Bentuk kata dalam bahasa Indonesia ada empat
macam, yaitu Kata Dasar, Kata Berimbuhan, Kata Majemuk, dan Kata Ulang. Berikut
ini dijelaskan satu persatu.
(a) Kata Dasar
Kata dasar adalah kata yang menjadi
dasar awal pembentukan kata yang lebih
besar. Kata dasar belum diberi imbuhan, belum
mengalamai pemajemukan, dan pengulangan. Dengan kata lain. Contohnya adalah makan, duduk, pulang, tinggal, datang, minum, langkah, pindah,
dan lain-lain. Dalam bentuk
kalimat, kata dasar dapat dilihat pada contoh kalimat sebagai berikut.
·
Ular
yang mati itu sangat panjang.
·
Aku
pergi ke sekolah dengan ayah.
·
Budi
datang ke rumahku dengan sangat cepat.
·
Kakak
suka makan kue bakpia dari kota Jogjakarta.
·
Ayah
sampai di rumah jam 9 malam, ketika aku sedang tidur.
(a)
Kata Berimbuhan
Kata berimbuhan
adalah kata yang terbentuk dari penggabungan afiks atau imbuhan dengan bentuk
dasar. Bentuk dasar yang dimaksud biasanya berupa kata dasar, namun bisa juga
berbentuk kata berimbuhan. Penambahan afiks dapat mempengaruhi bentuk dan makna
kata. Hal itu disebabkan karena afiks mempunyai fungsi dan nosi. Nosi aadalah
makna gramatikal yang muncul pada afiks ketika bergabung dengan bentuk dasar.
Afiks itu merupakan bentuk terikat, tidak dapat berdiri
sendiri dan secara gramatis (tertulis) selalu melekat pada bentuk lain. Contohnya pada kata kedua, kehendak, kekasih, ketua. Artinya antara imbuhan ke- dan kata dua tidak dapat di pisahkan karena apabila dipisahkan akan
mempunyai arti yang berbeda. Demikian juga dengan kata kehendak, kekasih, dan ketua.
Berbeda halnya dengan bentuk di seperti pada kata di rumah, di pekarangan, di ruang, tidak dapat di golongkan afiks
karena sebenarnya bentuk itu secara gramatis mempunyai sifat bebas. Demikian
halnya dengan bentuk ke seperti pada
kata ke rumah, ke toko, ke kota, ini
tidak dapat di golongkan afiks. Jadi, dalam afiks hanya dapat dibentuk apabila
imbuhan itu dalam bentuk terikat.
Afiks tidak memiliki arti leksis, artinya tidak mempunyai
arti leksikal (kamus).
Afiks dapat mempengaruhi arti kata yang
dilekatinya. Contohny adalah bentuk –nya
yang sudah tidak mempunyai pertalian arti dengan ia. Misalnya bentuk –nya yang terdapat pada kata rupanya, agaknya termasuk golongan afiks karena
hubungannya dengan arti leksisnya sudah terputus.
·
Macam-Macam Imbuhan (Afiks)
o
Awalan (prefiks/prefix)
Awalan (prefiks/prefix) adalah imbuhan yang terletak di awal
kata. Proses awalan (prefiks) ini disebut prefiksasi (prefixation).
Berdasarkan dan pertumbuhan bahasa yang terjadi, maka awalan dalam bahasa Indonesia dibagi menjadi dua macam,
yaitu imbuhan asli dan imbuhan serapan, baik dari bahasa daerah maupun dari
bahasa asing. Awalan dalam bahasa Indonesia adalah me, ber, di, ke, ter, se, pe, per
v Awalan me
dan pe
- Fungsi
awalan me : membentuk Kata
Kerja Aktif
- Fungsi
awalan pe : membentuk Kata
Benda
- Perubahan
Bentuk :
|
No
|
Perubahan
Bentuk
|
Bertemu
Dengan
|
Contoh
|
|
|
Me-
|
Pe-
|
|||
|
|
Me-
|
Pe-
|
l, m, n, r, w
|
Melawan, merawat, pewaris, pemasak,
|
|
|
Mem-
|
Pem-
|
b, f, v, p
|
Membeli, memfitnah, pemveto, memukul
|
|
|
Men-
|
Pen-
|
c, d, j, t,
|
Mencuci, mendorong, penjual,
menulis,,
|
|
|
Meng-
|
Peng-
|
a, i, u, e, o, g, h, k
|
Mengambil, menggulung, penghancur
|
|
|
Meny-
|
Peny-
|
s
|
Menyapu, penyabar
|
|
|
Menge-
|
Penge-
|
Kata bersuku tunggal
|
Mengebom, pengepel
|
- Nosi atau
makna gramatikal imbuhan me-
1) Melakukan perbuatan : mengambil, menjual, menilai.
