Pada hari Sabtu, 26 Oktober 2019, kegiatan PKP di SMP 31 dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang. Dalam kesempatan tersebut Kepala Dinas menyampaikan pengarahan sekaligus materi pelatihan "Kebijakan Dinas Pendidikan". Beliau berharap dalam kegiatan ini semua peserta dapat mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh sehingga tujuan kegiatan untuk meningkatkan kompetensi guru bisa tercapai.
Wednesday, October 23, 2019
PKP Berbasis Zonasi
Dinas Pendidikan Kota Semarang mempunyai hajat besar pada bulan Oktober sampai November 2019 ini. Kegiatan tersebut bertajuk Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP) Berbasis Zonasi untuk beberapa mata pelajaran, termasuk Bahasa Indonesia. PKP Bahasa Indonesia untuk zona SMA 6 berpusat di SMP 31 dengan guru inti, Iin Sulistyawati, S.Pd. Kegiatan ini diikuti oleh 13 guru Bahasa Indonesia dari SR 07 dan 08 di Kota Semarang setiap hari Sabtu dari tanggal 19 Oktober s.d. 16 November 2019, pukul 07.30 s.d 16.30. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kompetensi guru dalam mengajar yang bermuara pada meningkatnya kompetensi lulusan dan nilai yang diperoleh pada saat ujian nasional.
Di Timur Indonesia?
![]() |
| Sumber Gambar : https://denisutamsah.wordpress.com |
Pagi, mengawali hari Minggu tanggal 20 Oktober 2019 aku membuka portal berita online. Ada satu judul yang menarik perhatianku. "Di Timur Indonesia, Avanza jadi Mobil Offroad", begitu bunyinya. Berita tersebut menceritakan ketangguhan mobil sejuta umat tersebut di jalan-jalan yang tidak teraspal mulus. Saya tidak ingin menyoroti isi beritanya, namun sebagai masyarakat bahasa, saya lebih tertarik dengan judul beritanya.
Saya tidak tahu persis mengapa penulis menggunakan frasa di timur Indonesia bukan Indonesia Timur. Frasa tersebut tidak salah, tetapi bisa menimbulkan kesalahpahaman. Menurut saya frasa timur Indonesia menunjuk pada wilayah di sebelah timur Indonesia, jadi tidak termasuk wilayah negara Indonesia. Padahal kalau saya cermati isi beritanya, yang dimaksud wilayah timur Indonesia oleh penulis adalah Papua. Papua masih termasuk Indonesia, kan. Mengapa tidak menggunakan frasa Indonesia Timur saja? Menurutr saya penggunaan Indonesia Timur lebih tepat karena frasa itu menunjuk pada wilayah Indonesia di sebelah timur, mencakupi Papua, Maluku, Nusa Tenggara, dan lain-lain.
Mohon maaf kalau samapai sekarang saya belum menemukan alasan, mengapa harus menggunakan frasa timur Indonesia. Atau barangkali ada kekhawatiran penggunaan Indonesia Timur akan menimbulkan kesan membeda-bedakan, mengkotak-kotakkan bangsa Indonesia? Tidak perlu cemas akan muncul perasaan membeda-bedakan dengan menggunakan Indonesia Timur karena sikap diskriminatif justru lebih sering muncul karena adanya persepsi dan asumsi yang salah terhadap saudara-saudara kita, bukan karena penggunaan istilah Indonesia Timur.
Sama halnya dengan frasa wanita pengusaha. Sebenarnya frasa wanita pengusaha dan pengusaha wanita dapat merujuk pada konsep yang sama, yaitu pengusaha yang berjenis kelamin wanita. Akan tetapi, frasa pengusaha wanita dapat juga diartikan sebagai pengusaha yang mempekerjakan wanita dengan konotasi yang kurang bagus. Oleh karena itu, untuk menghindari kesalahpahaman, sebaiknya tetap digunakan frasa wanita pengusaha untuk menunjuk semua wanita yang berprofesi sebagai pengusaha.
Demikian ungkapan keresahan saya. Semoga bermanfaat. Atau barangkali Anda pendapat lain? Sila berbagi di sini!
Semarang, 24 Oktober 2019
Sholihul Hadi
Telaah Stilistika pada Naskah Drama "Topeng"
![]() |
| Sumber Gambar : https://www.princegeorgecitizen.com |
Ada dua pembahasan stilistika dalam makalah
ini, yaitu secara umum dan secara khusus. Secara umum, artinya penganalisisan
pemakaian gaya bahasa yang tersirat dalam keseluruhan cerita, yang menyangkut
penokohan, tema, penceritaan, setting, dan pemaknaan cerita. Secara
khusus, artinya penganalisisan pemakaian gaya bahasa pada bahasa yang digunakan
pengarang dalam naskah lakon ‘’Festival Topeng’’.
3.1. Pembahasan secara umum
Naskah lakon ‘’Festival Topeng” melibatkan
banyak tokoh. Sebagai tokoh utama atau tokoh sentral dalam naskah ini adalah Mbah
Joyo. Karakter Mbah Joyo adalah orang yang misterius, sakti, dan menjadi pusat
perhatian dalam festival topneg. Sebagai tokoh bawahan ada beberapa orang,
yaitu Blentung ( anak Mbah Joyo), Mitro, Genggong, Laras, Lurah Jarkoni, Samiun,
Kasmun, Bawor, Gubil, Tuji, Kirno, Peang, Panjul, dan lain-lain. Tokoh-tokoh
bawahan tersebut mempunyai karakter yang beragam. Ada yang baik, culas,
penolong, pemberani, ngawur, dan lain-lain.
