Sunday, October 20, 2019

Bentuk Kata


Bentuk kata dalam bahasa Indonesia ada empat macam, yaitu Kata Dasar, Kata Berimbuhan, Kata Majemuk, dan Kata Ulang. Berikut ini dijelaskan satu persatu.
(a)   Kata Dasar
Kata dasar adalah kata yang menjadi dasar awal  pembentukan kata yang lebih besar. Kata dasar belum diberi imbuhan, belum mengalamai pemajemukan, dan pengulangan.  Dengan kata lain. Contohnya adalah makan, duduk, pulang, tinggal, datang, minum, langkah, pindah, dan lain-lain. Dalam bentuk kalimat, kata dasar dapat dilihat pada contoh kalimat sebagai berikut.
·         Ular yang mati itu sangat  panjang.
·         Aku pergi ke sekolah dengan ayah.
·         Budi datang ke rumahku dengan sangat cepat.
·         Kakak suka makan kue bakpia dari kota Jogjakarta.
·         Ayah sampai di rumah jam 9 malam, ketika aku sedang tidur.

(a)     Kata Berimbuhan
Kata berimbuhan adalah kata yang terbentuk dari penggabungan afiks atau imbuhan dengan bentuk dasar. Bentuk dasar yang dimaksud biasanya berupa kata dasar, namun bisa juga berbentuk kata berimbuhan. Penambahan afiks dapat mempengaruhi bentuk dan makna kata. Hal itu disebabkan karena afiks mempunyai fungsi dan nosi. Nosi aadalah makna gramatikal yang muncul pada afiks ketika bergabung dengan bentuk dasar.
Afiks itu merupakan bentuk terikat, tidak dapat berdiri sendiri dan secara gramatis (tertulis) selalu melekat pada bentuk lain. Contohnya pada kata kedua, kehendak, kekasih, ketua. Artinya antara imbuhan ke- dan kata dua tidak dapat di pisahkan karena apabila dipisahkan akan mempunyai arti yang berbeda. Demikian juga dengan kata kehendak, kekasih, dan ketua. Berbeda halnya dengan bentuk di seperti pada kata di rumah, di pekarangan, di ruang, tidak dapat di golongkan afiks karena sebenarnya bentuk itu secara gramatis mempunyai sifat bebas. Demikian halnya dengan bentuk ke seperti pada kata ke rumah, ke toko, ke kota, ini tidak dapat di golongkan afiks. Jadi, dalam afiks hanya dapat dibentuk apabila imbuhan itu dalam bentuk terikat.
Afiks tidak memiliki arti leksis, artinya tidak mempunyai arti leksikal (kamus). Afiks dapat mempengaruhi arti kata yang dilekatinya. Contohny adalah  bentuk –nya yang sudah tidak mempunyai pertalian arti dengan ia. Misalnya bentuk –nya yang terdapat pada kata  rupanya, agaknya termasuk golongan afiks karena hubungannya dengan arti leksisnya sudah terputus.
·         Macam-Macam Imbuhan (Afiks)
o   Awalan (prefiks/prefix) 
Awalan (prefiks/prefix) adalah imbuhan yang terletak di awal kata. Proses awalan (prefiks) ini disebut prefiksasi (prefixation). Berdasarkan dan pertumbuhan bahasa yang terjadi, maka awalan dalam bahasa Indonesia dibagi menjadi dua macam, yaitu imbuhan asli dan imbuhan serapan, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing.  Awalan dalam bahasa Indonesia adalah  me, ber, di, ke, ter, se, pe, per
v  Awalan me dan pe
  • Fungsi awalan me       : membentuk Kata Kerja Aktif
  • Fungsi awalan pe        : membentuk Kata Benda
  • Perubahan Bentuk       :
No
Perubahan Bentuk
Bertemu Dengan
Contoh
Me-
Pe-
 1
Me-
Pe-
l, m, n, r, w
Melawan, merawat, pewaris, pemasak,
 2
Mem-
Pem-
b, f, v, p
Membeli, memfitnah, pemveto, memukul
 3
Men-
Pen-
c, d, j, t,
Mencuci, mendorong, penjual, menulis,,
 4
Meng-
Peng-
a, i, u, e, o, g, h, k
Mengambil, menggulung, penghancur
 5
Meny-
Peny-
s
Menyapu, penyabar
 6
Menge-
Penge-
Kata bersuku tunggal
Mengebom, pengepel