2) Melakukan perbuatan dengan alat : mengail, menyabit, mencangkul.
3) Menjadi atau dalam keadaan : menurun, meluap, meninggi.
4) Membuat kesan seolah-olah : membisu, mengalah.
5) Menuju ke : mendarat, menepi.
6) Mencari : mendamar, merotan
§ Nosi atau makna gramatikal imbuhan
pe-
1) Orang yang me- : penyuruh, penatar,
perotan, penilai, pencangkul.
2) Orang yang di- : pesuruh, petatar, pekerja,
Ø Awalan Ber
§ Fungsi awalan
me : membentuk Kata Kerja Aktif
§ Perubahan
Bentuk :
1) Apabila diikuti bentuk dasar yang
berhuruf awal /r/ atau yang suku kata awalnya berakhir dengan –er-, maka awalan
ber- berubah menjadi be-.
Contoh: ber + rantai → berantai
a. Apabila bertemu dengan kata ajar
maka ber berubah menjadi bel.
Contoh: ber + ajar → belajar
b. Apabila diikuti kata dasar selain
yang disebutkan di atas, ber- tidak mengalami perubahan bentuk.
Contoh:
ber + balik → berbalik
§ Nosi atau makna gramatikal imbuhan
me-
1) Melakukan perbuatan : bernyanyi,
berbaur, berdandan.
2) Mempunyai : beratap, berhasil,
beruang, berambut.
3) Memakai/menggunakan/mengendarai :
berbaju, bersepeda, bersepatu.
4) Mengeluarkan : bertelur, berbau,
berair, berkata.
5) Berada dalam keadaan : bergegas,
beramai-ramai.
6) Menyatakan sifat atau sikap mental :
berbaik hati, berbahagia, berhati-hati.
7) Menyatakan ukuran, jumlah :
bertahun-tahun, bermeter-meter, berdua
Ø Awalan di
dan ter
§ Fungsi awalan di dan ter : membentuk KK Pasif
§ Perubahan bentuk : tidak mengalami perubahan
bentuk
§ Nosi atau makna gramatikal :
1) Sudah di- atau dapat di- : tertutup,
terbuka.
2) Ketidaksengajaan : terbawa,
terpegang, terlihat, tertendang.
3) Tiba-tiba : teringat, terjatuh.
4) Dapat/kemungkinan : ternilai, terangkat.
5) Paling/superlatif: tertua, terbagus,
terindah.
6) Sampai ke- : tertulang, terbuku.
Ø Awalan se
§ Fungsi awalan se : membentuk KB
§ Bentuk : tidak mengalami perubahan bentuk
§ Nosi atau makna gramatikal
1) Berarti satu: sebuah, sebatang,
seorang, seekor, sebutir.
2) Berarti seluruh atau seisi : sedesa,
serumah, sekampung, senegeri.
3) Berarti sama-sama : sepermainan,
seperjuangan.
4) Sama dengan : setinggi (gunung),
sekuat (gajah), sebodoh (keledai).
5) Menyatakan waktu : sesudah,
setibanya.
Ø Awalan ke-
§ Fungsi awalan ke : membentuk KB, KK Intransitif, K Bil
Tingkat/Kumpulan
§ Bentuk : tidak mengalami perubahan bentuk
§ Nosi atau makna gramatikal
1) Bermakna tingkat atau kumpulan :
kesatu, kedua, ketiga, kesepuluh.