Tema yang diusung dalam ”Festival
Topeng” ini adalah kepalsuan. Topeng digunakan untuk menyampaikan pesan bahwa
ada kebenaran yang hakiki dalam setiap tampilan luar sikap dan ucapan
seseorang. Namun, kebenaran yang sebenarnya akan menjadi pemenang pada
akhirnya.
Gaya penceritaan pengarang cenderung
lugas. Dia menyampaikan semua permasalahan dalam cerita dengan bahasa yang
relatif mudah dipahami. Meski banyak menggunakan kata-kata atau ideom bahasa
daerah tertentu, secara keseluruhan kalimat dan dialog dalam naskah itu mudah dipahami.
Sesuai dengan asal pengarang, setting
yang digunakan dalam naskah drama ini banyak didominasi tempat dan budaya Jawa,
khusunya daerah Banyumas. Secara lebih khusus tempat-tempat yang menjadi latar
cerita dapat disebutkan sebagai berikut: desa, jalan, rumah Lurah Jarkoni, kamar tidur, dapur, dan lain-lain. Latar
waktunya ada malam hari, siang, sore, pagi.
Naskah drama ini dapat dijadikan
sebagai cermin kehidupan manusia sehari-hari. Kita dapat memetik banyak
pelajaran dari naskah ini. Sebagai manusia hendaknya bisa menjadi diri sendiri,
tidak mudah dipenaruhi oleh orang lain. Berbeda pendapat itu biasa. Setiap
kejahatan akan berakhir dengan kedukaan. Ketidakjujuran pada akhirnya akan
terbuka.
3.2. Pembahasan secara khusus
Naskah lakon ‘’Festival Topeng’’ karya
Budi Ros ini memanfaatkan berbagai diksi
dan gaya bahasa yang dapat menimbulkan
efek tertentu pada pembaca dan juga dapat menjaga estetika karya itu sendiri.
Secara garis besar, diksi dan gaya bahasa tersebut akan diuraikan sebagai
berikut.
3.2.1. Diksi
3.2.1.1. Pemanfaatan Kata Ganti
Disamping kata ganti orang yang biasa digunakan seperti saya, kamu, dia, ia, mereka, kita, kami,
pengarang juga menggunakan kata ganti yang secara khusus menyiratkan rasa
tertentu seperti situ dan sampeyan.
Mitro : Kok situ di ladang
Blentung : Kok situ juga di
pinggir ladang? Kalau saya kan petani, apa salahnya petani di ladang?
Kata situ menyiratkan ada jarak antara Mitro
dan Blentung. Meskipun sudah saling kenal, Mitro ingin membangun jarak dengan
menggunakan kata ganti situ untuk
menunjuk Blentung. Karena Mitro ingin membangun jarak, Blentung juga akhirnya
membangun jarak dengan kata ganti situ
juga.
Warti : Pada telat sih
sampean ….
Mijem : Iya, gara-gara
ini anak disuruh mandi malah rewel. Jadi lama, terus telat deh.
Kata sampean menyiratkan rasa pengormatan yang
tidak berlebihan. Artinya, Warti ingin menghormati Mijem dengan menggunakan
kata sampean bukan kamu tetapi
penghormatan ini tidak berlebihan karena Warti tidak menggunakan panjenengan.
3.2.1.2. Pemanfaatan Kata Sapaan
Kata sapaan adalah kata yang digunakan
untuk menyapa orang yang diajak bicara. Ada beberapa kata yang lazim digunakan
untuk menyapa, misalnya Bapak, Ibu, Anda, Saudara, Dokter, Profesor, dan
lain-lain. Dalam naskha drama ini, terdapat beberapa kata sapaan yang sudah
lazim tersebut dan beberapa kata sapaan yang secara khusus mengandung makna
tertentu.
Jarkoni : (LANGSUNG MENCIUM
TANGAN MAS GENGGONG SAMBIL JONGKOK. SAMI’UN MENGIKUTINYA DENGAN ENGGAN) Aduh
Kangmas, Mbakyu, mohon maaf baru kali ini bisa menengok. Bagaimana? Apa Kangmas
sudah sehat? Aduh, aduh ….
Genggong : Lo, Jarkoni? Sami’un?
Jarkoni : Iya, Kangmas.
Sami’un : Saya, Kangmas
Penggunaan
kata Kangmas dan Mbakyu menggambarkan bahwa Jarkoni dan Sami’un (meskipun enggan)
ingin mengormati Jarkoni dan isterinya. Penghormatan itu terasa agak berlebihan
bahkan terkesan ada keinginan menjilat dengan penjelasan pengarang melalui kata
jongkok. Penggunaan kata saya untuk Sami’un juga menyiratkan
penghambaan. Kesan-kesan itulah yang ingin disampaikan pengarang melalui dialog
ini.
Laras : Saking
khawatirnya sampai sakit, Dik Jarkoni.
Jarkoni : Tidak ada yang
perlu dikhawatirkan Mabkyu, Kangmas….
Penggunaan
kata Dik ini juga menggambarkan ada
suasana dekat tetapi tetap ada rasa
penghormatan kepada orang yang lebih muda.
3.2.1.3. Pemanfaatan Sinonim
Sinonim adalah dua kata atau lebih
yang mempunyai makna denotasi sama tetapi mempunyai makna konotasi yang
berbeda. Sinonim yang terdapat dalam naskah drama ini di antaranya terdapat
pada kutipan berikut ini.
Di pinggir jalan itu, tampat orang-orang
sedang bergerombol menonton dan menambah meriah suasana. Mereka saling
berbisik, mengomentari, menyoraki, dan mengolok. Juga mengumpat dan memaki.
