Saturday, October 19, 2019

Egois

Siang ini begitu terik. Panas sekali. Aku baru saja tiba di rumah dari jumatan di masjid kampungku. Tidak biasanya sehabis jumatan hatiku malah merasa gelisah –atau tepatnya jengkel. Sepanjang perjalanan pulang aku terus menggerutu.
Tadi saat khotib menyampaikan petuahnya, anak-anak –ya anak-anak jamaah masjid kampung juga—ramai sekali. Berisik. Main bola plastik di teras masjid. Padahal Pak Yai sedang berkhotbah di mimbar. Teriak keras-keras ... bunyi ‘bak-buk’ bola ditendang ... sangat mengganggu. Mengganggu kekhusukan ibadah Jumat hari itu. Aku tidak tahu kenapa tidak ada yang tergerak untuk mengingatkan anak-anak itu. Bahkan bapak dan ibunya pun tidak ada yang mengingatkan mereka. 
Jangan salahkan anak-anak! Sudah fitrahnya anak-anak itu senang bermain. Jangankan bola, botol plastik kosong pun bisa jadi bola sepak yang mengasyikkan. Bermain adalah dunia mereka. Justru ketika ada anak yang tidak pandai bergaul, lebih suka menyendiri, harus diwaspadai. Biarkan mereka nikmati masanya dengan keceriaan. Kalau canda rianya itu mengganggu karena salah tempat dan salah waktu, itu bukan kesalahan, Bunda! Itu karena mereka belum tahu. Belum mengerti. Menjadi kewajiban kitalah untuk untuk mengingatkannya. Memahamkan mereka mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang pantas dilakukan dan mana yang tidak layak dilakukan. Jangan hukum mereka dengan cap anak nakal atau anak yang tidak tahu adab. Tidak tahu sopan santun. Sudahkah kita mendidik mereka dengan  benar? Mengajarinya dengan tulus? Oke .. kalau itu sudah pernah kita lakukan, sesering apakah kita menasihati anak-anak kita? Sekonsisten apakah kita mengingatkan mereka? Dan yang jauh lebih penting sudahkah kita memberikan contoh yang baik untuk anak-anak kita?
Aku jadi ingat cerita teman ngajarku di sekolah. Dia cerita berapi-api. Ketika dia pulang dari sekolah sehabis ngajar, kebetulan berpapasan dengan sekumpulan –aku tak bilang segerombolan loh—anak didiknya. Ada kurang lebih lima anak. Spontan anak-anak itu teriak. Horee .. rambutnya Pak Guru putih semua ... Hahahaha. Mereka tertawa terbahak-bahak. Orang-orang di sekitarnya yang melihat dan mendengar celotehan anak-anak ikut tertawa juga. Marahlah temanku itu. Dia merasa dilecehkan oleh anak-anaknya sendiri. Dijewerlah satu-satu anak itu.
Anak itu tidak bersalah kawan! Anak itu hanya belum tahu kalau hal seperti itu tidak sopan. Jangan melihat peristiwa itu dari sudut pandang kita. Atau dari cara berpikir orang dewasa yang kadang-kadang sudah tercemari dengan prasangka buruk. Jangan-jangan anak-anak itu hanya pingin bercanda dengan gurunya. Hanya saja mereka belum tahu cara yang tepat untuk mencandai orang tua. Bagaimana agar mereka tahu? Kita yang harus memberitahu mereka. Beri contoh mereka!  Itu tanggung jawab kita.
Anak-anak yang bermain bola di teras masjid itu tidak tahu kalau keceriannya mengganggu kekhusukan bapak ibunya sowan kepada Gusti Allah. Kitalah yang harus memberitahu mereka. Nyatanya ... tidak ada satu pun ibu atau bapak mereka yang bangkit untuk megingatkan anak-anak itu. Aku tidak tahu mereka merasa terganggu atau tidak. Tapi aku sangat terganggu. Akhirnya dengan memohon maaf kepada malaikat Raqib aku bediri. Menghampiri mereka. Aku ambil bolanya. Aku gandeng mereka masuk ke dalam masjid tanpa berkata apa-apa. Aku tidak ingin nasihatku justru akan membuat kekhusukan jamaah salat Jumat saat itu semakin tipis. Aku berdiri bukan karena aku sok paham ... sok alim. Aku hanya sudah tidak tahan mendengar teriakan anak-anak yang mengganggu khotbah Jumat. Dan aku lebih tidak tahan lagi melihat bapak ibunya tidak ada yang tergerak untuk mengingatkan mereka. Sungguh aku tidak paham. Aku hanya hamba Allah biasa. Kepahaman agamaku tidak lebih baik dari jamaah yang lain. Prasangka burukku menjadi liar.