2) Yang di- : ketua, kehendak, kekasih.
o
Akhiran (sufiks/ sufix)
Akhiran (sufiks/ sufix) adalah imbuhan yang terletak di
akhir kata. Dalam proses pembentukan kata ini tidak pernah mengalami perubahan
bentuk. Proses pembentukannya di sebut safiksasi (suffixation). Akhiran terdiri
dari kan, an, i, nya, man, wati, wan, asi, isme, in, wi, dan lainnya dalam
contoh.
Ø Akhiran –an
- Fungsi awalan ke : membentuk KB, KK Intransitif, K
Bil Tingkat/Kumpulan
- Bentuk : tidak mengalami perubahan
bentuk
- Nosi atau makna gramatikal
1) menyatakan tempat : pangkalan,
kubangan
2) menyatakan alat : ayunan, timbangan
3) menyatakan hal atau cara : didikan,
pimpinan
4) menyatakan akibat, hasil perbuatan :
hukuman, balasan
5) menyatakan sesuatu yang di- :
cacatan, suruhan
6) menyatakan menyatakan seluruh,
kumpulan : lautan, sayuran
7) menyatakan menyerupai : anak-anakan,
kuda-kudaan
8) menyatakan tiap-tiap : tahunan,
mingguan
9) menyatakan mempunyai sifat : asinan,
kuningan
Ø Akhiran –kan
- Fungsi awalan ke : membentuk KK
- Bentuk : tidak mengalami perubahan
bentuk
- Nosi atau makna gramatikal
1) menyatakan perbuatan untuk orang lain
: membacakan, menghidangkan, dibelikan.
2) membuat jadi : meninggikan,
diputihkan.
3) tidak sengaja : termanfaatkan
4) pengantar objek sebagai pengganti
kata depan : bertaburkan, bermandikan
Ø Akhiran –i
- Fungsi awalan ke : membentuk KK
- Bentuk : tidak mengalami perubahan
bentuk
- Nosi atau makna gramatikal
1) Menyatakan perbuatan yang
berulang-ulang : memukuli, mencomoti.
2) Memberi, membubuhi : menandatangani,
membumbui
3) Menghilangkan : menguliti
Ø Akhiran
–nya
- Fungsi awalan ke : membentuk KB, dinginnya, enaknya,
tenggelamnya
- Bentuk : tidak mengalami perubahan
bentuk
- Nosi atau makna gramatikal
1) Menjelaskan atau menekankan kata
yang di depannya : Di rumah ini ada hantunya.
2) Menjelaskan situasi : Ia belajar
dengan tekunnya.
3) Menyertai kata keterangan : agaknya,
rupanya, sebenarnya, sesungguhnya.
Ø Akhiran –in
- Fungsi awalan ke : membentuk KB, hadirin, karimin,
muslimin
- Bentuk : tidak mengalami perubahan
bentuk
- Nosi atau makna gramatikal
1) Menyatakan orang : hadirin, karimin,
muslimin
2) Menyatakan orang yang ber- : mukimin
Ø Akhiran –wan
dan -wati
- Fungsi awalan ke : membentuk KB
- Bentuk : tidak mengalami perubahan
bentuk
- Nosi atau makna gramatikal
1) Menyatakan orang yang bersifat :
dermawan
2) Menyatakan orang yang mempunyai :
hartawan, rupawan, karyawati
3) Menyatakan orang yang bekerja di bidang
: wartawan, peragawan, peragwati
Ø Akhiran
–wi
- Fungsi awalan ke : membentuk KS
- Bentuk : tidak mengalami perubahan
bentuk
- Nosi atau makna gramatikal
1) Menyatakan sifat : manusiawi,
duniawi, ukhrowi
o
Sisipan (infiks/infix)
Sisipan (infiks/infix) adalah
imbuhan yang terletak di dalam kata. Jenis imbuhan ini tidak produktif, artinya
pemakaiannya terbatas hanya pada kata-kata tertentu. Jadi hampir tidak
mengalami pertambahan secara umum. Sisipan terletak pada suku pertama kata
dasarnya, yang memisahkan konsonan pertama dengan vokal pertama suku tersebut.
Prosesnya imbuhan kata tersebut di sebut infixation. Imbuhan yang berupa
sisipan adalah -er-, -el-, -em- dan -in.
