Siang
ini begitu terik. Panas sekali. Aku baru saja tiba di rumah dari jumatan di masjid
kampungku. Tidak biasanya sehabis jumatan hatiku malah merasa gelisah –atau
tepatnya jengkel. Sepanjang perjalanan pulang aku terus menggerutu.
Tadi
saat khotib menyampaikan petuahnya, anak-anak –ya anak-anak jamaah masjid
kampung juga—ramai sekali. Berisik. Main bola plastik di teras masjid. Padahal
Pak Yai sedang berkhotbah di mimbar. Teriak keras-keras ... bunyi ‘bak-buk’
bola ditendang ... sangat mengganggu. Mengganggu kekhusukan ibadah Jumat hari
itu. Aku tidak tahu kenapa tidak ada yang tergerak untuk mengingatkan anak-anak
itu. Bahkan bapak dan ibunya pun tidak ada yang mengingatkan mereka.
Jangan
salahkan anak-anak! Sudah fitrahnya anak-anak itu senang bermain. Jangankan
bola, botol plastik kosong pun bisa jadi bola sepak yang mengasyikkan. Bermain
adalah dunia mereka. Justru ketika ada anak yang tidak pandai bergaul, lebih
suka menyendiri, harus diwaspadai. Biarkan mereka nikmati masanya dengan
keceriaan. Kalau canda rianya itu mengganggu karena salah tempat dan salah
waktu, itu bukan kesalahan, Bunda! Itu karena mereka belum tahu. Belum
mengerti. Menjadi kewajiban kitalah untuk untuk mengingatkannya. Memahamkan
mereka mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang baik dan mana yang buruk.
Mana yang pantas dilakukan dan mana yang tidak layak dilakukan. Jangan hukum
mereka dengan cap anak nakal atau anak yang tidak tahu adab. Tidak tahu sopan
santun. Sudahkah kita mendidik mereka dengan
benar? Mengajarinya dengan tulus? Oke .. kalau itu sudah pernah kita
lakukan, sesering apakah kita menasihati anak-anak kita? Sekonsisten apakah
kita mengingatkan mereka? Dan yang jauh lebih penting sudahkah kita memberikan
contoh yang baik untuk anak-anak kita?
Aku
jadi ingat cerita teman ngajarku di
sekolah. Dia cerita berapi-api. Ketika dia pulang dari sekolah sehabis ngajar, kebetulan berpapasan dengan sekumpulan
–aku tak bilang segerombolan loh—anak didiknya. Ada kurang lebih lima
anak. Spontan anak-anak itu teriak. Horee .. rambutnya Pak Guru putih semua ...
Hahahaha. Mereka tertawa terbahak-bahak. Orang-orang di sekitarnya yang melihat
dan mendengar celotehan anak-anak ikut tertawa juga. Marahlah temanku itu. Dia
merasa dilecehkan oleh anak-anaknya sendiri. Dijewerlah satu-satu anak itu.
Anak
itu tidak bersalah kawan! Anak itu hanya belum tahu kalau hal seperti itu tidak
sopan. Jangan melihat peristiwa itu dari sudut pandang kita. Atau dari cara
berpikir orang dewasa yang kadang-kadang sudah tercemari dengan prasangka
buruk. Jangan-jangan anak-anak itu hanya pingin
bercanda dengan gurunya. Hanya saja mereka belum tahu cara yang tepat untuk
mencandai orang tua. Bagaimana agar mereka tahu? Kita yang harus memberitahu
mereka. Beri contoh mereka! Itu tanggung
jawab kita.
Anak-anak
yang bermain bola di teras masjid itu tidak tahu kalau keceriannya mengganggu
kekhusukan bapak ibunya sowan kepada
Gusti Allah. Kitalah yang harus memberitahu mereka. Nyatanya ... tidak ada satu
pun ibu atau bapak mereka yang bangkit untuk megingatkan anak-anak itu. Aku
tidak tahu mereka merasa terganggu atau tidak. Tapi aku sangat terganggu.