  • Nosi atau makna gramatikal imbuhan me-
1)      Melakukan perbuatan : mengambil, menjual, menilai.
2)      Melakukan perbuatan dengan alat : mengail, menyabit, mencangkul.
3)      Menjadi atau dalam keadaan : menurun, meluap, meninggi.
4)      Membuat kesan seolah-olah : membisu, mengalah.
5)      Menuju ke : mendarat, menepi.
6)      Mencari : mendamar, merotan
§  Nosi atau makna gramatikal imbuhan pe-
1)      Orang yang me- : penyuruh, penatar, perotan, penilai, pencangkul.
2)      Orang yang di- : pesuruh, petatar, pekerja,

Ø  Awalan Ber
§  Fungsi awalan me        : membentuk Kata Kerja Aktif
§  Perubahan Bentuk       :
1)   Apabila diikuti bentuk dasar yang berhuruf awal /r/ atau yang suku kata awalnya berakhir dengan –er-, maka awalan ber- berubah menjadi be-.
Contoh: ber + rantai → berantai
a.    Apabila bertemu dengan kata ajar maka ber berubah menjadi bel. 
Contoh: ber + ajar → belajar
b.    Apabila diikuti kata dasar selain yang disebutkan di atas, ber- tidak mengalami perubahan   bentuk.
Contoh:  ber + balik → berbalik
§  Nosi atau makna gramatikal imbuhan me-
1)   Melakukan perbuatan : bernyanyi, berbaur, berdandan.
2)   Mempunyai : beratap, berhasil, beruang, berambut.
3)   Memakai/menggunakan/mengendarai : berbaju, bersepeda, bersepatu.
4)   Mengeluarkan : bertelur, berbau, berair, berkata.
5)   Berada dalam keadaan : bergegas, beramai-ramai.
6)   Menyatakan sifat atau sikap mental : berbaik hati, berbahagia, berhati-hati.
7)   Menyatakan ukuran, jumlah : bertahun-tahun, bermeter-meter, berdua

Ø  Awalan di dan ter
§  Fungsi awalan di dan ter         : membentuk KK Pasif
§  Perubahan bentuk                    : tidak mengalami perubahan bentuk
§  Nosi atau makna gramatikal    :
1)   Sudah di- atau dapat di- : tertutup, terbuka.
2)   Ketidaksengajaan : terbawa, terpegang, terlihat, tertendang.
3)   Tiba-tiba : teringat, terjatuh.
4)   Dapat/kemungkinan : ternilai, terangkat.
5)   Paling/superlatif: tertua, terbagus, terindah.
6)   Sampai ke- : tertulang, terbuku.

Ø  Awalan se
§  Fungsi awalan se         : membentuk KB
§  Bentuk                         : tidak mengalami perubahan bentuk
§  Nosi atau makna gramatikal
1)   Berarti satu: sebuah, sebatang, seorang, seekor, sebutir.
2)   Berarti seluruh atau seisi : sedesa, serumah, sekampung, senegeri.
3)   Berarti sama-sama : sepermainan, seperjuangan.
4)   Sama dengan : setinggi (gunung), sekuat (gajah), sebodoh (keledai).
5)   Menyatakan waktu : sesudah, setibanya.
Ø  Awalan ke-
§  Fungsi awalan ke         : membentuk KB, KK Intransitif, K Bil Tingkat/Kumpulan
§  Bentuk                         : tidak mengalami perubahan bentuk
§  Nosi atau makna gramatikal
1)   Bermakna tingkat atau kumpulan : kesatu, kedua, ketiga, kesepuluh.
2)   Yang di- : ketua, kehendak, kekasih.
o   Akhiran (sufiks/ sufix)
                  Akhiran (sufiks/ sufix) adalah imbuhan yang terletak di akhir kata. Dalam proses pembentukan kata ini tidak pernah mengalami perubahan bentuk. Proses pembentukannya di sebut safiksasi (suffixation). Akhiran terdiri dari kan, an, i, nya, man, wati, wan, asi, isme, in, wi, dan lainnya dalam contoh.
Ø  Akhiran –an
  • Fungsi awalan ke        : membentuk KB, KK Intransitif, K Bil Tingkat/Kumpulan
  • Bentuk                                    : tidak mengalami perubahan bentuk
  • Nosi atau makna gramatikal
1)      menyatakan tempat : pangkalan, kubangan
2)      menyatakan alat : ayunan, timbangan
3)      menyatakan hal atau cara : didikan, pimpinan
4)      menyatakan akibat, hasil perbuatan : hukuman, balasan
5)      menyatakan sesuatu yang di- : cacatan, suruhan
6)      menyatakan menyatakan seluruh, kumpulan : lautan, sayuran
7)      menyatakan menyerupai : anak-anakan, kuda-kudaan
8)      menyatakan tiap-tiap : tahunan, mingguan
9)      menyatakan mempunyai sifat : asinan, kuningan

