![]() |
| Sumber Gambar : https://www.wyethnutrition.co.id |
a.
Tahap Meraban
(Pralinguistik) pertama (usia 0,0-0,5)
Pada tahap meraban
pertama, selama bulan-bulan awal kehidupan, bayi-bayimenangis, mendekut,
mendenguk, menjerit, dan tertawa.
Tahapan anak pada usia ini adalah sebagai berikut :
·
Tahap 0-2 minggu
Pada
tahap ini anak sudah dapat menghadapkan muka ke arah suara. Meraka sudah dapat
membedakan suara manusia dengan suara lainnya, seperti bel, bunyig emerutuk,
dan peluit. Mereka akan berhenti menangis jika mendengar orang berbicara.
·
Tahap 1-2 bulan
Pada
tahap ini mereka sudah dapat membedakan suku kata, seperti (bu) dan (pa),
mereka bisa merespon secara berbeda terhadap kualitas emosional suara manusia.
Misalnya suara marah membuat dia menangis, sedangkan suara yang ramah membuat
dia tersenyum dan mendekat (seperti suara merpati).
·
Tahap 3-4 bulan
Pada
tahap ini mereka sudah dapat membedakan suara laki-laki dan perempuan.
·
Tahap 6 bulan
Pada
tahap ini mereka mulai memperhatikan intonasi dan ritme dalam ucapan, mulai meraban
(mengoceh) dengan suara melodis.
Jadi, pada tahap ini
perkembangan yang mencolok adalah perkembangan comprehension (komprehensi) artinya penggunaan bahasa secara pasif.
b.
Tahap Meraban
(Pralinguistik) Kedua: Kata nonsense (usia 0,5-1,0)
Pada tahap ini anak
mulai aktif artinya secara fisik. Ia sudah dapat melakukan gerakan-gerakan
seperti memegang dan mengangkat benda atau menunjuk. Berkomunikasi dengan
mereka mulai mengasyikkan karena mereka mulai aktif dalam komunikasi.
Tahapannya seperti berikut :
•
Tahap 5-6 bulan
Dari segi
komprehensi kemampuan bahasa anak semakin baik dan luas, anak semakin mengerti
beberapa makna kata, misalnya nama (diri sendiri atau panggilan ayah dan
ibunya), larangan, perintah dan ajakan (misalnya permainan “ciluk baa”). Hal ini
menunjukkan bahwa bayi sudah dapat memahami ujaran orang dewasa. Di samping itu
bayi mulai dapat melakukan gerakan-gerakan seperti mengangkat benda dan secara
spontan memperlihatkannya kepada orang lain. Tahap ini disebut juga kata omong
kosong, tahap kata tanpa makna. Ciri-ciri lain yang menarik selain yang telah
disebutkan tadi adalah ocehan, seringkali dihasilkan dengan intonasi,
kadang-kadang dengan tekanan menurun yang ada hubungannya dengan
pertanyaan-pertanyaan. Pada tahap mengoceh ini (babbling) bayi mengeluarkan bunyi-bunyi yang makin bertambah
variasinya dan semakin kompleks kombinasinya. Mereka mengombinasikan vokal
dengan konsonan menjadi struktur yang mirip dengan silabik (suku kata), misal:
ma-ma-ma, ba-ba-ba, pa-pa-pa, da-da-da-da dsb.
•
Tahap 7-8 bulan
Pada
tahap ini orang tua sudah bisa mengenalkan hal hal baru bagi anaknya, artinya
anak sudah bisa mengenal bunyi kata untuk objek yang sering diajarkan dan dikenalkan oleh orang tuanya secara
berulang-ulang. Orang dewasa biasanya mulai menggunakan gerakan-gerakan isyarat
seperti menunjuk. Gerakan ini dilakukan untuk menarik perhatian anak karena si
ibu ingin menunjukkan sesuatu dan menawarkan sesuatu yang baru dan menarik.
Kemampuan anak untuk merespons apa yang dikenalkan secara berulang-ulang pun
semakin baik, misalnya melambaikan tangan ketika ayahnya atau orang yang
dikenalnya akan pergi, bertepuk tangan, menggoyang-goyangkan tubuhnya ketika
mendengar nyanyian.