Kata
menyoraki dan mengolok dapat dianggap sebagai kata yang bersinonim dalam konteks
tersebut. Meskipun kata menyoraki
belum tentu mengolok-olok, tetapi dalam suasana itu dapat dianggap sorakannya
bernada mengolok-olok.
Kata
mengumpat dan memaki pun dapat dianggap sebagai kata yang bersinonim karena dalam
setiap umpatan selalu ada nada makian.
3.2.1.4 Pemanfaatan
Ungkapan atau Ideom
Ungkapan atai
ideom adalah frasa yang bersifat beku, statis, tidak bisa berubah makna maupun
bentuknya. Untuk memperindah sebuah karya sastra, pengarang sering menggunakan
ungkapan atau ideom dalam karya sastranya.
Dalam naskah
drama ”Festival Topeng” terdapat beberapa ungkapan seperti yang tampak pada kutipan
sebagai berikut.
Semua ucapan itu serba spontan dan jujur sehingga
tak seorang pun sakit hati.
Frase sakit hati dalam kutipan di atas adalah
ungkapan karena sudah mempunyai makna khusus yang berbeda dengan makna asli
pembentuk frasa itu.
Mitro : ...
Padahal situ kan anak Mbah Joyo, rajanya festival sejak puluhan tahun lalu.
Frase rajanya
festival termasuk ungkapan karena paduan dua kata tersebut sudah mempunyai
arti baru yang berbeda dengan makna kata pembentuknya.
Mitro : …. Kita kan
kawan sejak masa kanak-kanak. Apa salahnya saling membuka hati
Frase
membuka hati juga termasuk ungkapan
atau ideom. Membuka hati artinya
adalah saling terbuka dalam menyampaikan isi hati, perasaan, atau pikiran.
Makna ini sudah berbeda dengan makna kata pembentuk frase membuka hati.
Genggong : …. Orang kalau punya
harapan –apalagi harapan yang muluk—kemudian harapan itu tidak terkabul, bisa
patah hati.
Frase patah hati termasuk ungkapan karena dua
kata tersebut sudah mempunyai makna baru.
3.2.1.5
Pemanfaatan Kata Daerah
Dalam naskah
drama ini banyak digunakan kata-kata yang berasal dari bahasa Jawa. Hal ini
bisa dipahami karena pengarangnya kebetulan lahir dan dibesarkan di tanah Jawa.
Kata-kata bahasa Jawa yang digunakan di antaranya adalah memedi, rada, ijo,
polah, buto ijo, Mbah, sampean, Kang, akur, telat, injih, grengseng, dan
lain-lain. Kata-kata itu tampak pada
kutipan berikut ini:
Kasmun : Buset !!! Topeng
apa itu, Parjan? Serem amat. Kayak memedi di sawah..
………………………………………………………………………………………………………..
Kasmun : Leluhur
siapa? Leluhur kita sudah lama mati, Parjan. Tradisi juga sudah lama sekarat,
tinggal nunggu koit. Kalau Sri Lestari masih ada. Di Jakarta dia jadi babu.
……………………………………………………………………………………………………….
Gubil : Wah, lihat
itu! Ada lagi yang aneh. Siapa itu? Rada bagus kelihatannya.
……………………………………………………………………………………………………….
Kasmun : O, kamu, Pono?
Lagaknya ikut-ikutan Festival Topeng. Bikin tanggul sawah saja belum lurus,
banyak polah.
………………………………………………………………………………………………………..
Bawor : Genderuwo
masih lebih bagus. Itu mirip buto ijo kecebur sawah, nggak jelas mana
jidat mana tengkuk.
………………………………………………………………………………………………………….
Tuji : Pasti dia penggemar Dasamuka.
……………………………………………………………………………………………………….....
Gubil : Ya, betul Dasamuka,
Si muka sepuluh, alias si boros muka. Eit, tunggu dulu. Itu Mbah Joyo,
bukan?
………………………………………………………………………………………………………….
Panjul : Sepakat. Akuur
…
………………………………………………………………………………………………………….
Kasmun : (RAGU JUGA) Injih Pak, paham ….
………………………………………………………………………………………………………….
Bawor : (BAWOR BERBISIK PADA GUBIL) Iya, yang dua kan
masih gudel.
Dalam
kutipan di atas terdapat istilah-istilah yang hanya ditemuai dalam bahasa Jawa,
misalnya polah, genderuwo, Dasamuka, mbah.
3.2.1.6
Pemanfaatan Kata Asing
Penggunaan kata asing atau kata
serapan memberikan kesan bahwa pengarang mempunyai wawasan yang luas, tidak
hanya mengenal budaya sendiri tetapi juga budaya asing. Penggunaan kata asing
juga menimbulkan kesan intelek. Kata-kata asing yang terdapat pada naskah drama
“Festival Topeng” di antaranya terdapat pada kutipan berikut ini:
Parjan : Menang kalah urusan belakangan, yang penting partisipasi.
Daripada kalian, sawah melulu yang diurus. Sekali-kali ikut festival
dong kayak saya. Ini hiburan sehat, rekreasi sekaligus melestarikan
budaya leluhur.
Kata
partisipasi, festival, dan rekreasi adalah kata serapan yang
diserap dari bahasa asing. Meskipun kata-kata tersebut sudah sering digunakan
dalam bahasa Indonesia, namun tetap mengesankan bahwa pengarang adalah
orang yang luas wawasannya. Penggunaan
kata asing dalam dalam dialog Parjan tersebut dipadukan dengan bahasa daerah.
Hal ini menyiratkan tokoh Parjan adalah tokoh yang cukup intelek dengan katar
belakang budaya daerah yang cukup kuat.
Penggunaan
kata-kata asing juga dapat ditemukan pada dialog berikut ini:
Ket. Panitia : ….
