1.
Ragam Bahasa Berdasarkan Media
a.
Ragam bahasa lisan
Ragam bahasa
lisan adalah bahasa yang disampaikan secara lisan. Ragam ini ditandai dengan
penggunaan lafal atau pengucapan, intonasi, kosakata, penggunaan tatabahasa
dalam pembentukan kata dan penyusunan kalimat.
Dalam ragam bahasa lisan terdapat dua ragam, yaitu (1) ragam baku dan
(2) ragam nonbaku.
Contoh:
1) Ragam
baku
a)
Asas, andal, bus, energi, izin, imbauan,
karisma, khawatir, komputer, logis, dan lain-lain.
b)
AC (ace),
BBC (bebece), TV (teve), dan lain-lain.
2) Ragam
Nonbaku
a)
Bini
Pak Camat bina ibu-ibu bikin kerajinan dari bambu.
b)
Di sini akan membicarakan pertumbuhan
ekonomi tahun 2013.
c)
Untuk pembicara selanjutnya diharuskan
memakai pakaian resmi.
d)
Di Semarang mempunyai stasiun televisi
swasta.
b.
Ragam Bahasa Tulis
Ragam bahasa
tulis adalah bahasa yang disampaikan melalui tulisan. Ragam bahasa ini lebih
banyak menekankan penggunaan ragam bahasa baku, ejaan (EYD) yang baku, kosakata
yang baku, bentuk kata berimbuhan, dan kalimat yang lengkap secara gramatikal.
Meskipun dalam karya sastra, ragam bahasa tulis dapat tidak memenuhi
syarat-syarat kebakuan tersebut.
Contoh:
1) Isteri
Pak Camat membina ibu-ibu membuat kerajinan dari bambu.
2) Arjuna
sedang menulis skripsi.
3) Rima
sedang memasak sayur di dapur pagi tadi.
4) Seminar
ini akan membahas pertumbuhan ekonomi pada tahun ini.
5) TKI
yang dikirim ke luar negeri harus memiliki dokumen yang lengkap.
6) “Entah
kenapa dia gak ngerti juga pas aku
ajak ngomong,” ujarnya.
2.
Ragam Bahasa Berdasarkan Waktu
a.
Ragam Bahasa Lama
Ragam bahasa
lama lazim digunakan dalam penulisan naskah-naskah lama atau kuno.
Contoh:
Kolonialisme,
feodal, bobot, dan lain-lain.
b.
Ragam Bahasa Modern
Ragam bahasa
yang ditandai dengan kata-kata baru dan mengekspresikan ilmu pengetahuan dan
teknologi modern.
Contoh:
Internet, jaringan,
daring, seluler, dan lain-lain
3.
Ragam Bahasa Berdasarkan Pesan
Komunikasi
a.
Ragam Bahasa Resmi
Ragam bahasa
resmi adalah bahasa yang digunakan secara resemi untuk keperluan-keperluan yang
bersifat formal. Penggunaan bahasa ragam resmi ditandai dengan ketaatan
menggunakan bahasa baku dalam semua aspek, pelafalaan, ejaan, kosakata,
penggunaan kata dan frasa, penyusunan kalimat dan paragraf. Jenis-jenis ragam bahasa resmi dapat
dijelaskaan sebagai berikut:
1)
Ragam Bahasa Ilmiah
Ragam bahasa
ilmiah adalah bahasa yang disampaikan secara efektif, efisien, baik, dan benar.
Ragam bahasa ilmiah lazim digunakan untuk mengkomunikasikan proseskegiatan dan
hasil penalaran ilmiah, misalnya untuk
penulisan proposal, laporan, karya tulis ilmiah, resensi, dan
sebagainya.Disamping itu, ragam bahasa ilmiah juga tampak dalam bahasa lisan,
misalnya pada saat presentasi makalah ilmiah, presentasi skripsi, presentasi
tesis, presentasi disertasi, pidato pengukuhan guru besar, dan lain-lain. Ciri-ciri
ragam bahasa ilmiah adalah sebagai berikut:
a) Struktur
kalimat jelas dan bermakna lugas;
b) Struktur
wacana bersifat formal, mengacu pada standar konvensi naskah;
c) Singkat,
berisi analisis dan pembuktian, menyajikan konsep secara lengkap;
d) Cermat
dalam menggunakan unsur baku istilah/kata, ejaan, bentuk kata, kalimat,
paragraf, wacana;
e) Cermat
dan konsisten menggunakan penalaran dari penentuan topik, pendahuluan,
deskripsi teori, deskripsi data, hasil analisis, sampai dengan kesimpulan dan
saran;
f) Menggunakan
istilah khusus yang bersifat teknis dalam bidang ilmu tertentu;
g) Objektif,
dapat diukur kebenarannya secara terbuka oleh masyarakat umum, menghindari
bentuk penilain personal, dan ungkapan subjektif;
h) Konsisten
dalam pembahasan topik, pengendalian variabel, permasalahan, tujuan, penalaran,
istilah, sudat pandang, pendahuluan, landasan teori, deskripsi data, analisis
data, hasil analisis, sampai dengan kesimpulan dan saran;
i)
Memperhatikan etika ilmiah.
