![]() |
| Sumber Gambar : https://www.princegeorgecitizen.com |
Ada dua pembahasan stilistika dalam makalah
ini, yaitu secara umum dan secara khusus. Secara umum, artinya penganalisisan
pemakaian gaya bahasa yang tersirat dalam keseluruhan cerita, yang menyangkut
penokohan, tema, penceritaan, setting, dan pemaknaan cerita. Secara
khusus, artinya penganalisisan pemakaian gaya bahasa pada bahasa yang digunakan
pengarang dalam naskah lakon ‘’Festival Topeng’’.
3.1. Pembahasan secara umum
Naskah lakon ‘’Festival Topeng” melibatkan
banyak tokoh. Sebagai tokoh utama atau tokoh sentral dalam naskah ini adalah Mbah
Joyo. Karakter Mbah Joyo adalah orang yang misterius, sakti, dan menjadi pusat
perhatian dalam festival topneg. Sebagai tokoh bawahan ada beberapa orang,
yaitu Blentung ( anak Mbah Joyo), Mitro, Genggong, Laras, Lurah Jarkoni, Samiun,
Kasmun, Bawor, Gubil, Tuji, Kirno, Peang, Panjul, dan lain-lain. Tokoh-tokoh
bawahan tersebut mempunyai karakter yang beragam. Ada yang baik, culas,
penolong, pemberani, ngawur, dan lain-lain.
Tema yang diusung dalam ”Festival
Topeng” ini adalah kepalsuan. Topeng digunakan untuk menyampaikan pesan bahwa
ada kebenaran yang hakiki dalam setiap tampilan luar sikap dan ucapan
seseorang. Namun, kebenaran yang sebenarnya akan menjadi pemenang pada
akhirnya.
Gaya penceritaan pengarang cenderung
lugas. Dia menyampaikan semua permasalahan dalam cerita dengan bahasa yang
relatif mudah dipahami. Meski banyak menggunakan kata-kata atau ideom bahasa
daerah tertentu, secara keseluruhan kalimat dan dialog dalam naskah itu mudah dipahami.
Sesuai dengan asal pengarang, setting
yang digunakan dalam naskah drama ini banyak didominasi tempat dan budaya Jawa,
khusunya daerah Banyumas. Secara lebih khusus tempat-tempat yang menjadi latar
cerita dapat disebutkan sebagai berikut: desa, jalan, rumah Lurah Jarkoni, kamar tidur, dapur, dan lain-lain. Latar
waktunya ada malam hari, siang, sore, pagi.
Naskah drama ini dapat dijadikan
sebagai cermin kehidupan manusia sehari-hari. Kita dapat memetik banyak
pelajaran dari naskah ini. Sebagai manusia hendaknya bisa menjadi diri sendiri,
tidak mudah dipenaruhi oleh orang lain. Berbeda pendapat itu biasa. Setiap
kejahatan akan berakhir dengan kedukaan. Ketidakjujuran pada akhirnya akan
terbuka.
3.2. Pembahasan secara khusus
Naskah lakon ‘’Festival Topeng’’ karya
Budi Ros ini memanfaatkan berbagai diksi
dan gaya bahasa yang dapat menimbulkan
efek tertentu pada pembaca dan juga dapat menjaga estetika karya itu sendiri.
Secara garis besar, diksi dan gaya bahasa tersebut akan diuraikan sebagai
berikut.
3.2.1. Diksi
3.2.1.1. Pemanfaatan Kata Ganti
Disamping kata ganti orang yang biasa digunakan seperti saya, kamu, dia, ia, mereka, kita, kami,
pengarang juga menggunakan kata ganti yang secara khusus menyiratkan rasa
tertentu seperti situ dan sampeyan.
Mitro : Kok situ di ladang
Blentung : Kok situ juga di
pinggir ladang? Kalau saya kan petani, apa salahnya petani di ladang?
Kata situ menyiratkan ada jarak antara Mitro
dan Blentung. Meskipun sudah saling kenal, Mitro ingin membangun jarak dengan
menggunakan kata ganti situ untuk
menunjuk Blentung. Karena Mitro ingin membangun jarak, Blentung juga akhirnya
membangun jarak dengan kata ganti situ
juga.
Warti : Pada telat sih
sampean ….