•
Tahap 8 bulan-1
tahun
Setelah
anak melewati periode mengoceh, anak mulai mencoba mengucapkan segmen-segmen
fonetik berupa berupa suku kata kemudian baru berupa kata. Misalnya bunyi “bu”
kemudian “bubu” dan terakhir baru dapat mengucapkan kata “ibu”. Contoh lain
adalah “pa”, “empah” baru kemudian anak dapat memanggil ayahnya “papa”atau
“bapak”. Pada tahap ini anak sudah dapat berinisiatif memulai komunikasi. Ia
selalu menarik perhatian orang dewasa, selain mengoceh ia pun pandai
menggunakan bahasa isyarat. Misalnya dengan cara menunjuk atau meraih
benda-benda. Anak pada periode ini dapat mengucapkan beberapa suku kata yang
mungkin merupakan reaksi terhadap situasi tertentu atau orang tertentu sebagai
awal suatu simbolisasi karena kematangan proses mental (kognitif). Dengan kata
lain kepandaian anak semakin meningkat.
c.
Tahap Linguistik
I: Holofrastik;Kalimat Satu Kata (usia 1,0-2,0)
Pada usia 1-2 tahun
masukan kebahasaan berupa pengetahuan anak tentang kehidupan di sekitarnya
semakin banyak, misalnya nama-nama keluarga, binatang, mainan, makanan,
kendaraan, perabot rumah tangga, jenis-jenis pekerjaan dan sebagainya. Faktor-faktor
masukan inilah yang memungkinkan anak memperoleh semantik (makna kata) dan
kemudian secara bertahap dapat mengucapkannya. Pada tahap ini anak sudah mulai
mengucapkan satu kata. Menurut Tarigan (1985) ucapan-ucapan satu kata pada
periode ini disebut holofrase/holofrastik karena anak-anak menyatakan makna
keseluruhan frase atau kalimat dalam satu kata yang diucapkannya itu. Contohnya
adalah kata “asi“ (maksudnya nasi) dapat berarti dia ingin makan nasi, dia
sudah makan nasi, nasi ini tidak enak atau yang lainnya. Agar kita dapat
memahami maksud yang sesungguhnya, kita harus mencermati keadaan anak dan
lingkungan pada saat ucapan satu kata itu diucapkan. Orang dewasa harus paham
bahwa pada tahap holofrasa ini, ingatan dan alat ucap anak belum cukup matang
untuk mengucapkan satu kalimat yang terdiri dari dua kata atau lebih. Pada
tahap ini gerakan fisik seperti menyentuh, menunjuk, mengangkat benda
dikombinasikan dengan satu kata. Dapat dikatakan bahwa kata dan gerak sama
pentingnya bagi anak pada tahap holofrasa ini.
Ada pun kata-kata
pertama yang diucapkan berupa objek atau kejadian yang sering ia dengar dan ia
lihat. Contoh kata-kata pertama yang biasanya dikuasi anak adalah pipis (buang air kecil), mamam atau maem (makan), dadah sambil
malambaikan tangan, mah (mamah), pak (bapak), bo (tidur). Kata-kata yang biasanya digunakan untuk bertanya adalah
apa, kenapa, sedangkan kata-kata
perintah sini, sana, lihat; dengan pengucapan yang tidak sama untuk tiap
anak. Kata-kata yang digunakan untuk meminta adalah lagi, mau, dan minta (ini
pun dengan pengucapan yang berbeda untuk tiap anak). Pada tahap ini anak
mengalami kesulitan mengucapkan bunyi tertentu seperti r, s, k, j, dan t. Oleh
karena itu, pengucapan mereka beragam dan tidak sama percis dengan ucapan orang
dewasa.
d.
Tahap Lingistik
II: Kalimat Dua Kata (usia 2,0-3,0)
Tahap linguistik
kedua ini biasanya mulai menjelang hari ulang tahun kedua. Anak-anak memasuki
tahap ini dengan pertama sekali mengucapkan dua holofrase dalam rangkaian yang
cepat (Tarigan, 1980). Misalnya mama
masak, adik minum, papa pigi (ayah pergi), baju kakak dan sebagainya. Ucapan-ucapan ini pun, mula-mula tidak
jelas seperti ”di“ maksudnya adik,
kemudian anak berhenti sejenak, lalu melanjutkan “num” maksudnya minum. Maka berikutnya muncul kalimat,
“adik minum”. Keterampilan anak pada tahap ini makin meningkat. Komunikasi yang
ingin ia sampaikan adalah bertanya dan meminta. Kata-kata yang digunakan untuk
itu sama seperti perkembangan awal, yaitu sini,
sana, lihat, itu, ini, lagi, mau, dan minta.
Selain keterampilan mengucapkan dua kata, ternyata pada periode ini si anak
terampil melontarkan kombinasi antara informasi lama dan baru. Pada periode ini
tampak sekali kreativitas anak. Keterampilan tersebut muncul pada anak
dikarenakan makin bertambahnya pembendaharaan kata yang diperoleh dari
lingkungannya dan juga karena perkembangan kognitif serta fungsi biologis pada
anak.
e.