Contoh:
Keputusan
strategis mempunyai implikasi yang kompleks bagi kegiatan bisnis. Keputusan
pembauran pelanggan dengan strategi memenangkan persaingan akan mempengaruhi
keseluruhan unit kerja usaha atau divisi usaha yang lain. Semua divisi tersebut
akan dipengaruhi oleh alokasi dan relokasi tanggung jawab dan pemberdayaan
sumber daya yang ditimbulkan oleh suatu keputusan.
2)
Ragam Pidato Resmi
Ragam bahasa resmi adalah bahasa yang disampaikan
secara lisan dalam kesempatan yang resmi, misalnya dalam acara kenegaraan,
keagamaan, acara adat dan budaya, dan lain-lain. Yang termasuk ragam pidato
resmi misalnya pidato kenegaraan presiden setiap tanggal 16 Agustus, khotbah,
pidato resepsi pernikahan, dan lain-lain.
Contoh:
Laporan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan kepada Presiden RI pada upacara pembukaan Kongres
Bahasa Indonesia V di Jakarta 28 Oktober 1988.
Pertama-tama,
kami atas nama para peserta Kongres Bahasa Indonesia V menyatakan kegembiraan serta rasa terima
kasih yang sedalam-dalamnya atas perkenan Bapak Presiden untuk meresmikan
dibukanya Kongres Bahasa Indonesia V ini di istana Negara. Hal ini sangat
menjunjung martabat kongres yang penting ini dan sekaligus meletakkan tanggung
jawab pada Kongres ini agar makin
bersungguh-sungguh mengerahkan segala daya upayanya untuk menghasilkan
gagasan-gagasan yang bermutu demi pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia.
3)
Ragam Bahasa Tulis Resmi
Ragam bahasa
tulis resmi adalah bahasa yang disajikan dalam bentuk tertulis untuk
keperluan-keperluan yang bersifat resmi dan formal. Ragam bahasa tulis resmi
ditandai oleh (1) penyajian materi/pesan yang bersifat mulia dan kebenaran yang
bersifat universal, (2) penggunaan fungsi-fungsi gramatikal secara eksplisit
dan konsisten, (3) penggunaan bentuk lengkap, tidak disingkat, (4) penggunaan
imbuhan secara eksplisit dan konsisten, (5) penggunaan kata ganti resmi, (6)
penggunaan frase yang baku, (7) penggunaan ejaan yang baku.
Yang termasuk
ragam bahasa tulis resmi misalnya penulisan dokumen-dokumen kenegaraan,
penulisan surat perjanjian, penulisan surat izin, dan lain-lain.
4)
Ragam Bahasa Berita atau Jurnalistik
Ragam bahasa
berita lazim digunakan dalam pemberiutaan melalui media elektronik, media
cetak, dan jurnal. Bahasa berita menyajikan fakta secara utuh dan objektif.
Untuk menjamin objektivitas berita, penyaji perlu memperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
a)
tidak menambah atau mengurangi fakta
yang disajikan,
b)
tidak mengubah fakta berdasarkan
pendapat penyaji,
c)
tidak menambahkan tanggapan pribadi,
d)
tidak memihak kepada siapa pun,
e)
tidak menggunakan perasaan suka atau
tidak suka.
Contoh:
Alonso Tak
Tertarik Kembali ke McLaren
SINGAPURA
– Usai direkrutnya Kimi Raikkonen oleh Ferrari untuk
musim 2014 mendatang, McLaren lewat prinsipal tim Martin Whitmarsh mencoba
merayu Fernando Alonso, dengan mengatakan kalau sang pembalap akan kembali
bergabung pada 2014 atau 2015. Namun, Alonso menegaskan kalau dia tak berniat
untuk meninggalkan Ferrari. Alonso juga mengatakan kalau dia tak memiliki
masalah dengan siapapun saat membela McLaren pada 2007. Menurutnya, saat itu,
pertarungan dengan Lewis Hamilton hanya merupakan bagian dari filosofi tim yang
tak mengistimewakan salah satu pembalapnya untuk meraih gelar juara pada tahun
tersebut.
b.