Mijem : Iya, gara-gara
ini anak disuruh mandi malah rewel. Jadi lama, terus telat deh.
Kata sampean menyiratkan rasa pengormatan yang
tidak berlebihan. Artinya, Warti ingin menghormati Mijem dengan menggunakan
kata sampean bukan kamu tetapi
penghormatan ini tidak berlebihan karena Warti tidak menggunakan panjenengan.
3.2.1.2. Pemanfaatan Kata Sapaan
Kata sapaan adalah kata yang digunakan
untuk menyapa orang yang diajak bicara. Ada beberapa kata yang lazim digunakan
untuk menyapa, misalnya Bapak, Ibu, Anda, Saudara, Dokter, Profesor, dan
lain-lain. Dalam naskha drama ini, terdapat beberapa kata sapaan yang sudah
lazim tersebut dan beberapa kata sapaan yang secara khusus mengandung makna
tertentu.
Jarkoni : (LANGSUNG MENCIUM
TANGAN MAS GENGGONG SAMBIL JONGKOK. SAMI’UN MENGIKUTINYA DENGAN ENGGAN) Aduh
Kangmas, Mbakyu, mohon maaf baru kali ini bisa menengok. Bagaimana? Apa Kangmas
sudah sehat? Aduh, aduh ….
Genggong : Lo, Jarkoni? Sami’un?
Jarkoni : Iya, Kangmas.
Sami’un : Saya, Kangmas
Penggunaan
kata Kangmas dan Mbakyu menggambarkan bahwa Jarkoni dan Sami’un (meskipun enggan)
ingin mengormati Jarkoni dan isterinya. Penghormatan itu terasa agak berlebihan
bahkan terkesan ada keinginan menjilat dengan penjelasan pengarang melalui kata
jongkok. Penggunaan kata saya untuk Sami’un juga menyiratkan
penghambaan. Kesan-kesan itulah yang ingin disampaikan pengarang melalui dialog
ini.
Laras : Saking
khawatirnya sampai sakit, Dik Jarkoni.
Jarkoni : Tidak ada yang
perlu dikhawatirkan Mabkyu, Kangmas….
Penggunaan
kata Dik ini juga menggambarkan ada
suasana dekat tetapi tetap ada rasa
penghormatan kepada orang yang lebih muda.
3.2.1.3. Pemanfaatan Sinonim
Sinonim adalah dua kata atau lebih
yang mempunyai makna denotasi sama tetapi mempunyai makna konotasi yang
berbeda. Sinonim yang terdapat dalam naskah drama ini di antaranya terdapat
pada kutipan berikut ini.
Di pinggir jalan itu, tampat orang-orang
sedang bergerombol menonton dan menambah meriah suasana. Mereka saling
berbisik, mengomentari, menyoraki, dan mengolok. Juga mengumpat dan memaki.
Kata
menyoraki dan mengolok dapat dianggap sebagai kata yang bersinonim dalam konteks
tersebut. Meskipun kata menyoraki
belum tentu mengolok-olok, tetapi dalam suasana itu dapat dianggap sorakannya
bernada mengolok-olok.
Kata
mengumpat dan memaki pun dapat dianggap sebagai kata yang bersinonim karena dalam
setiap umpatan selalu ada nada makian.
3.2.1.4 Pemanfaatan
Ungkapan atau Ideom
Ungkapan atai
ideom adalah frasa yang bersifat beku, statis, tidak bisa berubah makna maupun
bentuknya. Untuk memperindah sebuah karya sastra, pengarang sering menggunakan
ungkapan atau ideom dalam karya sastranya.
Dalam naskah
drama ”Festival Topeng” terdapat beberapa ungkapan seperti yang tampak pada kutipan
sebagai berikut.
Semua ucapan itu serba spontan dan jujur sehingga
tak seorang pun sakit hati.
Frase sakit hati dalam kutipan di atas adalah
ungkapan karena sudah mempunyai makna khusus yang berbeda dengan makna asli
pembentuk frasa itu.
Mitro : ...
Padahal situ kan anak Mbah Joyo, rajanya festival sejak puluhan tahun lalu.
Frase rajanya
festival termasuk ungkapan karena paduan dua kata tersebut sudah mempunyai
arti baru yang berbeda dengan makna kata pembentuknya.
