment

Alat Transportasi Populer

  Transportasi merupakan kegiatan yang sangat penting bagi manusia. Transportasi adalah aktivitas yang melibatkan pemindahan atau pengangkut...