Ø  Akhiran –kan
  • Fungsi awalan ke        : membentuk KK
  • Bentuk                                    : tidak mengalami perubahan bentuk
  • Nosi atau makna gramatikal
1)      menyatakan perbuatan untuk orang lain : membacakan, menghidangkan, dibelikan.
2)      membuat jadi : meninggikan, diputihkan.
3)      tidak sengaja : termanfaatkan
4)      pengantar objek sebagai pengganti kata depan : bertaburkan, bermandikan

Ø  Akhiran –i
  • Fungsi awalan ke        : membentuk KK
  • Bentuk                                    : tidak mengalami perubahan bentuk
  • Nosi atau makna gramatikal
1)      Menyatakan perbuatan yang berulang-ulang : memukuli, mencomoti.
2)      Memberi, membubuhi : menandatangani, membumbui
3)      Menghilangkan : menguliti

Ø  Akhiran –nya
  • Fungsi awalan ke        : membentuk KB, dinginnya, enaknya, tenggelamnya
  • Bentuk                                    : tidak mengalami perubahan bentuk
  • Nosi atau makna gramatikal
1)      Menjelaskan atau menekankan kata yang di depannya : Di rumah ini ada hantunya.
2)      Menjelaskan situasi : Ia belajar dengan tekunnya.
3)      Menyertai kata keterangan : agaknya, rupanya, sebenarnya, sesungguhnya.

Ø  Akhiran –in
  • Fungsi awalan ke        : membentuk KB, hadirin, karimin, muslimin
  • Bentuk                                    : tidak mengalami perubahan bentuk
  • Nosi atau makna gramatikal
1)      Menyatakan orang : hadirin, karimin, muslimin
2)      Menyatakan orang yang ber- : mukimin

Ø  Akhiran –wan dan -wati
  • Fungsi awalan ke        : membentuk KB
  • Bentuk                                    : tidak mengalami perubahan bentuk
  • Nosi atau makna gramatikal
1)      Menyatakan orang yang bersifat : dermawan
2)      Menyatakan orang yang mempunyai : hartawan, rupawan, karyawati
3)      Menyatakan orang yang bekerja di bidang : wartawan, peragawan, peragwati

Ø  Akhiran –wi
  • Fungsi awalan ke        : membentuk KS
  • Bentuk                                    : tidak mengalami perubahan bentuk
  • Nosi atau makna gramatikal
1)      Menyatakan sifat : manusiawi, duniawi, ukhrowi

o   Sisipan (infiks/infix)
            Sisipan (infiks/infix) adalah imbuhan yang terletak di dalam kata. Jenis imbuhan ini tidak produktif, artinya pemakaiannya terbatas hanya pada kata-kata tertentu. Jadi hampir tidak mengalami pertambahan secara umum. Sisipan terletak pada suku pertama kata dasarnya, yang memisahkan konsonan pertama dengan vokal pertama suku tersebut. Prosesnya imbuhan kata tersebut di sebut infixation. Imbuhan yang berupa sisipan adalah -er-, -el-, -em- dan -in.
  • Fungsi awalan ke        : membentuk KB
  • Bentuk                                    : tidak mengalami perubahan bentuk
  • Nosi atau makna gramatikal
1)      Menyatakan banyak : gerigi, gelombang, temali, geligi, serabut,
2)      Menyatakan frekuensi : gemetar, gemuruh, cericit
3)      Menyatakan sifat : kemuning, gemilang, telunjuk
4)      Menyatakan hal : kinerja

