Wednesday, October 23, 2019

Telaah Stilistika pada Naskah Drama "Topeng"

Sumber Gambar : https://www.princegeorgecitizen.com

Ada dua pembahasan stilistika dalam makalah ini, yaitu secara umum dan secara khusus. Secara umum, artinya penganalisisan pemakaian gaya bahasa yang tersirat dalam keseluruhan cerita, yang menyangkut penokohan, tema, penceritaan, setting, dan pemaknaan cerita. Secara khusus, artinya penganalisisan pemakaian gaya bahasa pada bahasa yang digunakan pengarang dalam naskah lakon ‘’Festival Topeng’’.

3.1. Pembahasan secara umum
Naskah lakon ‘’Festival Topeng” melibatkan banyak tokoh. Sebagai tokoh utama atau tokoh sentral dalam naskah ini adalah Mbah Joyo. Karakter Mbah Joyo adalah orang yang misterius, sakti, dan menjadi pusat perhatian dalam festival topneg. Sebagai tokoh bawahan ada beberapa orang, yaitu Blentung ( anak Mbah Joyo), Mitro, Genggong, Laras, Lurah Jarkoni, Samiun, Kasmun, Bawor, Gubil, Tuji, Kirno, Peang, Panjul, dan lain-lain. Tokoh-tokoh bawahan tersebut mempunyai karakter yang beragam. Ada yang baik, culas, penolong, pemberani, ngawur, dan lain-lain.
Tema yang diusung dalam ”Festival Topeng” ini adalah kepalsuan. Topeng digunakan untuk menyampaikan pesan bahwa ada kebenaran yang hakiki dalam setiap tampilan luar sikap dan ucapan seseorang. Namun, kebenaran yang sebenarnya akan menjadi pemenang pada akhirnya.
Gaya penceritaan pengarang cenderung lugas. Dia menyampaikan semua permasalahan dalam cerita dengan bahasa yang relatif mudah dipahami. Meski banyak menggunakan kata-kata atau ideom bahasa daerah tertentu, secara keseluruhan kalimat dan dialog dalam naskah itu mudah dipahami.
Sesuai dengan asal pengarang, setting yang digunakan dalam naskah drama ini banyak didominasi tempat dan budaya Jawa, khusunya daerah Banyumas. Secara lebih khusus tempat-tempat yang menjadi latar cerita dapat disebutkan sebagai berikut: desa, jalan, rumah Lurah  Jarkoni, kamar tidur, dapur, dan lain-lain. Latar waktunya ada malam hari, siang, sore, pagi.
Naskah drama ini dapat dijadikan sebagai cermin kehidupan manusia sehari-hari. Kita dapat memetik banyak pelajaran dari naskah ini. Sebagai manusia hendaknya bisa menjadi diri sendiri, tidak mudah dipenaruhi oleh orang lain. Berbeda pendapat itu biasa. Setiap kejahatan akan berakhir dengan kedukaan. Ketidakjujuran pada akhirnya akan terbuka.

3.2. Pembahasan secara khusus
Naskah lakon ‘’Festival Topeng’’ karya Budi Ros ini  memanfaatkan berbagai diksi dan  gaya bahasa yang dapat menimbulkan efek tertentu pada pembaca dan juga dapat menjaga estetika karya itu sendiri. Secara garis besar, diksi dan gaya bahasa tersebut akan diuraikan sebagai berikut.
3.2.1. Diksi
3.2.1.1. Pemanfaatan Kata Ganti
Disamping kata ganti orang yang biasa digunakan seperti saya, kamu, dia, ia, mereka, kita, kami, pengarang juga menggunakan kata ganti yang secara khusus menyiratkan rasa tertentu seperti situ dan sampeyan.
Mitro               :  Kok situ di ladang
Blentung          : Kok situ juga di pinggir ladang? Kalau saya kan petani, apa salahnya petani di ladang?
            Kata situ menyiratkan ada jarak antara Mitro dan Blentung. Meskipun sudah saling kenal, Mitro ingin membangun jarak dengan menggunakan kata ganti situ untuk menunjuk Blentung. Karena Mitro ingin membangun jarak, Blentung juga akhirnya membangun jarak dengan kata ganti situ juga.
Warti               :  Pada telat sih sampean ….
Mijem              : Iya, gara-gara ini anak disuruh mandi malah rewel. Jadi lama, terus telat deh.
            Kata sampean menyiratkan rasa pengormatan yang tidak berlebihan. Artinya, Warti ingin menghormati Mijem dengan menggunakan kata sampean bukan kamu tetapi penghormatan ini tidak berlebihan karena Warti tidak menggunakan panjenengan.