Tim juri bukanlah kelompok tandingan bagi penilaian masyarakat terhadap
festival lain, tetapi dimaksudkan sebagai “partner” kerja saudara-saudara.
Agar dalam memberikan penilaian nanti, saudara-saudara bisa lebih terarah,
lebih bijaksana, lebih fair, dan memuaskan semua pihak.
Kata
asing yang dapat ditemukan dalam kutipan tersebut adalah partner, festival, dan fair.
Sebenarnya kata-kata tersebut ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Akan
tetapi, karena pengarang ingin memberikan kesan intelek, dia menggunakan
kata-kata tersebut dalam dialog itu.
3.2.2. Pemanfaatan Gaya Bahasa
3.2.2.1 Gaya Bahasa Paradoks
Paradoks adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu secara
berlawanan, tetapi sebenarnya tidak apabila dicermati dan dipikir dengan
sungguh-sungguh. Majas paradoks tampak dalam kalimat berikut ini:
Di pinggir jalan itu, tampat
orang-orang sedang bergerombol menonton dan menambah meriah suasana. Mereka
saling berbisik, mengomentari, menyoraki, dan mengolok. Juga mengumpat dan
memaki. Semua ucapan itu serba spontan dan jujur sehingga tak seorang pun sakit
hati.
Kutipan di atas menyiratkan ada sesuatu
yang bertentangan.Mestinga olokan, umpatan, makian akan mengakibatkan orang
lain akan sakit hati. Ternyata dalam kutipan itu dinyatakan bahawa hal itu
tidak menimbulkan kesakithatian. Ini dianggap sebagai suatu pertentangan.
3.2.2.2 Pleonasme
Pleonasme
adalah gaya bahasa yang berlebihan dengan menggunakan kata-kata yang tidak
perlu. Kesan yang diinginkan pengerang adalah penekanan pada maksud pengarang.
Gaya bahasa pleonasme terlihat pada kutipan berikut ini:
Ket. Panitia : ….
Saya tidak akan berpanjang lebar sebab segala sesuatunya sesungguhnya sudah
jelas.
Penggunaan
kata berpanjang lebar terasa
berlebihan. Dalam berbicara, untuk mengemukakan keluasan pembicaraan tidak
perlu menggunakan frasa berpanjang lebar.
3.2.2.3 Repetisi
Majas
repetisi adalah majas yang menegaskan sesuatu dengan mengulangi bagian yang
dianggap penting sehingga menimbulkan rasa semangat/dorongan. Majas repetisi
dalam naskah drama “Festival Topeng” di antaranya terdapat dalam kutipan
berikut ini:
Ket. Panitia : ….
Kami hanya berpesan agar acara ini berlangsung see … meriah mungkin, see …
khidmat mungkin, namun tetap aman dan tertib.
Pengulangan
kata see … dalam kutipan di atas termasuk repetisi. Pengulangan tersebut memberikan penekanan
pada hal yang diulang oleh pengarang. Repetisi juga tampak dalam kutipan
berikut ini.
Ket. Panitia : ….
Tim juri bukanlah kelompok tandingan bagi penilaian masyarakat terhadap
festival lain, tetapi di maksudkan sebagai “partner” kerja saudara-saudara.
Agar dalam memberikan penilaian nanti, saudara-saudara bisa lebih
terarah, lebih bijaksana, lebih fair, dan memuaskan semua pihak.
………………………………………………………………………………………………………..
Kasmun : Anu,
Yu, belum tahu saya. …. Anu … kalau ada yang tanya, bilang saja nggak tahu.
3.2.2.4 Retoris
Retoris
adalah kalimat tanya yang tidak membutuhkan jawaban karena pendengar dianggap
sudah tahu jawabannya. Tujuan penanya bukan untuk mencari informasi, tetapi
hanya ingin mendapatkan penegasan terhadap apa yang ditanyakan. Gaya bahasa
retoris dalam naskah drama “Festival Topeng” di antaranya terdapat dalam
kutipan berikut ini:
Ket. Panitia : …. Apalah artinya sawah ladang kita yang subur, panen
melimpah, dan ternak kita yang gemuk-gemuk jika perasaan kita tidak aman dan
bahagia? Dan, untuk itulah diperlukan upaya-upaya .
Dialog
tersebut mengandung kalimat tanya tetapi penanya tidak membutuhkan jawaban dari
lawan dialognya. Ini dinamakan retoris. Kalimat retoris juga tampak dalam
kutipan berikut ini:
Sami’un : ….
Oh, kamu benar-benar celaka 7 kali. Kamu pikir, aduh … tolol, tolol. Kamu pikir
semua yang kita lakukan untuk apa, hah? Kok pakai tidak tega segala?
3.2.2.5 Kontardiksi Interminis
Gaya
bahasa kotardiksi interminis adalah gaya bahasa yang mempertentangkan antara
pernyataan satu dengan pernyataan yang lain. Hal itu misalnya terdapat pada
dialog sebagai berikut:
Ket. Panitia : Itu
pertanyaan penting, tapi tidak perlu dipertanyakan. Atau sebaliknya, pertanyaan
itu perlu ada, tapi tidak penting dipertanyakan.
Dialog
tersebut mengandung pernyataan yang saling bertentangan. Kalau memang penting,
mestinya pertanyaan itu harus disampaikan. Sebaliknya, kalau memang ada
pertanyaan berarti memang ada hal penting yang harus ditanyakan.
3.2.2.6 Simile
Simile
adalah majas perumpamaan yang secara tersurat menggunakan kata-kata perumpamaan
seperti bagai, laksana, atau seperti. Hal itu tampak pada kutipan dialog
sebagai berikut:
Sami’un : Begini.