o   Konfiks
Konfiks atau imbuhan berturutan adalah imbuhan gabung  yang melekat pada kata dasar secara tidak bersama-sama.  Kata membelikan terdiri atas bentuk dasar beli, imbuhan me- dan kan. Imbuhan mem dan kan pada kata membelikan turun secara bertahap. Mula-mula terbentuk kata membeli yang bermakna melakukan perbuatan beli dari imbuhan mem dan beli. Setelah itu baru ditambahi akhiran kan sehingga bermakna membeli untuk orang lain. Mem – kan pada kata membelikan disebut dengan konfiks atau imbuhan gabung.
Ø  Konfiks Ber-kan
  • Fungsi awalan ke        : membentuk KK
  • Bentuk                                    : tidak mengalami perubahan bentuk
  • Nosi atau makna gramatikal
1)      Menggunakan sebagai : bersenjatakan, berdasarkan

Ø  Konfiks Ber-an
  • Fungsi awalan ke        : membentuk KK
  • Bentuk                                    : tidak mengalami perubahan bentuk
  • Nosi atau makna gramatikal
1)      Menyatakan banyak serta tidak teratur: berlarian, beterbangan
2)      Menyatakan saling atau berbalasan : berpotongan, bersebelahan

v  Konfiks Di-kan
  • Fungsi awalan ke        : membentuk KK
  • Bentuk                                    : tidak mengalami perubahan bentuk.
  • Nosi atau makna gramatikal
1)      Dikenai perbuatan orang lain : dibawakan, dibelikan, disewakan
2)      Dikenai perbuatan pada bentuk dasar : disebarkan, diucapkan, diawetkan
3)      Dibuat jadi ...  : ditinggikan, dilebarkan, dipanjangkan

v  Konfiks Di-i
  • Fungsi awalan ke        : membentuk KK
  • Bentuk                                    : tidak mengalami perubahan bentuk.
  • Nosi atau makna gramatikal
1)      Menyatakan berulang-ulang : dipukuli, ditulisi
2)      Diberi : digarami, digulai, diwarnai
3)      Dibuat jadi ...  : dipanasi

v  Konfiks Me-kan
  • Fungsi awalan ke        : membentuk KK
  • Bentuk                                    : men – kan, mem – kan, meng – kan, meny – kan, menge - kan.
  • Nosi atau makna gramatikal
1)      menyebabkan jadi : membingungkan, menyeragamkan, menghancurleburkan
2)      melakukan sesuatu untuk orang lain : membukakan, membelikan

v  .Konfiks Me – i
  • Fungsi awalan ke        : membentuk KK
  • Bentuk                                    : men – i, mem – i, meng – i, meny – i, menge - i.
  • Nosi atau makna gramatikal
1)      membuat jadi : menerangi
2)      meberi atau membubuhi : menggarami, menggulai
3)      melakukan sesuatu:  menanami
4)      melakukan berulang-ulang : menembaki, memukuli
5)      merasakan sesuatu pada : menyukai, menyenangi

v  Konfiks Ter-kan
  • Fungsi awalan ke        : membentuk KK
  • Bentuk                                    : tidak mengalami perubahan bentuk
  • Nosi atau makna gramatikal
1)      dapat dilakukan : terselesaikan
2)      tidak sengaja dilakukan  : tertanamkan

v  Konfiks Ter- i
  • Fungsi awalan ke        : membentuk KK
  • Bentuk                                    : tidak mengalami perubahan bentuk
  • Nosi atau makna gramatikal
1)      dapat dilakukan : terseberangi
2)      tidak sengaja terjadi  : terlempari