Mitro : …. Kita kan
kawan sejak masa kanak-kanak. Apa salahnya saling membuka hati
Frase
membuka hati juga termasuk ungkapan
atau ideom. Membuka hati artinya
adalah saling terbuka dalam menyampaikan isi hati, perasaan, atau pikiran.
Makna ini sudah berbeda dengan makna kata pembentuk frase membuka hati.
Genggong : …. Orang kalau punya
harapan –apalagi harapan yang muluk—kemudian harapan itu tidak terkabul, bisa
patah hati.
Frase patah hati termasuk ungkapan karena dua
kata tersebut sudah mempunyai makna baru.
3.2.1.5
Pemanfaatan Kata Daerah
Dalam naskah
drama ini banyak digunakan kata-kata yang berasal dari bahasa Jawa. Hal ini
bisa dipahami karena pengarangnya kebetulan lahir dan dibesarkan di tanah Jawa.
Kata-kata bahasa Jawa yang digunakan di antaranya adalah memedi, rada, ijo,
polah, buto ijo, Mbah, sampean, Kang, akur, telat, injih, grengseng, dan
lain-lain. Kata-kata itu tampak pada
kutipan berikut ini:
Kasmun : Buset !!! Topeng
apa itu, Parjan? Serem amat. Kayak memedi di sawah..
………………………………………………………………………………………………………..
Kasmun : Leluhur
siapa? Leluhur kita sudah lama mati, Parjan. Tradisi juga sudah lama sekarat,
tinggal nunggu koit. Kalau Sri Lestari masih ada. Di Jakarta dia jadi babu.
……………………………………………………………………………………………………….
Gubil : Wah, lihat
itu! Ada lagi yang aneh. Siapa itu? Rada bagus kelihatannya.
……………………………………………………………………………………………………….
Kasmun : O, kamu, Pono?
Lagaknya ikut-ikutan Festival Topeng. Bikin tanggul sawah saja belum lurus,
banyak polah.
………………………………………………………………………………………………………..
Bawor : Genderuwo
masih lebih bagus. Itu mirip buto ijo kecebur sawah, nggak jelas mana
jidat mana tengkuk.
………………………………………………………………………………………………………….
Tuji : Pasti dia penggemar Dasamuka.
……………………………………………………………………………………………………….....
Gubil : Ya, betul Dasamuka,
Si muka sepuluh, alias si boros muka. Eit, tunggu dulu. Itu Mbah Joyo,
bukan?
………………………………………………………………………………………………………….
Panjul : Sepakat. Akuur
…
………………………………………………………………………………………………………….
Kasmun : (RAGU JUGA) Injih Pak, paham ….
………………………………………………………………………………………………………….
Bawor : (BAWOR BERBISIK PADA GUBIL) Iya, yang dua kan
masih gudel.
Dalam
kutipan di atas terdapat istilah-istilah yang hanya ditemuai dalam bahasa Jawa,
misalnya polah, genderuwo, Dasamuka, mbah.
3.2.1.6
Pemanfaatan Kata Asing
Penggunaan kata asing atau kata
serapan memberikan kesan bahwa pengarang mempunyai wawasan yang luas, tidak
hanya mengenal budaya sendiri tetapi juga budaya asing. Penggunaan kata asing
juga menimbulkan kesan intelek. Kata-kata asing yang terdapat pada naskah drama
“Festival Topeng” di antaranya terdapat pada kutipan berikut ini:
Parjan : Menang kalah urusan belakangan, yang penting partisipasi.
Daripada kalian, sawah melulu yang diurus. Sekali-kali ikut festival
dong kayak saya. Ini hiburan sehat, rekreasi sekaligus melestarikan
budaya leluhur.
Kata
partisipasi, festival, dan rekreasi adalah kata serapan yang
diserap dari bahasa asing. Meskipun kata-kata tersebut sudah sering digunakan
dalam bahasa Indonesia, namun tetap mengesankan bahwa pengarang adalah
orang yang luas wawasannya. Penggunaan
kata asing dalam dalam dialog Parjan tersebut dipadukan dengan bahasa daerah.
Hal ini menyiratkan tokoh Parjan adalah tokoh yang cukup intelek dengan katar
belakang budaya daerah yang cukup kuat.