- Fungsi awalan ke : membentuk KB
- Bentuk : tidak mengalami perubahan
bentuk
- Nosi atau makna gramatikal
1) Menyatakan banyak : gerigi,
gelombang, temali, geligi, serabut,
2) Menyatakan frekuensi : gemetar,
gemuruh, cericit
3) Menyatakan sifat : kemuning,
gemilang, telunjuk
4) Menyatakan hal : kinerja
o
Konfiks
Konfiks atau imbuhan berturutan adalah imbuhan gabung yang melekat pada kata dasar secara tidak bersama-sama. Kata membelikan terdiri atas bentuk dasar beli, imbuhan me- dan kan. Imbuhan mem dan kan pada kata membelikan
turun secara bertahap. Mula-mula terbentuk kata membeli yang bermakna melakukan perbuatan beli dari imbuhan mem dan beli. Setelah itu baru ditambahi akhiran kan sehingga bermakna membeli untuk orang lain. Mem – kan pada kata membelikan disebut
dengan konfiks atau imbuhan gabung.
Ø Konfiks Ber-kan
- Fungsi awalan ke : membentuk KK
- Bentuk :
tidak mengalami perubahan bentuk
- Nosi atau makna gramatikal
1) Menggunakan sebagai : bersenjatakan,
berdasarkan
Ø Konfiks Ber-an
- Fungsi awalan ke : membentuk KK
- Bentuk : tidak mengalami perubahan
bentuk
- Nosi atau makna gramatikal
1) Menyatakan banyak serta tidak
teratur: berlarian, beterbangan
2) Menyatakan saling atau berbalasan : berpotongan,
bersebelahan
v Konfiks Di-kan
- Fungsi awalan ke : membentuk KK
- Bentuk : tidak
mengalami perubahan bentuk.
- Nosi atau makna gramatikal
1) Dikenai
perbuatan orang lain : dibawakan, dibelikan, disewakan
2) Dikenai
perbuatan pada bentuk dasar : disebarkan, diucapkan, diawetkan
3) Dibuat jadi ...
: ditinggikan, dilebarkan, dipanjangkan
v Konfiks Di-i
- Fungsi awalan ke : membentuk KK
- Bentuk : tidak
mengalami perubahan bentuk.
- Nosi atau makna gramatikal
1) Menyatakan
berulang-ulang : dipukuli, ditulisi
2) Diberi : digarami,
digulai, diwarnai
3) Dibuat jadi ...
: dipanasi
v Konfiks Me-kan
- Fungsi awalan ke : membentuk KK
- Bentuk : men – kan,
mem – kan, meng – kan, meny – kan, menge - kan.
- Nosi atau makna gramatikal
1) menyebabkan
jadi : membingungkan, menyeragamkan, menghancurleburkan
2) melakukan
sesuatu untuk orang lain : membukakan, membelikan
v .Konfiks Me – i
- Fungsi awalan ke : membentuk KK
- Bentuk : men – i,
mem – i, meng – i, meny – i, menge - i.
- Nosi atau makna gramatikal
1) membuat jadi :
menerangi
2) meberi atau
membubuhi : menggarami, menggulai
3) melakukan sesuatu: menanami
4) melakukan berulang-ulang : menembaki,
memukuli
5) merasakan sesuatu pada : menyukai,
menyenangi
v Konfiks Ter-kan
- Fungsi awalan ke : membentuk KK
- Bentuk : tidak
mengalami perubahan bentuk
- Nosi atau makna gramatikal
1) dapat dilakukan
: terselesaikan
2) tidak sengaja
dilakukan : tertanamkan
v Konfiks Ter- i
- Fungsi awalan ke : membentuk KK
- Bentuk : tidak
mengalami perubahan bentuk
- Nosi atau makna gramatikal
1) dapat dilakukan
: terseberangi
2) tidak sengaja
terjadi : terlempari
o
Simulfiks
Simulfiks
adalah imbuhan gabung yang
melekat pada kata dasar secara bersama-sama.
Simulfiks berbeda dari konfiks. Kata kemanusiaan
berbeda dengan membelikan. Imbuhan
ke-an pada kata kemanusiaan termasuk simulfiks karena
turun atau melekat secara bersama-sama.