Kalau saya umpamakan Pak Jarkoni dan saya sebaga sopir … andong misalnya, siapa
keneknya?
Perumpamaan
Pak Jarkoni dengan sopir dijembatani dengan kata perumpamaan sebagai. Ini termasuk simile.
3.2.2.7 Sarkasme
Sarkasme
adalah majas sindiran yang paling kasar. Dalam majas ini digunakan kata-kata
makian untuk merendahkan lawan bicara. Dalam naskah drama “Festival Topeng” hal
itu tampak dalam dialog sebagai berikut:
Sami’un : ….
Oh, kamu benar-benar celaka 7 kali. Kamu pikir, aduh … tolol, tolol. Kamu pikir
semua yang kita lakukan untuk apa, hah? Kok pakai tidak tega segala?
Penggunaan
kata tolol dalam kutipan tersebut
menyiratkan suau penghinaan yang sangat. Makian itu disampaikan secara
langsung. Itu dinamakan sarkasme.
3.2.2. 8 Metafora
Metafora
adalah majas perumpamaan langsung tanpa menggunakan kata-kata perumpamaan. Apa
yang dimaksudkan langsung diumpamakan dengan kata-kata atau frasa tertentu. Metafora dalam naskah
drama “Festival Topeng” misalnya terdapat dalam dialog sebagai berikut:
Laras : Jangan
beranggapan buruk dulu, Pak. Mimpi kan bisa saja Cuma kembangnya orang tidur.
Mimpi
diperbandingkan dengan kembang secara langsung tanpa menggunakan kata-kata
perumpamaan.
Daftar Pustaka
Junus, Umar. 1989. Stilistika: Suatu Pengantar. Kuala Lumpur:
Dewan Bahasa dan Pustaka.
Keraf, Gorys. 1984. Diksi dan Komposisi. Ende: Nusa
Indah.
Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus
Linguistik. Jakarta: Gramedia.
Nusantara, A. Ariobimo. 2005. 5 Naskah Drama Pemenang Sayembara Dewan Kesenian Jakarta 2003
”Festival Topeng”. Jakarta: PT Grasindo
Sudjiman, Panuti. 1993. Bunga Rampai Stilistika. Jakarta:
Pustaka Utama Grafiti.
Sukesti, Restu. 2003. ‘’Cerpen Derabat Karya Budi
Darma: Analisis Stilistika’’ dalam Widya Parwa.Yogyakarta: Pusat Bahasa
– Departemen Pendidikan Nasional.
Suwondo, Tirto. 2003. Studi Sastra: Beberapa
Alternatif. Yogyakarta : Hanindita.
Stilistika Drama
![]() |
| Sumber Gambar : https://www.dreamstime.com |
Naskah drama sebagai salah satu karya
sastra mempunyai unsur-unsur yang sama
dengan karya sastra pada umumnya,
terutama karya prosa, yakni alur, tema,
dan penokohan. Namun, naskah drama mempunyai karakteristik yang tidak dipunyai karya
sastra lain, yaitu dapat dipentaskan. Naskah drama dapat dibedakan dengan
bentuk-bentuk lainnya terutama karena karya ini harus dapat disajikan kembali
di atas pentas. Naskah drama dibuat tidak sekadar untuk dibaca, melainkan
dipertunjukkan sebagai tontonan. Drama akan dapat dinikmati secara total apabila dipentaskan.
Bahasa dalam suatu karya sastra adalah
alat yang digunakan pengarang untuk menuangkan imajinasi dan kreativitasnya.
Makna sebuah karya sastra dapat digali dan ditelusuri melalui bahasa yang
digunakannya. Dengan demikian, pemakaian gaya bahasa dan diksi sangat
menentukan penyampaian makna suatu karya sastra. Pemakaian gaya bahasa itu
meliputi bunyi, rangkaian bunyi, kata, rangkaian kata, frase hingga kalimat
yang dipilih dan digunakan dengan seksama. Hal-hal itu dapat menggugah simpati atau empati
pembaca (Sukesti, 2003:141). Selain itu, gaya bahasa mempunyai fungsi estetis
atau sebagai variasi untuk menghindari kebosanan.
Budi Ros atau Budi Yuwono adalah salah satu
penulis naskah drama yang kenyang pengalaman di Teater Koma. Darah seninya
muncul ketika semasa kanak-kanak ia sering diajak nonton wayang olah bapaknya.
“FestovalTopeng” adalah salah satu karyanya yang sangat dipengaruhi oleh darah Jawanya
karena banyak menggunakan kata-kata bahasa Jawa dan ideom-ideom Jawa. Pandangan
tentang nilai-nilai hidup, pertentangan batin antara perbuatan baik dan buruk
tercermin dalam naskah drama yang ditulisnya itu. Selain itu, naskah drama
tersebut banyak mengungkapkan masalah sosial yang terjadi di masyarakat, sangat
menarik untuk dikaji lebih lanjut dari pendekatan stilistika.
Stilistika ialah ilmu yang menyelidiki
bahasa yang digunakan dalam karya sastra dan penerapan linguistik pada
penelitian gaya bahasa (Kridalaksana, 1982:157). Dengan kata lain stilistika
adalah ilmu tentang gaya (bahasa). Stilistika itu sesungguhnya tidak hanya
merupakan studi gaya bahasa dalam kesusastraan, tetapi juga dalam bahasa pada
umumnya. Analisis stilistika secara umum dilakukan sebagai upaya untuk menggali
totalitas makna karya sastra dan analisis secara khusus yang mencoba melihat
gaya bahasa bagian perbagian.