Penggunaan
kata-kata asing juga dapat ditemukan pada dialog berikut ini:
Ket. Panitia : ….
Tim juri bukanlah kelompok tandingan bagi penilaian masyarakat terhadap
festival lain, tetapi dimaksudkan sebagai “partner” kerja saudara-saudara.
Agar dalam memberikan penilaian nanti, saudara-saudara bisa lebih terarah,
lebih bijaksana, lebih fair, dan memuaskan semua pihak.
Kata
asing yang dapat ditemukan dalam kutipan tersebut adalah partner, festival, dan fair.
Sebenarnya kata-kata tersebut ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Akan
tetapi, karena pengarang ingin memberikan kesan intelek, dia menggunakan
kata-kata tersebut dalam dialog itu.
3.2.2. Pemanfaatan Gaya Bahasa
3.2.2.1 Gaya Bahasa Paradoks
Paradoks adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu secara
berlawanan, tetapi sebenarnya tidak apabila dicermati dan dipikir dengan
sungguh-sungguh. Majas paradoks tampak dalam kalimat berikut ini:
Di pinggir jalan itu, tampat
orang-orang sedang bergerombol menonton dan menambah meriah suasana. Mereka
saling berbisik, mengomentari, menyoraki, dan mengolok. Juga mengumpat dan
memaki. Semua ucapan itu serba spontan dan jujur sehingga tak seorang pun sakit
hati.
Kutipan di atas menyiratkan ada sesuatu
yang bertentangan.Mestinga olokan, umpatan, makian akan mengakibatkan orang
lain akan sakit hati. Ternyata dalam kutipan itu dinyatakan bahawa hal itu
tidak menimbulkan kesakithatian. Ini dianggap sebagai suatu pertentangan.
3.2.2.2 Pleonasme
Pleonasme
adalah gaya bahasa yang berlebihan dengan menggunakan kata-kata yang tidak
perlu. Kesan yang diinginkan pengerang adalah penekanan pada maksud pengarang.
Gaya bahasa pleonasme terlihat pada kutipan berikut ini:
Ket. Panitia : ….
Saya tidak akan berpanjang lebar sebab segala sesuatunya sesungguhnya sudah
jelas.
Penggunaan
kata berpanjang lebar terasa
berlebihan. Dalam berbicara, untuk mengemukakan keluasan pembicaraan tidak
perlu menggunakan frasa berpanjang lebar.
3.2.2.3 Repetisi
Majas
repetisi adalah majas yang menegaskan sesuatu dengan mengulangi bagian yang
dianggap penting sehingga menimbulkan rasa semangat/dorongan. Majas repetisi
dalam naskah drama “Festival Topeng” di antaranya terdapat dalam kutipan
berikut ini:
Ket. Panitia : ….
Kami hanya berpesan agar acara ini berlangsung see … meriah mungkin, see …
khidmat mungkin, namun tetap aman dan tertib.
Pengulangan
kata see … dalam kutipan di atas termasuk repetisi. Pengulangan tersebut memberikan penekanan
pada hal yang diulang oleh pengarang. Repetisi juga tampak dalam kutipan
berikut ini.
Ket. Panitia : ….
Tim juri bukanlah kelompok tandingan bagi penilaian masyarakat terhadap
festival lain, tetapi di maksudkan sebagai “partner” kerja saudara-saudara.
Agar dalam memberikan penilaian nanti, saudara-saudara bisa lebih
terarah, lebih bijaksana, lebih fair, dan memuaskan semua pihak.
………………………………………………………………………………………………………..
Kasmun : Anu,
Yu, belum tahu saya. …. Anu … kalau ada yang tanya, bilang saja nggak tahu.
3.2.2.4 Retoris
Retoris
adalah kalimat tanya yang tidak membutuhkan jawaban karena pendengar dianggap
sudah tahu jawabannya. Tujuan penanya bukan untuk mencari informasi, tetapi
hanya ingin mendapatkan penegasan terhadap apa yang ditanyakan. Gaya bahasa
retoris dalam naskah drama “Festival Topeng” di antaranya terdapat dalam
kutipan berikut ini:
Ket. Panitia : …. Apalah artinya sawah ladang kita yang subur, panen
melimpah, dan ternak kita yang gemuk-gemuk jika perasaan kita tidak aman dan
bahagia? Dan, untuk itulah diperlukan upaya-upaya .