o   Simulfiks
Simulfiks adalah imbuhan gabung  yang melekat pada kata dasar secara bersama-sama.  Simulfiks berbeda dari konfiks. Kata kemanusiaan berbeda dengan membelikan. Imbuhan ke-an pada kata kemanusiaan termasuk simulfiks karena turun atau melekat  secara bersama-sama. Tidak ada kata kemanusia dan manusiaan. Imbuhan mem dan kan pada kata membelikan turun secara bertahap. Mula-mula terbentuk kata membeli yang bermakna melakukan perbuatan beli dari imbuhan mem dan beli. Setelah itu baru ditambahi akhiran kan sehingga bermakna membeli untuk orang lain. Imbuhan ke-an pada kata kemanusiaan disebut simulfiks, sedangkan imbuhan me-kan pada kata membelikan disebut dengan konfiks.
Ø  Simulfiks Pe-an
  • Fungsi awalan ke        : membentuk KB
  • Bentuk                                    : Pe-an, Pem-an, Pen-an, Peny-an, Peng-an, Penge-an.
  • Nosi atau makna gramatikal
1)      Menyatakan hal atau peristiwa : Pembinaan, Penghijauan, pemasaran
2)      Menyatakan proses : Pembayaran, penulisan
3)      Menyatakan tempat : pemakaman, pelelangan
4)      Menyatakan alat : penggorengan, penglihatan

Ø  Simulfiks Per-kan
  • Fungsi awalan ke        : membentuk KK
  • Bentuk                                    : tidak mengalami perubahan bentuk
  • Nosi atau makna gramatikal
1)      Menyatakan jadikan bahan : pertunjukan
2)      Menyatakan jadikan supaya : perkenalkan

Ø  Simulfiks Per-an
  • Fungsi awalan ke        : membentuk KB
  • Bentuk                                    : Per-an, Pel-an, Pe-an
  • Nosi atau makna gramatikal
1)      Menyatakan melakukan hal : pergerakan
2)      Menyatakan masalah tentang : perekonomian, perhotelan
3)      Menyatakan tempat : peristirahatan, persembunyian
4)      Menyatakan alat untuk : peraturan
5)      Menyatakan daerah, wilayah, atau kawasan : perkampungan, pegunugnan, pedalaman

Ø  Simulfiks Per-i
  • Fungsi awalan ke        : membentuk KK
  • Bentuk                                    : tidak mengalami perubahan bentuk
  • Nosi atau makna gramatikal
1)      Menyatakan perbuatan supaya jadi : perbaiki
2)      Menyatakan lperbuatan  yang disebutkan pada kata dasarnya : persetujui

v  Simulfiks Ke – an
  • Fungsi awalan ke        : membentuk KB
  • Bentuk                                    : tidak mengalami perubahan bentuk
  • Nosi atau makna gramatikal
1)      hal atau peristiwa : kedatangan, kenaikan, keterlambatan
2)      tempat atau wilayah : kedutaan, kelurahan
3)      sedikit bersifat atau keadaan : kehijauan, kepucatan
4)      terlalu : kebesaran, keasinan
5)      mengalami atau tidak sengaja : kebanjiran, kedinginan
6)      hal atau masalah : kehutanan, kepariwisataan

v  Simulfiks Memper-kan
  • Fungsi awalan ke        : membentuk KK
  • Bentuk                                    : tidak mengalami perubahan bentuk
  • Nosi atau makna gramatikal
1)      menjadikan sebagai bahan : memperdebatkan
2)      menjadikan supaya : mempersiapkan

v  Simulfiks Memper-i
  • Fungsi awalan ke        : membentuk KK
  • Bentuk                                    : tidak mengalami perubahan bentuk
  • Nosi atau makna gramatikal
1)      membuat supaya objeknya menjadi atau menjadi lebih : memperbaiki
2)      melakukan yang disebut pada kata dasarnya : memperturuti

v  Simulfiks Diper-kan
  • Fungsi awalan ke        : membentuk KK
  • Bentuk                                    : tidak mengalami perubahan bentuk
  • Nosi atau makna gramatikal
1)      dibuat jadi bahan : diperdebatkan
2)      dibuat jadi lebih ... : dipersiapkan

v  Simulfiks Diper – i
  • Fungsi awalan ke        : membentuk KK
  • Bentuk                                    : tidak mengalami perubahan bentuk
  • Nosi atau makna gramatikal
1)      dibuat jadi lebih : diperbaiki