Tidak ada kata kemanusia dan manusiaan. Imbuhan mem dan kan pada kata membelikan turun secara bertahap.
Mula-mula terbentuk kata membeli yang
bermakna melakukan perbuatan beli dari imbuhan mem dan beli. Setelah itu
baru ditambahi akhiran kan sehingga
bermakna membeli untuk orang lain. Imbuhan
ke-an pada kata kemanusiaan disebut simulfiks, sedangkan imbuhan me-kan pada
kata membelikan disebut dengan konfiks.
Ø Simulfiks
Pe-an
- Fungsi
awalan ke : membentuk KB
- Bentuk :
Pe-an, Pem-an, Pen-an, Peny-an, Peng-an, Penge-an.
- Nosi
atau makna gramatikal
1)
Menyatakan hal atau peristiwa : Pembinaan, Penghijauan, pemasaran
2)
Menyatakan proses : Pembayaran, penulisan
3)
Menyatakan tempat : pemakaman, pelelangan
4)
Menyatakan alat : penggorengan, penglihatan
Ø Simulfiks
Per-kan
- Fungsi
awalan ke : membentuk KK
- Bentuk : tidak
mengalami perubahan bentuk
- Nosi
atau makna gramatikal
1)
Menyatakan jadikan bahan : pertunjukan
2)
Menyatakan jadikan supaya : perkenalkan
Ø Simulfiks Per-an
- Fungsi
awalan ke : membentuk KB
- Bentuk :
Per-an, Pel-an, Pe-an
- Nosi
atau makna gramatikal
1)
Menyatakan melakukan hal : pergerakan
2)
Menyatakan masalah tentang : perekonomian, perhotelan
3)
Menyatakan tempat : peristirahatan, persembunyian
4)
Menyatakan alat untuk : peraturan
5)
Menyatakan daerah, wilayah, atau kawasan : perkampungan,
pegunugnan, pedalaman
Ø Simulfiks Per-i
- Fungsi
awalan ke : membentuk KK
- Bentuk : tidak
mengalami perubahan bentuk
- Nosi
atau makna gramatikal
1)
Menyatakan perbuatan supaya jadi : perbaiki
2)
Menyatakan lperbuatan yang
disebutkan pada kata dasarnya : persetujui
v Simulfiks
Ke – an
- Fungsi
awalan ke : membentuk KB
- Bentuk : tidak
mengalami perubahan bentuk
- Nosi
atau makna gramatikal
1)
hal atau peristiwa : kedatangan, kenaikan,
keterlambatan
2)
tempat atau wilayah : kedutaan, kelurahan
3)
sedikit bersifat atau keadaan :
kehijauan, kepucatan
4)
terlalu : kebesaran, keasinan
5)
mengalami atau tidak sengaja : kebanjiran, kedinginan
6)
hal atau masalah : kehutanan,
kepariwisataan
v
Simulfiks Memper-kan
- Fungsi
awalan ke : membentuk KK
- Bentuk : tidak
mengalami perubahan bentuk
- Nosi
atau makna gramatikal
1)
menjadikan sebagai bahan : memperdebatkan
2)
menjadikan supaya : mempersiapkan
v Simulfiks
Memper-i
- Fungsi
awalan ke : membentuk KK
- Bentuk : tidak
mengalami perubahan bentuk
- Nosi
atau makna gramatikal
1)
membuat supaya objeknya menjadi atau
menjadi lebih : memperbaiki
2)
melakukan yang disebut pada kata dasarnya : memperturuti
v Simulfiks Diper-kan
- Fungsi
awalan ke : membentuk KK
- Bentuk : tidak
mengalami perubahan bentuk
- Nosi
atau makna gramatikal
1)
dibuat jadi bahan… :
diperdebatkan
2)
dibuat jadi lebih ... :
dipersiapkan
v Simulfiks
Diper – i
- Fungsi
awalan ke : membentuk KK
- Bentuk : tidak
mengalami perubahan bentuk
- Nosi
atau makna gramatikal
1)
dibuat jadi lebih… :
diperbaiki
(b) Kata Ulang
atau Reduplikasi
Kata
ulang atau reduplikasi adalah kata dasar atau bentuk dasar yang mengalami perulangan baik
seluruhnya maupun sebagian. Dalam hal ini yang
diulang bukan morfem melainkan kata. Kata sepeda-sepeda berasal dari satu kata sepeda. Sebaliknya, kata kupu-kupu
bukanlah kata ulang karena dalam bahasa Indonesia tiak dikenal kupu. Oleh
karena itu, bentuk tersebut bukan merupakan kata ulang.