Dialog
tersebut mengandung kalimat tanya tetapi penanya tidak membutuhkan jawaban dari
lawan dialognya. Ini dinamakan retoris. Kalimat retoris juga tampak dalam
kutipan berikut ini:
Sami’un : ….
Oh, kamu benar-benar celaka 7 kali. Kamu pikir, aduh … tolol, tolol. Kamu pikir
semua yang kita lakukan untuk apa, hah? Kok pakai tidak tega segala?
3.2.2.5 Kontardiksi Interminis
Gaya
bahasa kotardiksi interminis adalah gaya bahasa yang mempertentangkan antara
pernyataan satu dengan pernyataan yang lain. Hal itu misalnya terdapat pada
dialog sebagai berikut:
Ket. Panitia : Itu
pertanyaan penting, tapi tidak perlu dipertanyakan. Atau sebaliknya, pertanyaan
itu perlu ada, tapi tidak penting dipertanyakan.
Dialog
tersebut mengandung pernyataan yang saling bertentangan. Kalau memang penting,
mestinya pertanyaan itu harus disampaikan. Sebaliknya, kalau memang ada
pertanyaan berarti memang ada hal penting yang harus ditanyakan.
3.2.2.6 Simile
Simile
adalah majas perumpamaan yang secara tersurat menggunakan kata-kata perumpamaan
seperti bagai, laksana, atau seperti. Hal itu tampak pada kutipan dialog
sebagai berikut:
Sami’un : Begini.
Kalau saya umpamakan Pak Jarkoni dan saya sebaga sopir … andong misalnya, siapa
keneknya?
Perumpamaan
Pak Jarkoni dengan sopir dijembatani dengan kata perumpamaan sebagai. Ini termasuk simile.
3.2.2.7 Sarkasme
Sarkasme
adalah majas sindiran yang paling kasar. Dalam majas ini digunakan kata-kata
makian untuk merendahkan lawan bicara. Dalam naskah drama “Festival Topeng” hal
itu tampak dalam dialog sebagai berikut:
Sami’un : ….
Oh, kamu benar-benar celaka 7 kali. Kamu pikir, aduh … tolol, tolol. Kamu pikir
semua yang kita lakukan untuk apa, hah? Kok pakai tidak tega segala?
Penggunaan
kata tolol dalam kutipan tersebut
menyiratkan suau penghinaan yang sangat. Makian itu disampaikan secara
langsung. Itu dinamakan sarkasme.
3.2.2. 8 Metafora
Metafora
adalah majas perumpamaan langsung tanpa menggunakan kata-kata perumpamaan. Apa
yang dimaksudkan langsung diumpamakan dengan kata-kata atau frasa tertentu. Metafora dalam naskah
drama “Festival Topeng” misalnya terdapat dalam dialog sebagai berikut:
Laras : Jangan
beranggapan buruk dulu, Pak. Mimpi kan bisa saja Cuma kembangnya orang tidur.
Mimpi
diperbandingkan dengan kembang secara langsung tanpa menggunakan kata-kata
perumpamaan.
Daftar Pustaka
Junus, Umar. 1989. Stilistika: Suatu Pengantar. Kuala Lumpur:
Dewan Bahasa dan Pustaka.
Keraf, Gorys. 1984. Diksi dan Komposisi. Ende: Nusa
Indah.
Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus
Linguistik. Jakarta: Gramedia.
Nusantara, A. Ariobimo. 2005. 5 Naskah Drama Pemenang Sayembara Dewan Kesenian Jakarta 2003
”Festival Topeng”. Jakarta: PT Grasindo
Sudjiman, Panuti. 1993. Bunga Rampai Stilistika. Jakarta:
Pustaka Utama Grafiti.
Sukesti, Restu. 2003. ‘’Cerpen Derabat Karya Budi
Darma: Analisis Stilistika’’ dalam Widya Parwa.Yogyakarta: Pusat Bahasa
– Departemen Pendidikan Nasional.
Suwondo, Tirto. 2003. Studi Sastra: Beberapa
Alternatif. Yogyakarta : Hanindita.

No comments:
Post a Comment