Tahap Linguistik
III: Pengembangan Tata Bahasa (usia 3,0-4,0)
Pada umumnya pada
tahap ini, anak-anak telah mulai menggunakan elemen-elemen tata bahasa yang
lebih rumit, seperti pola-pola kalimat sederhana, kata-kata tugas (di, ke,
dari, ini, itu, dan sebagaainya), penjamakan, pengimbuhan, terutama awalan dan
akhiran yang mudah dan bentuknya sederhana. Periode ini disebut juga periode
diferensiasi. Menurut Marat (1983) ada beberapa keterampilan mencolok yang dikuasai
anak pada tahap ini, yaitu:
•
Pada akhir
periode ini secara garis besar anak telah menguasai bahasa ibunya, artinya
kaidah-kaidah tata bahasa yang utama dari orang dewasa telah dikuasai.
•
Perbendaharaan
kata berkembang, beberapa pengertian abstrak, seperti pengertian waktu, ruang,
dan jumlah yang diinginkan mulai muncul.
•
Mereka mulai
dapat membedakan kata kerja (contoh: minum, makan, masak, pergi, pulang,
mandi), dan kata-kata benda (buku, baju, gelas, nasi, susu) dan sudah dapat
mempergunakan kata depan (di, ke, dari), kata ganti ( aku, saya) dan kata kerja
bantu (tidak, bukan, mau, sudah, dsb.).
•
Fungsi bahasa
untuk berkomunikasi betul-betul mulai berfungsi; anak sudah dapat mengadakan
konversasi (percakapan) dengan cara yang dapat dimengerti oleh orang dewasa.
•
Persepsi anak dan
pengalamannya tentang duania luar mulai ingin dibaginya dengan orang lain,
dengan cara memberikan kritik, bertanya, menyuruh, memberi tahu, dan lain-lain.
•
Tumbuhnya
kreativitas anak dalam pembentukan kata-kata baru. Gejala ini merupakan cara
anak untuk mempelajari perkataan baru dengan cara bermain-main. Hal ini terjadi
karena memang daya fantasi anak pada tahap ini sedang pesat berkembang.
f.
Tahap Linguistik
IV: Tata Bahasa Pra-Dewasa (usia 4,0-5,0)
Pada tahap ini
anak-anak sudah mulai menerapkan struktur tata bahasa dan kalimat-kalimat yang
agak lebih rumit. Misalnya kalimat majemuk sederhana seperti di bawah ini:
•
mau nonton sambil
makan keripik
•
aku di sini,
kakak di sana
•
mama beli sayur
dan kerupuk
•
kakak, adik dari mana
Kemampuan anak dalam
bercakap-cakap terlihat sudah terampil. Kemampuan menghasilkan
kalimat-kalimatnya sudah beragam, ada kalimat pernyataan/kalimat berita,
kalimat perintah, dan kalimat tanya. Menurut Tarigan (1985), walaupun anak-anak
sudah dianggap mampu menyusun kalimat kompleks, tetapi mereka masih membuat
kesalahan-kesalahan. Kesalahan tersebut dalam hal menyusun kalimat, memilih
kata dan imbuhan yang tepat.
Pada tahap ini anak
sudah tidak mengalami kesulitan dalam mengucapkan bunyi-bunyi suara. Menurut
Clark (1977) pada tahap ini anak masih mengalami kesulitan bagaimana memetakan
ide ke dalam bahasa. Maksudnya adalah Si Anak mengalami kesulitan dalam
mengungkapkan pikirannya ke dalam kata-kata yang bermakna. Hal ini karena anak
memiliki ketebatasan-keterbatasan seperti pengusaan struktur tata bahasa, kosa
kata, dan imbuhan. Pada tahap ini anak-anak sulit mengucapkan kata-kata yang
tidak muncul dari hati nuraninya, tetapi pada dasarnya anak-anak senang
mempelajari sesuatu.
g.
Tahap Linguistik
V: Kompetensi Penuh (usia 5,0-6,0)
Sekitar usia 5-7 tahun, anak-anak mulai memasuki tahap
yang disebut sebagai kompetensi penuh. Sejak usia 5 tahun pada umumnya
anak-anak yang perkembangannya normal telah menguasai elemen-elemen sintaksis
bahasa ibunya dan telah memiliki kompetensi (pemahaman dan produktivitas
bahasa) secara memadai. Meskipun perbendaharaan katanya masih terbatas, tetapi
terus berkembang/bertambah dengan kecepatan yang mengagumkan.

No comments:
Post a Comment