Pada saat khotib sedang menyampaikan khotbahnya, suasana tenang dan khusuk harus terjaga. Maknya sering kita jumpai tulisan ... Matikan HP Anda saat memasuki masjid. Kita diimbau untuk tidak memakai pakaian yang berpotensi  untuk mengganggu kekhusukan jamaah yang lain. Jangan sebut aku mantan, sebut aku alumni karena kita bisa reunian. Pernah baca tulisan itu di punggung temanmu? Atau yang ini. Nikah butuh biaya, kawin  butuh tenaga. Aku tidak tahu dengan kamu, tetapi aku pasti akan tertawa atau paling tidak tersenyum simpul membaca kalimat itu. Dan salat itu tidak boleh tersenyum to? Apalagi tertawa terbahak-bahak. Beribadah harus khusuk. Ketenangan dan kekhusukan harus dijaga saat kita bersimpuh di hadapan Allah. Orang-orang yang tidak bisa menjaga kekhusukan ketika mendengarkan khotbah, dia diancam tidak akan mendapatkan pahala salat Jumat. Termasuk bila kita terpaksa mengingatkan jamaah yang berisik meski hanya dengan ucapan “ssstttt”.
Ooohh ... aku paham sekarang meski ini masih berupa praduga. Orang tua –bapak dan ibu anak-anak yang berisik tadi—tidak beranjak dari tempat salatnya karena takut tidak mendapatkan pahala salat Jumat. Batapa egoisnya!!! Dia dekap matia-matian pahalanya meski tahu teriakan anak-anaknya mengganggu ketenangan ibadah saudaranya. Dia korbankan kekhusukan ibadah sesamanya hanya takut dia tak mendapatkan haknya. Apakah dia tidak pernah berpikir bahwa Allah juga mencatat amal buruknya ketika dia tidak mampu menjaga anak-anaknya?
Kalau saja bapak-bapak lebih memberati ibadah daripada mengingatkan anak-anaknya mungkin masih bisa dipahami karena salat Jumat adalah kewajiban lelaki. Tetapi para ibu tidak ada yang tergerak hatinya ... ini sudah meremukkan hatiku. Ke mana kepedulian seorang ibu kepada anaknya? Bukankah salat Jumat tidak wajib bagi kaum ibu? Bukankah Ibu cukup salat duhur saja sebagai pengganti salat Jumat. Tidakkah cukup besar pahala bagimu ketika bunda menjaga anak-anak suamimu agar mereka bisa beribadah dengan khusuk? Bukankah mendidik anak merupakan kewajiban utama seorang ibu? Baik buruknya anak-anak kita berada di tangan seorang ibu.
Mendidik memang kewajiban bersama antara ayah dan ibu. Tetapi seorang ibu punya lebih banyak waktu bersama anak-anak. Punya kesempatan yang lebih besar untuk mendampingi anak-anak. Fondasi utama perilaku anak dibentuk oleh seorang ibu. Ayo ... bunda kita dampingi anak kita tumbuh besar dengan nilai-nilai yang bermanfaat bagi hidupnya kelak. Kita jaga mereka agar dapat tumbuh dengan adab luhur orang tuanya, mewarisi kesantunan leluhurnya, meneladani etos kerja ayah dan ibunya. Kita tumbuhkan kepekaan hatinya.
Maaf bunda bila lidahku terlalu tajam. Aku hanya tak ingin anak-anak kehilangan ‘ibunya’.

Semarang, Jumat 17 Agustus 2018

No comments:

Post a Comment

Alat Transportasi Populer

  Transportasi merupakan kegiatan yang sangat penting bagi manusia. Transportasi adalah aktivitas yang melibatkan pemindahan atau pengangkut...