Gaya bahasa ialah pemanfaatan kekayaan
bahasa oleh seorang penutur dalam bertutur atau menulis, pemakaian ragam
tertentu untuk memperoleh efek tertentu pula, dan keseluruhan ciri bahasa
sekelompok penulis sastra (Kridalaksana, 1982:49-50; Mas, 1990:13-14; Suwondo,
2003:151-152). Junus yang merujuk pada pendapat Enkvist (1989:4), menyatakan
bahwa gaya adalah bungkus yang membungkus inti pemikiran yang telah ada
sebelumnya; pilihan antara berbagai-bagai pernyataan yang mungkin; sekumpulan
ciri pribadi; penyimpangan norma atau
kaidah; sekumpulan ciri kolektif; dan hubungan antarsatuan bahasa yang
dinyatakan dalam teks yang lebih luas daripada kalimat.
Dengan demikian, stilistika adalah cara
yang memanfaatkan aspek-aspek linguistik untuk mengkaji atau melakukan kritik
terhadap karya sastra. Hubungan itu tercipta karena stilistika mengkaji wacana
sastra dengan orientasi linguistik. Stilistika mengkaji cara sastrawan dalam
menggunakan unsur dan kaidah bahasa serta efek yang ditimbulkan oleh
penggunaannya itu. Stilistika meneliti ciri khas penggunaan bahasa dalam wacana
sastra, ciri yang membedakannya dengan wacana nonsastra, dan meneliti deviasi
terhadap tata bahasa sebagai sarana literer. Dengan kata
lain, stilistika meneliti fungsi puitik bahasa (Sudjiman, 1993:3; Suwondo,
2003:152).
Secara umum, lingkup telaah stilistika mencakupi
diksi atau pilihan kata (pilihan leksikal), struktur kalimat, majas, citraan,
pola rima dan matra yang digunakan seorang sastrawan atau yang terdapat dalam
karya sastra (Sudjiman, 1993:13-14). Menurut Suwondo yang merujuk pada pendapak
Pradopo, aspek-aspek bahasa yang ditelaah dalam studi stilistika meliputi
intonasi, bunyi, kata, dan kalimat sehingga lahirlah gaya intonasi, gaya bunyi,
gaya kata, dan gaya kalimat (2003:152).
Daftar Pustaka
Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus
Linguistik. Jakarta: Gramedia.
Sudjiman, Panuti. 1993. Bunga Rampai Stilistika. Jakarta:
Pustaka Utama Grafiti.
Sukesti, Restu. 2003. ‘’Cerpen Derabat Karya Budi
Darma: Analisis Stilistika’’ dalam Widya Parwa.Yogyakarta: Pusat Bahasa
– Departemen Pendidikan Nasional.
Suwondo, Tirto. 2003. Studi Sastra: Beberapa
Alternatif. Yogyakarta : Hanindita.
Tahapan Pemerolehan Bahasa
![]() |
| Sumber Gambar : https://www.wyethnutrition.co.id |
a.
Tahap Meraban
(Pralinguistik) pertama (usia 0,0-0,5)
Pada tahap meraban
pertama, selama bulan-bulan awal kehidupan, bayi-bayimenangis, mendekut,
mendenguk, menjerit, dan tertawa.
Tahapan anak pada usia ini adalah sebagai berikut :
·
Tahap 0-2 minggu
Pada
tahap ini anak sudah dapat menghadapkan muka ke arah suara. Meraka sudah dapat
membedakan suara manusia dengan suara lainnya, seperti bel, bunyig emerutuk,
dan peluit. Mereka akan berhenti menangis jika mendengar orang berbicara.
·
Tahap 1-2 bulan
Pada
tahap ini mereka sudah dapat membedakan suku kata, seperti (bu) dan (pa),
mereka bisa merespon secara berbeda terhadap kualitas emosional suara manusia.
Misalnya suara marah membuat dia menangis, sedangkan suara yang ramah membuat
dia tersenyum dan mendekat (seperti suara merpati).
·
Tahap 3-4 bulan
Pada
tahap ini mereka sudah dapat membedakan suara laki-laki dan perempuan.
·
Tahap 6 bulan
Pada
tahap ini mereka mulai memperhatikan intonasi dan ritme dalam ucapan, mulai meraban
(mengoceh) dengan suara melodis.
Jadi, pada tahap ini
perkembangan yang mencolok adalah perkembangan comprehension (komprehensi) artinya penggunaan bahasa secara pasif.
b.
Tahap Meraban
(Pralinguistik) Kedua: Kata nonsense (usia 0,5-1,0)
Pada tahap ini anak
mulai aktif artinya secara fisik. Ia sudah dapat melakukan gerakan-gerakan
seperti memegang dan mengangkat benda atau menunjuk. Berkomunikasi dengan
mereka mulai mengasyikkan karena mereka mulai aktif dalam komunikasi.
Tahapannya seperti berikut :
•
Tahap 5-6 bulan
Dari segi
komprehensi kemampuan bahasa anak semakin baik dan luas, anak semakin mengerti
beberapa makna kata, misalnya nama (diri sendiri atau panggilan ayah dan
ibunya), larangan, perintah dan ajakan (misalnya permainan “ciluk baa”). Hal ini
menunjukkan bahwa bayi sudah dapat memahami ujaran orang dewasa. Di samping itu
bayi mulai dapat melakukan gerakan-gerakan seperti mengangkat benda dan secara
spontan memperlihatkannya kepada orang lain. Tahap ini disebut juga kata omong
kosong, tahap kata tanpa makna. Ciri-ciri lain yang menarik selain yang telah
disebutkan tadi adalah ocehan, seringkali dihasilkan dengan intonasi,
kadang-kadang dengan tekanan menurun yang ada hubungannya dengan
pertanyaan-pertanyaan. Pada tahap mengoceh ini (babbling) bayi mengeluarkan bunyi-bunyi yang makin bertambah
variasinya dan semakin kompleks kombinasinya. Mereka mengombinasikan vokal
dengan konsonan menjadi struktur yang mirip dengan silabik (suku kata), misal:
ma-ma-ma, ba-ba-ba, pa-pa-pa, da-da-da-da dsb.