3.2.1.2. Pemanfaatan Kata Sapaan
            Kata sapaan adalah kata yang digunakan untuk menyapa orang yang diajak bicara. Ada beberapa kata yang lazim digunakan untuk menyapa, misalnya Bapak, Ibu, Anda, Saudara, Dokter, Profesor, dan lain-lain. Dalam naskha drama ini, terdapat beberapa kata sapaan yang sudah lazim tersebut dan beberapa kata sapaan yang secara khusus mengandung makna tertentu.
Jarkoni            :  (LANGSUNG MENCIUM TANGAN MAS GENGGONG SAMBIL JONGKOK. SAMI’UN MENGIKUTINYA DENGAN ENGGAN) Aduh Kangmas, Mbakyu, mohon maaf baru kali ini bisa menengok. Bagaimana? Apa Kangmas sudah sehat? Aduh, aduh ….
Genggong       : Lo, Jarkoni? Sami’un?
Jarkoni            : Iya, Kangmas.
Sami’un           : Saya, Kangmas
            Penggunaan kata Kangmas dan Mbakyu menggambarkan bahwa Jarkoni dan Sami’un (meskipun enggan) ingin mengormati Jarkoni dan isterinya. Penghormatan itu terasa agak berlebihan bahkan terkesan ada keinginan menjilat dengan penjelasan pengarang melalui kata jongkok. Penggunaan kata saya untuk Sami’un juga menyiratkan penghambaan. Kesan-kesan itulah yang ingin disampaikan pengarang melalui dialog ini.
Laras               :  Saking khawatirnya sampai sakit, Dik Jarkoni.
Jarkoni            :  Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Mabkyu, Kangmas….
            Penggunaan kata Dik ini juga menggambarkan ada suasana dekat  tetapi tetap ada rasa penghormatan kepada orang yang lebih muda.

3.2.1.3. Pemanfaatan Sinonim
             Sinonim adalah dua kata atau lebih yang mempunyai makna denotasi sama tetapi mempunyai makna konotasi yang berbeda. Sinonim yang terdapat dalam naskah drama ini di antaranya terdapat pada kutipan berikut ini.
            Di pinggir jalan itu, tampat orang-orang sedang bergerombol menonton dan menambah meriah suasana. Mereka saling berbisik, mengomentari, menyoraki, dan mengolok. Juga mengumpat dan memaki.
            Kata menyoraki dan mengolok dapat dianggap sebagai kata yang bersinonim dalam konteks tersebut. Meskipun kata menyoraki belum tentu mengolok-olok, tetapi dalam suasana itu dapat dianggap sorakannya bernada mengolok-olok.
            Kata mengumpat dan memaki pun dapat dianggap sebagai kata yang bersinonim karena dalam setiap umpatan selalu ada nada makian.