Ragam Bahasa Tidak resmi
Ragam bahasa
tidak resmi terdapat dalam ragam bahasa lisan maupun tulis. Ragam bahasa ini
lazim digunakan dalam situasi berbahasa yang tidak resmi. Oleh karena itu,
dapat dipahami ragam bahasa ini sering tidak memenuhi syarat-syarat kebakuan.
Yang termasuk ragam bahasa tidak resmi adalah:
1)
Ragam Bahasa Sastra
Dalam karya
sastra, baik tertulis maupun lisan, digunakan bahasa ragam tidak resmi. Ragam
bahasa ini mengutamakan unsur-unsur keindahan, penulis cenderung menekankan
gaya pengungkapan simbolik dengan memadukan unsur intrinsic dan ekstrinsik. Ragam
bahasa satra juga ditemukan dalam bahasa iklan. Yang membedakannya dengan karya
sastra adalah tujuannya. Karya sastra dibuat dengan tujuan untuk menyenangkan
pembacanya atau sebagai sarana rekreasi kontemplatif, sedangkan iklan dibuat
dengan tujuan untuk membujuak atau mempengaruhi pembacanya atau pendengarnya.
Contoh:
a)
Karya sastra
Pazel
Dua orang, laki-laki dan
perempuan, masih muda, agak lusuh setelah sebuah perjalanan jauh, masing-masing
dengan tas punggung besar mulai melangkah menyusuri koridor setelah menerima
kunci dengan gantungan papan sederhana warna cokelat tua.
“Yakin di sini aman?” si perempuan
bertanya dengan mata menyelidik seputar.
“Semoga saja. Yuk!” laki-laki hitam manis
bertato elang di lengan kanan itu menggenggam jemari perempuan berambut cepak
bercat cokelat mendekati oranye. Dua-duanya mempercepat langkah, hingga
gelang-gelang perak yang hampir memenuhi lengan kiri perempuan muda yang manis
itu terdengar gemerincing.
Pintu bernomor 18 terbuka. Kamar
sederhana, standar penginapan tua yang murah. Dua dipan kayu dengan kasur
tertutup seprai putih dipisahkan sebuah meja telepon dan kipas angin tergantung
di atasnya, kaca dan meja rias kecil, lemari kayu, jendela lebar dengan gorden putih,
kamar mandi kecil dan … sebuah pintu penghubung dengan kamar sebelah sepertinya
selalu terkunci.
Yudis menurunkan ransel dan duduk pada
dipan di dekat jendela. Ajeng duduk pada kasur satunya. Mereka lantas mulai
membongkar barang bawaan.
“Uff
.. so? What’s next?” tanya Ajeng.
“Aku mau menghubungi ayahmu. Minta uang
tebusan.”
“Ayahku? Dia nggak bakalan peduli aku
digondol setan, demit, atau genderuwo, bahkan sepertinya aku mati pun dia nggak bakal ambil pusing,” kata Ajeng
perlahan, cuek. Yudis terhenyak.
“Lantas? Kita sudah jauh-jauh sampai di
sini, payah kalau sampai gagal.”
“Satu-satunya yang bisa diharapkan cuma … my mommy.” Ajeng menenggak air mineral
langsung dari botolnya.
“Hm, begitu! Ya … nggak masalah. Ajeng
tunggu di sini, jangan ke mana-mana. Aku nyari telepon umum dulu, oke?”
Yudis menyambar botol itu, minum sedikit,
lantas bergegas keluar. Tinggal Ajeng yang tercenung sendiri, masygul tanpa
berkata apa-apa. Sementara itu sang mentari tetap setia memberikan kehangatan
walaupun sebentar lagi akan kembali ke peraduannya. ……………………………………
Dari
Pazel Karya Endah Sulistyorini
b)
Iklan
DEPOSITO
MERDEKA
BUNGA HINGGA
7%
BEBAS PREMI
DAN JAMINAN ASURANSI 1 MILYAR
MERDDEKA !!!!
CAIR KAPAN SAJA
ü DI KANTOR BANK MANA SJA
ü TANPA PENALTI
2)
Ragam Santai atau Pergaulan
Dalam pergaulan
atau komunikasi sehari-hari tentu tidak akan tepat apabila menggunakan ragam
bahasa baku. Untuk menciptakan suasana yang akrab, komunikasi antarteman
dilaksanakan dengan menggunakan bahasa ragam santai tanpa terpaku pada
aturan-aturan kebahasaan yang baku. Yang termasuk penggunaan bahasa raga ini
misalnya pertunjukan humor atau lawak, tanya jawab santai, percakapan dengan
teman sebaya yang sudah akrab, dan lain-lain. Dalam bahasa tulis, ragam santai
dapat digunakan pada saat penulisan surat cinta atau buku harian.
No comments:
Post a Comment