(b)     Kata Ulang atau Reduplikasi
Kata ulang atau reduplikasi adalah kata dasar atau bentuk dasar yang mengalami perulangan baik seluruhnya maupun sebagian. Dalam hal ini yang diulang bukan morfem melainkan kata. Kata sepeda-sepeda  berasal dari satu kata sepeda. Sebaliknya, kata kupu-kupu bukanlah kata ulang karena dalam bahasa Indonesia tiak dikenal kupu. Oleh karena itu, bentuk tersebut bukan merupakan kata ulang.
o   Prinsip pengulangan
1)      Selalu mempunyai dasar yang diulang
2)      Proses pengulangan tidak mengubah jenis(kelas) kata
3)      Ada relevansi makna antara bentuk dasar dengan perulangannya
Contoh :
v  meja-meja
1)      Bentuk dasar meja-meja adalah meja
2)      Meja-meja termasuk KB, meja juga termasuk KB
3)      Meja-meja artinya banyak meja, meja artinya sebuah meja
4)      Simpulan : Meja-meja termasuk kata ulang karena memenuhi semua syarat KU.
v  Ular-ular (wejangan)
1)      Bentuk ulang ular-ular diasumsikan berasal dari bentuk dasar ular
2)      Ular-ular termasuk KB, ular juga termasuk KB
3)      Ular-ular artinya wejangan, ular artinya binatang
4)      Simpulan : Ular-ular tidak termasuk kata ulang karena tidak memenuhi syarat relevansi makna.
o   Macam-macam kata ulang
Ø  Kata ulang utuh / penuh : rumah-rumah (banyak rumah), berasal dari kata dasar rumah
Ø  Kata ulang berimbuhan : mobil-mobilan (menyerupai mobil), berasal dari kata dasar mobil
Ø  Kata ulang sebagian/parsial : melempar-lempar (berulang-ulang melempar), berasal dari kata dasar nelempar.
Ø  Kata ulang dwi purwo : tetangga, sesama, tetamu, tetiba, lelaki
Ø  Kata ulang berubah bunyi : sayur-mayur, lauk-pauk, bolak-balik
o   Arti kata ulang
1)      Banyak tak tentu : lembu-lembu
2)      Bermacam-macam : sayur-sayuran
3)      Menyerupai : kuda-kudaan, dokter-dokteran, mobil-mobilan
4)      Bersifat : kekanak-kanakan
5)      Menyatakan intensitas Kualitatif : kuat-kuat
6)      Menyatakan intensitas Kuantitatif : rumah-rumah
7)      Menyatakan intensitas Frekuentatif : menggeleng-gelengkan
8)      Menyatakan saling (resiprokal) : salam-salaman, tendang-menendang
9)      Menyatakan arti seperti pada bentuk dasarnya : masak-masakan
10)  Menyatakan perbuatan yang seenaknya : duduk-duduk
11)  Menyatakan arti paling (superlative) : sebesar-besarnya
12)  Menyatakan kumpulan : dua-dua
13)  Menyatakan walaupun : hujan-hujan
14)  Menyatakan selalu : mereka-mereka
   
(c)      Kata Majemuk (Kompositum)
Kata majemuk atau kompositum adalah gabungan beberapa kata dasar yang berbeda membentuk suatu arti baru. Kata majemuk berbdea dengan frase. Gabungan kata pada frase masih mempertahankan makna masing-masing kata, sedangkan pada kata majemuk sudah muncul makna baru.