Akhirnya dengan memohon maaf kepada malaikat Raqib aku bediri. Menghampiri
mereka. Aku ambil bolanya. Aku gandeng mereka masuk ke dalam masjid tanpa
berkata apa-apa. Aku tidak ingin nasihatku justru akan membuat kekhusukan
jamaah salat Jumat saat itu semakin tipis. Aku berdiri bukan karena aku sok paham ... sok alim. Aku hanya sudah tidak tahan mendengar teriakan anak-anak
yang mengganggu khotbah Jumat. Dan aku lebih tidak tahan lagi melihat bapak
ibunya tidak ada yang tergerak untuk mengingatkan mereka. Sungguh aku tidak
paham. Aku hanya hamba Allah biasa. Kepahaman agamaku tidak lebih baik dari
jamaah yang lain. Prasangka burukku menjadi liar.
Pada
saat khotib sedang menyampaikan khotbahnya, suasana tenang dan khusuk harus
terjaga. Maknya sering kita jumpai tulisan ... Matikan HP Anda saat memasuki masjid. Kita diimbau untuk tidak
memakai pakaian yang berpotensi untuk
mengganggu kekhusukan jamaah yang lain. Jangan
sebut aku mantan, sebut aku alumni karena kita bisa reunian. Pernah baca
tulisan itu di punggung temanmu? Atau yang ini. Nikah butuh biaya, kawin butuh
tenaga. Aku tidak tahu dengan kamu, tetapi aku pasti akan tertawa atau
paling tidak tersenyum simpul membaca kalimat itu. Dan salat itu tidak boleh
tersenyum to? Apalagi tertawa
terbahak-bahak. Beribadah harus khusuk. Ketenangan dan kekhusukan harus dijaga
saat kita bersimpuh di hadapan Allah. Orang-orang yang tidak bisa menjaga kekhusukan
ketika mendengarkan khotbah, dia diancam tidak akan mendapatkan pahala salat
Jumat. Termasuk bila kita terpaksa mengingatkan jamaah yang berisik meski hanya
dengan ucapan “ssstttt”.
Ooohh
... aku paham sekarang meski ini masih berupa praduga. Orang tua –bapak dan ibu
anak-anak yang berisik tadi—tidak beranjak dari tempat salatnya karena takut
tidak mendapatkan pahala salat Jumat. Batapa egoisnya!!! Dia dekap matia-matian
pahalanya meski tahu teriakan anak-anaknya mengganggu ketenangan ibadah
saudaranya. Dia korbankan kekhusukan ibadah sesamanya hanya takut dia tak
mendapatkan haknya. Apakah dia tidak pernah berpikir bahwa Allah juga mencatat
amal buruknya ketika dia tidak mampu menjaga anak-anaknya?
Kalau
saja bapak-bapak lebih memberati ibadah daripada mengingatkan anak-anaknya
mungkin masih bisa dipahami karena salat Jumat adalah kewajiban lelaki. Tetapi
para ibu tidak ada yang tergerak hatinya ... ini sudah meremukkan hatiku. Ke
mana kepedulian seorang ibu kepada anaknya? Bukankah salat Jumat tidak wajib
bagi kaum ibu? Bukankah Ibu cukup salat duhur saja sebagai pengganti salat
Jumat. Tidakkah cukup besar pahala bagimu ketika bunda menjaga anak-anak suamimu
agar mereka bisa beribadah dengan khusuk? Bukankah mendidik anak merupakan
kewajiban utama seorang ibu? Baik buruknya anak-anak kita berada di tangan seorang
ibu.
Mendidik
memang kewajiban bersama antara ayah dan ibu. Tetapi seorang ibu punya lebih
banyak waktu bersama anak-anak. Punya kesempatan yang lebih besar untuk
mendampingi anak-anak. Fondasi utama perilaku anak dibentuk oleh seorang ibu.
Ayo ... bunda kita dampingi anak kita tumbuh besar dengan nilai-nilai yang
bermanfaat bagi hidupnya kelak. Kita jaga mereka agar dapat tumbuh dengan adab
luhur orang tuanya, mewarisi kesantunan leluhurnya, meneladani etos kerja ayah
dan ibunya. Kita tumbuhkan kepekaan hatinya.
Maaf
bunda bila lidahku terlalu tajam. Aku hanya tak ingin anak-anak kehilangan ‘ibunya’.

No comments:
Post a Comment