o Prinsip pengulangan
1)
Selalu mempunyai dasar yang diulang
2)
Proses pengulangan tidak mengubah jenis(kelas) kata
3)
Ada relevansi makna antara
bentuk dasar dengan perulangannya
Contoh
:
v meja-meja
1)
Bentuk dasar meja-meja
adalah meja
2)
Meja-meja termasuk KB, meja
juga termasuk KB
3)
Meja-meja artinya banyak
meja, meja artinya sebuah meja
4)
Simpulan : Meja-meja
termasuk kata ulang karena memenuhi semua syarat KU.
v Ular-ular
(wejangan)
1)
Bentuk ulang ular-ular
diasumsikan berasal dari bentuk dasar ular
2)
Ular-ular termasuk KB, ular
juga termasuk KB
3)
Ular-ular artinya wejangan,
ular artinya binatang
4)
Simpulan : Ular-ular tidak
termasuk kata ulang karena tidak memenuhi syarat relevansi
makna.
o Macam-macam kata ulang
Ø Kata ulang utuh / penuh : rumah-rumah (banyak rumah), berasal dari kata dasar rumah
Ø Kata ulang berimbuhan :
mobil-mobilan (menyerupai mobil), berasal dari kata dasar mobil
Ø Kata ulang sebagian/parsial :
melempar-lempar (berulang-ulang melempar), berasal dari kata dasar nelempar.
Ø Kata ulang dwi purwo : tetangga,
sesama, tetamu, tetiba, lelaki
Ø Kata ulang berubah bunyi : sayur-mayur,
lauk-pauk, bolak-balik
o
Arti kata ulang
1) Banyak tak tentu : lembu-lembu
2) Bermacam-macam : sayur-sayuran
3) Menyerupai : kuda-kudaan,
dokter-dokteran, mobil-mobilan
4) Bersifat : kekanak-kanakan
5) Menyatakan intensitas Kualitatif
: kuat-kuat
6) Menyatakan intensitas Kuantitatif : rumah-rumah
7) Menyatakan intensitas Frekuentatif : menggeleng-gelengkan
8) Menyatakan saling (resiprokal) : salam-salaman,
tendang-menendang
9) Menyatakan arti seperti pada bentuk
dasarnya : masak-masakan
10) Menyatakan perbuatan yang seenaknya : duduk-duduk
11) Menyatakan arti paling (superlative) : sebesar-besarnya
12) Menyatakan kumpulan : dua-dua
13) Menyatakan walaupun : hujan-hujan
14) Menyatakan selalu : mereka-mereka
(c) Kata Majemuk (Kompositum)
Kata majemuk
atau kompositum adalah gabungan
beberapa kata dasar yang berbeda membentuk suatu arti baru. Kata majemuk
berbdea dengan frase. Gabungan kata pada frase masih mempertahankan makna
masing-masing kata, sedangkan pada kata majemuk sudah muncul makna baru.
o
Ciri-ciri Kata Majemuk
1) Salah satu atau
semua unsurnya berupa pokok kata.
Yang
dimaksud dengan istilah pokok kata ialah satuan gramatik yang tidak dapat
berdiri sendiri dalam tuturan biasa dan secara gramatik tidak memiliki sifat
bebas, yang dapat di jadikan bentuk dasar bagi sesuatu kata. Misalnya : juang,
temu, lomba, tempur, tahan, dan masih banyak lagi.