•
Tahap 7-8 bulan
Pada
tahap ini orang tua sudah bisa mengenalkan hal hal baru bagi anaknya, artinya
anak sudah bisa mengenal bunyi kata untuk objek yang sering diajarkan dan dikenalkan oleh orang tuanya secara
berulang-ulang. Orang dewasa biasanya mulai menggunakan gerakan-gerakan isyarat
seperti menunjuk. Gerakan ini dilakukan untuk menarik perhatian anak karena si
ibu ingin menunjukkan sesuatu dan menawarkan sesuatu yang baru dan menarik.
Kemampuan anak untuk merespons apa yang dikenalkan secara berulang-ulang pun
semakin baik, misalnya melambaikan tangan ketika ayahnya atau orang yang
dikenalnya akan pergi, bertepuk tangan, menggoyang-goyangkan tubuhnya ketika
mendengar nyanyian.
•
Tahap 8 bulan-1
tahun
Setelah
anak melewati periode mengoceh, anak mulai mencoba mengucapkan segmen-segmen
fonetik berupa berupa suku kata kemudian baru berupa kata. Misalnya bunyi “bu”
kemudian “bubu” dan terakhir baru dapat mengucapkan kata “ibu”. Contoh lain
adalah “pa”, “empah” baru kemudian anak dapat memanggil ayahnya “papa”atau
“bapak”. Pada tahap ini anak sudah dapat berinisiatif memulai komunikasi. Ia
selalu menarik perhatian orang dewasa, selain mengoceh ia pun pandai
menggunakan bahasa isyarat. Misalnya dengan cara menunjuk atau meraih
benda-benda. Anak pada periode ini dapat mengucapkan beberapa suku kata yang
mungkin merupakan reaksi terhadap situasi tertentu atau orang tertentu sebagai
awal suatu simbolisasi karena kematangan proses mental (kognitif). Dengan kata
lain kepandaian anak semakin meningkat.
c.
Tahap Linguistik
I: Holofrastik;Kalimat Satu Kata (usia 1,0-2,0)
Pada usia 1-2 tahun
masukan kebahasaan berupa pengetahuan anak tentang kehidupan di sekitarnya
semakin banyak, misalnya nama-nama keluarga, binatang, mainan, makanan,
kendaraan, perabot rumah tangga, jenis-jenis pekerjaan dan sebagainya. Faktor-faktor
masukan inilah yang memungkinkan anak memperoleh semantik (makna kata) dan
kemudian secara bertahap dapat mengucapkannya. Pada tahap ini anak sudah mulai
mengucapkan satu kata. Menurut Tarigan (1985) ucapan-ucapan satu kata pada
periode ini disebut holofrase/holofrastik karena anak-anak menyatakan makna
keseluruhan frase atau kalimat dalam satu kata yang diucapkannya itu. Contohnya
adalah kata “asi“ (maksudnya nasi) dapat berarti dia ingin makan nasi, dia
sudah makan nasi, nasi ini tidak enak atau yang lainnya. Agar kita dapat
memahami maksud yang sesungguhnya, kita harus mencermati keadaan anak dan
lingkungan pada saat ucapan satu kata itu diucapkan. Orang dewasa harus paham
bahwa pada tahap holofrasa ini, ingatan dan alat ucap anak belum cukup matang
untuk mengucapkan satu kalimat yang terdiri dari dua kata atau lebih. Pada
tahap ini gerakan fisik seperti menyentuh, menunjuk, mengangkat benda
dikombinasikan dengan satu kata. Dapat dikatakan bahwa kata dan gerak sama
pentingnya bagi anak pada tahap holofrasa ini.
Ada pun kata-kata
pertama yang diucapkan berupa objek atau kejadian yang sering ia dengar dan ia
lihat. Contoh kata-kata pertama yang biasanya dikuasi anak adalah pipis (buang air kecil), mamam atau maem (makan), dadah sambil
malambaikan tangan, mah (mamah), pak (bapak), bo (tidur). Kata-kata yang biasanya digunakan untuk bertanya adalah
apa, kenapa, sedangkan kata-kata
perintah sini, sana, lihat; dengan pengucapan yang tidak sama untuk tiap
anak. Kata-kata yang digunakan untuk meminta adalah lagi, mau, dan minta (ini
pun dengan pengucapan yang berbeda untuk tiap anak). Pada tahap ini anak
mengalami kesulitan mengucapkan bunyi tertentu seperti r, s, k, j, dan t. Oleh
karena itu, pengucapan mereka beragam dan tidak sama percis dengan ucapan orang
dewasa.
d.
Tahap Lingistik
II: Kalimat Dua Kata (usia 2,0-3,0)
Tahap linguistik
kedua ini biasanya mulai menjelang hari ulang tahun kedua. Anak-anak memasuki
tahap ini dengan pertama sekali mengucapkan dua holofrase dalam rangkaian yang
cepat (Tarigan, 1980). Misalnya mama
masak, adik minum, papa pigi (ayah pergi), baju kakak dan sebagainya. Ucapan-ucapan ini pun, mula-mula tidak
jelas seperti ”di“ maksudnya adik,
kemudian anak berhenti sejenak, lalu melanjutkan “num” maksudnya minum. Maka berikutnya muncul kalimat,
“adik minum”. Keterampilan anak pada tahap ini makin meningkat. Komunikasi yang
ingin ia sampaikan adalah bertanya dan meminta. Kata-kata yang digunakan untuk
itu sama seperti perkembangan awal, yaitu sini,
sana, lihat, itu, ini, lagi, mau, dan minta.