o   Ciri-ciri Kata Majemuk
1)      Salah satu atau semua unsurnya berupa pokok kata.
                  Yang dimaksud dengan istilah pokok kata ialah satuan gramatik yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa dan secara gramatik tidak memiliki sifat bebas, yang dapat di jadikan bentuk dasar bagi sesuatu kata. Misalnya : juang, temu, lomba, tempur, tahan, dan masih banyak lagi.
Satuan gramatik yang unsurnya berupa kata dan pokok kata, atau kata semua, berdasarkan ciri ini, merupakan kata majemuk. Unsur yang berupa kata dan pokok kata misalnya kolam renang, pasukan tempur, barisan tempur, medan tempur, brigade tempur, daya tempur, lomba lari, tenaga kerja dan masih banyak lagi. Sedangkan unsur yang berupa kata yaitu kolam, pasukan, barisan, medan, brigade, daya, lari, kamar, jam, waktu, tenaga dan masa. Kata majemuk yang tersusun dari pokok kata semua misalnya terima kasih, lomba tari, lomba rias, lomba nyanyi, lomba renang, tanggung jawab, simpan pinjam, jual beli, dan sebagainya.
2)   Unsur-unsurnya tidak mungkin dipisahkan, atau tidak mungkin diubah strukturnya.
Misalnya terdapat pada kata majemuk kaki tangan.
§  Ia menjadi kaki tangan musuh
  • Ia menjadi kaki dan tangan musuh
  • Kaki dan tangannya sudah tidak ada
Dari kalimat di atas terlihat bahwa  kaki tangan merupakan kata majemuk karena kedua unsurnya tidak mungkin di pisahkan. Satuan anak buah berbeda dengan anak orang sekalipun unsurnya sama, berupa kata nominal semua. Pada anak orang unsur anak dan orang dapat dipisahkan, atau dapat diubah struktunya. Tetapi unsur-unsur pada anak buah tidak dapat dipisahkan dan juga tidak dapat diubah strukturnya. Demikianlah dapat disimpulkan bahwa anak buah adalah kata majemuk, sedangkan anak orang adalah frase. Berikut beberapa contoh kata majemuk berdasar ciri ini ruang makan, baju dalam, daun pintu, mata pencaharian, pejabat tinggi, kapal terbang, anak timbangan, dan lain-lain.
3)      Salah satu atau semua unsurnya berupa morfem unik.
Morfem unik yaitu morfem yang hanya mampu berkombinasi dengan satu   satuan tertentu. Misalnya simpang siur, gelap gulita, terang benderang.

o   Jenis Kata Majemuk
Ada empat dasar yang biasanya digunakan untuk menjeniskan kata majemuk, yaitu berdasarkan hubungan gramatik antar usurnya, berdasarkan hubungan semantis antarunsurnya, berdasarkan jumlah bentuk dasar yang membentuk kata majemuk itu, dan berdsarkan kelas kata bentuk dasar yang membentuknya.
1)      Berdasarkan Hubungan Gramatis Antarunsurnya
  • Kata majemuk endosentris : kamar mandi, hari besar, perdana menteri, akil balig
  • Kata majemuk eksosentris : kaki tangan, tua muda, sunyi senyap
2)      Berdasarkan Hubungan Semantis Antarunsurnya
  • Kata majemuk setara : tanggung jawab
  • Kata majemuk bersinonim : pucat pasi
  • Kata majemuk berantonim : simpan pi
3)      Berdasarkan Jumlah Bentuk Dasar yang Membentuknya
  • Kata majemuk dengan dua bentuk dasar : meja tulis, kepala dingin, dan membabi buta
  • Kata majemuk dengan tiga bentuk dasar : telur mata sapi, kereta api cepat, dan setali tiga uang

4)      Berdasarkan Jenis Kata Pembentuknya
  • Kata majemuk berstruktur KB + KB : tangan besi
  • Kata majemuk berstruktur KB + KKj : jam kerja, jam terbang, piring terbang, jam belajar
  • Kata majemuk berstruktur KB + KS : mulut besar, kepala dingin, tangan panjang
  • Kata majemuk berstruktur KB + KBil : kepala empat, kaki lima, simpang lima
  • Kata mejemuk berstruktur KKj + KB : turun gunung, naik daun, naik darah
  • Kata majemuk berstruktur KKj + KKj : pulang pergi, peluk cium, bujuk rayu
  • Kata majemuk berstruktur KKj + KS : terima bersih, sapu bersih, tebas mentah
  • Kata majemuk berstruktur KS + KS :  gagah berani, cerdik cendekia, duka lara
  • Kata majemuk berstruktur KS + KB : besar mulut, panjang tangan, rendah hati
  • Kata majemuk berstruktur KBil + KS : Setengah sadar, setengah tua, setengah hati

No comments:

Post a Comment

Alat Transportasi Populer

  Transportasi merupakan kegiatan yang sangat penting bagi manusia. Transportasi adalah aktivitas yang melibatkan pemindahan atau pengangkut...