Satuan gramatik yang unsurnya berupa
kata dan pokok kata, atau kata semua, berdasarkan ciri ini, merupakan kata
majemuk. Unsur yang berupa kata dan pokok kata misalnya kolam renang,
pasukan tempur, barisan tempur, medan tempur, brigade tempur, daya tempur,
lomba lari, tenaga kerja dan masih banyak lagi. Sedangkan unsur yang berupa
kata yaitu kolam, pasukan, barisan, medan, brigade, daya, lari, kamar, jam,
waktu, tenaga dan masa. Kata majemuk yang tersusun dari pokok kata semua
misalnya terima kasih, lomba tari, lomba rias, lomba nyanyi, lomba renang,
tanggung jawab, simpan pinjam, jual beli, dan sebagainya.
2) Unsur-unsurnya
tidak mungkin dipisahkan, atau tidak mungkin diubah strukturnya.
Misalnya terdapat pada kata majemuk kaki
tangan.
§ Ia menjadi kaki
tangan musuh
- Ia menjadi
kaki dan tangan musuh
- Kaki dan tangannya
sudah tidak ada
Dari kalimat di atas terlihat
bahwa kaki tangan merupakan kata majemuk karena kedua unsurnya
tidak mungkin di pisahkan. Satuan anak buah berbeda dengan anak orang
sekalipun unsurnya sama, berupa kata nominal semua. Pada anak orang
unsur anak dan orang dapat dipisahkan, atau dapat diubah
struktunya. Tetapi unsur-unsur pada anak buah tidak dapat dipisahkan dan
juga tidak dapat diubah strukturnya. Demikianlah dapat disimpulkan bahwa anak
buah adalah kata majemuk, sedangkan anak orang adalah frase. Berikut
beberapa contoh kata majemuk berdasar ciri ini ruang makan, baju dalam, daun
pintu, mata pencaharian, pejabat tinggi, kapal terbang, anak timbangan, dan
lain-lain.
3) Salah satu atau
semua unsurnya berupa morfem unik.
Morfem unik yaitu morfem yang hanya
mampu berkombinasi dengan satu satuan tertentu. Misalnya simpang
siur, gelap gulita, terang benderang.
o Jenis Kata Majemuk
Ada empat dasar yang biasanya digunakan untuk menjeniskan
kata majemuk, yaitu berdasarkan hubungan gramatik antar usurnya, berdasarkan
hubungan semantis antarunsurnya, berdasarkan jumlah bentuk dasar yang membentuk
kata majemuk itu, dan berdsarkan kelas kata bentuk dasar yang membentuknya.
1)
Berdasarkan Hubungan Gramatis Antarunsurnya
- Kata majemuk endosentris : kamar mandi, hari besar, perdana menteri, akil balig
- Kata majemuk eksosentris : kaki tangan, tua muda, sunyi senyap
2)
Berdasarkan Hubungan Semantis
Antarunsurnya
- Kata
majemuk setara : tanggung
jawab
- Kata
majemuk bersinonim : pucat
pasi
- Kata
majemuk berantonim : simpan
pi
3) Berdasarkan
Jumlah Bentuk Dasar yang Membentuknya
- Kata
majemuk dengan dua bentuk dasar : meja tulis, kepala dingin, dan membabi buta
- Kata
majemuk dengan tiga bentuk dasar : telur mata sapi, kereta api cepat, dan setali tiga uang
4) Berdasarkan
Jenis Kata Pembentuknya
- Kata
majemuk berstruktur KB + KB : tangan
besi
- Kata
majemuk berstruktur KB + KKj : jam
kerja, jam terbang, piring terbang, jam belajar
- Kata
majemuk berstruktur KB + KS : mulut
besar, kepala dingin, tangan panjang
- Kata
majemuk berstruktur KB + KBil : kepala
empat, kaki lima, simpang lima
- Kata
mejemuk berstruktur KKj + KB : turun
gunung, naik daun, naik darah
- Kata
majemuk berstruktur KKj +
KKj : pulang pergi, peluk cium, bujuk rayu
- Kata
majemuk berstruktur KKj + KS : terima bersih, sapu bersih, tebas mentah
- Kata
majemuk berstruktur KS + KS :
gagah berani, cerdik cendekia, duka lara
- Kata
majemuk berstruktur KS + KB : besar
mulut, panjang tangan, rendah
hati
- Kata
majemuk berstruktur KBil + KS : Setengah
sadar, setengah tua, setengah
hati
No comments:
Post a Comment