Selain keterampilan mengucapkan dua kata, ternyata pada periode ini si anak
terampil melontarkan kombinasi antara informasi lama dan baru. Pada periode ini
tampak sekali kreativitas anak. Keterampilan tersebut muncul pada anak
dikarenakan makin bertambahnya pembendaharaan kata yang diperoleh dari
lingkungannya dan juga karena perkembangan kognitif serta fungsi biologis pada
anak.
e.
Tahap Linguistik
III: Pengembangan Tata Bahasa (usia 3,0-4,0)
Pada umumnya pada
tahap ini, anak-anak telah mulai menggunakan elemen-elemen tata bahasa yang
lebih rumit, seperti pola-pola kalimat sederhana, kata-kata tugas (di, ke,
dari, ini, itu, dan sebagaainya), penjamakan, pengimbuhan, terutama awalan dan
akhiran yang mudah dan bentuknya sederhana. Periode ini disebut juga periode
diferensiasi. Menurut Marat (1983) ada beberapa keterampilan mencolok yang dikuasai
anak pada tahap ini, yaitu:
•
Pada akhir
periode ini secara garis besar anak telah menguasai bahasa ibunya, artinya
kaidah-kaidah tata bahasa yang utama dari orang dewasa telah dikuasai.
•
Perbendaharaan
kata berkembang, beberapa pengertian abstrak, seperti pengertian waktu, ruang,
dan jumlah yang diinginkan mulai muncul.
•
Mereka mulai
dapat membedakan kata kerja (contoh: minum, makan, masak, pergi, pulang,
mandi), dan kata-kata benda (buku, baju, gelas, nasi, susu) dan sudah dapat
mempergunakan kata depan (di, ke, dari), kata ganti ( aku, saya) dan kata kerja
bantu (tidak, bukan, mau, sudah, dsb.).
•
Fungsi bahasa
untuk berkomunikasi betul-betul mulai berfungsi; anak sudah dapat mengadakan
konversasi (percakapan) dengan cara yang dapat dimengerti oleh orang dewasa.
•
Persepsi anak dan
pengalamannya tentang duania luar mulai ingin dibaginya dengan orang lain,
dengan cara memberikan kritik, bertanya, menyuruh, memberi tahu, dan lain-lain.
•
Tumbuhnya
kreativitas anak dalam pembentukan kata-kata baru. Gejala ini merupakan cara
anak untuk mempelajari perkataan baru dengan cara bermain-main. Hal ini terjadi
karena memang daya fantasi anak pada tahap ini sedang pesat berkembang.
f.
Tahap Linguistik
IV: Tata Bahasa Pra-Dewasa (usia 4,0-5,0)
Pada tahap ini
anak-anak sudah mulai menerapkan struktur tata bahasa dan kalimat-kalimat yang
agak lebih rumit. Misalnya kalimat majemuk sederhana seperti di bawah ini:
•
mau nonton sambil
makan keripik
•
aku di sini,
kakak di sana
•
mama beli sayur
dan kerupuk
•
kakak, adik dari mana
Kemampuan anak dalam
bercakap-cakap terlihat sudah terampil. Kemampuan menghasilkan
kalimat-kalimatnya sudah beragam, ada kalimat pernyataan/kalimat berita,
kalimat perintah, dan kalimat tanya. Menurut Tarigan (1985), walaupun anak-anak
sudah dianggap mampu menyusun kalimat kompleks, tetapi mereka masih membuat
kesalahan-kesalahan. Kesalahan tersebut dalam hal menyusun kalimat, memilih
kata dan imbuhan yang tepat.
Pada tahap ini anak
sudah tidak mengalami kesulitan dalam mengucapkan bunyi-bunyi suara. Menurut
Clark (1977) pada tahap ini anak masih mengalami kesulitan bagaimana memetakan
ide ke dalam bahasa. Maksudnya adalah Si Anak mengalami kesulitan dalam
mengungkapkan pikirannya ke dalam kata-kata yang bermakna. Hal ini karena anak
memiliki ketebatasan-keterbatasan seperti pengusaan struktur tata bahasa, kosa
kata, dan imbuhan. Pada tahap ini anak-anak sulit mengucapkan kata-kata yang
tidak muncul dari hati nuraninya, tetapi pada dasarnya anak-anak senang
mempelajari sesuatu.
g.
Tahap Linguistik
V: Kompetensi Penuh (usia 5,0-6,0)
Sekitar usia 5-7 tahun, anak-anak mulai memasuki tahap
yang disebut sebagai kompetensi penuh. Sejak usia 5 tahun pada umumnya
anak-anak yang perkembangannya normal telah menguasai elemen-elemen sintaksis
bahasa ibunya dan telah memiliki kompetensi (pemahaman dan produktivitas
bahasa) secara memadai. Meskipun perbendaharaan katanya masih terbatas, tetapi
terus berkembang/bertambah dengan kecepatan yang mengagumkan.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Alat Transportasi Populer
Transportasi merupakan kegiatan yang sangat penting bagi manusia. Transportasi adalah aktivitas yang melibatkan pemindahan atau pengangkut...
-
Eksposisi Teks Eksposisi adalah teks yang berisi informasi dan pengetahuan yang dimuat secara singkat dan padat yang bertujuan untuk ...
-
Salah satu kelas atau kategori kata dalam bahasa Indonesia adalah Kata Benda atau Nomina. Nomina atau kata benda adalah kata yang menyatak...