3.2.1.4 Pemanfaatan Ungkapan atau Ideom
Ungkapan atai ideom adalah frasa yang bersifat beku, statis, tidak bisa berubah makna maupun bentuknya. Untuk memperindah sebuah karya sastra, pengarang sering menggunakan ungkapan atau ideom dalam karya sastranya.
Dalam naskah drama ”Festival Topeng” terdapat beberapa ungkapan seperti yang tampak pada kutipan sebagai berikut.
Semua ucapan itu serba spontan dan jujur sehingga tak seorang pun sakit hati.
Frase sakit hati dalam kutipan di atas adalah ungkapan karena sudah mempunyai makna khusus yang berbeda dengan makna asli pembentuk frasa itu.
Mitro               :  ... Padahal situ kan anak Mbah Joyo, rajanya festival sejak puluhan tahun lalu.
            Frase rajanya festival termasuk ungkapan karena paduan dua kata tersebut sudah mempunyai arti baru yang berbeda dengan makna kata pembentuknya.
Mitro               :  …. Kita kan kawan sejak masa kanak-kanak. Apa salahnya saling membuka hati
            Frase membuka hati juga termasuk ungkapan atau ideom. Membuka hati artinya adalah saling terbuka dalam menyampaikan isi hati, perasaan, atau pikiran. Makna ini sudah berbeda dengan makna kata pembentuk frase membuka hati.
Genggong       :  …. Orang kalau punya harapan –apalagi harapan yang muluk—kemudian harapan itu tidak terkabul, bisa patah hati.
            Frase patah hati termasuk ungkapan karena dua kata tersebut sudah mempunyai makna baru.
           
3.2.1.5 Pemanfaatan Kata Daerah
            Dalam naskah drama ini banyak digunakan kata-kata yang berasal dari bahasa Jawa. Hal ini bisa dipahami karena pengarangnya kebetulan lahir dan dibesarkan di tanah Jawa. Kata-kata bahasa Jawa yang digunakan di antaranya adalah memedi, rada, ijo, polah, buto ijo, Mbah, sampean, Kang, akur, telat, injih, grengseng, dan lain-lain. Kata-kata  itu tampak pada kutipan berikut ini:
Kasmun           :  Buset !!! Topeng apa itu, Parjan? Serem amat. Kayak memedi di sawah..
………………………………………………………………………………………………………..
Kasmun           :  Leluhur siapa? Leluhur kita sudah lama mati, Parjan. Tradisi juga sudah lama sekarat, tinggal nunggu koit. Kalau Sri Lestari masih ada. Di Jakarta dia jadi babu.
……………………………………………………………………………………………………….
Gubil               :  Wah, lihat itu! Ada lagi yang aneh. Siapa itu? Rada bagus kelihatannya.
……………………………………………………………………………………………………….
Kasmun           :  O, kamu, Pono? Lagaknya ikut-ikutan Festival Topeng. Bikin tanggul sawah saja belum lurus, banyak polah.
………………………………………………………………………………………………………..
Bawor             :  Genderuwo masih lebih bagus. Itu mirip buto ijo kecebur sawah, nggak jelas mana jidat mana tengkuk.
………………………………………………………………………………………………………….
Tuji                  :  Pasti dia penggemar Dasamuka.
……………………………………………………………………………………………………….....
Gubil               :  Ya, betul Dasamuka, Si muka sepuluh, alias si boros muka. Eit, tunggu dulu. Itu Mbah Joyo, bukan?
………………………………………………………………………………………………………….
Panjul              :  Sepakat. Akuur …
………………………………………………………………………………………………………….
Kasmun           :  (RAGU JUGA) Injih Pak, paham ….             
………………………………………………………………………………………………………….
Bawor             :  (BAWOR BERBISIK PADA GUBIL) Iya, yang dua kan masih gudel.
            Dalam kutipan di atas terdapat istilah-istilah yang hanya ditemuai dalam bahasa Jawa, misalnya polah, genderuwo, Dasamuka, mbah.

3.2.1.6 Pemanfaatan Kata Asing
            Penggunaan kata asing atau kata serapan memberikan kesan bahwa pengarang mempunyai wawasan yang luas, tidak hanya mengenal budaya sendiri tetapi juga budaya asing. Penggunaan kata asing juga menimbulkan kesan intelek. Kata-kata asing yang terdapat pada naskah drama “Festival Topeng” di antaranya terdapat pada kutipan berikut ini:
 Parjan            :  Menang kalah urusan belakangan, yang penting partisipasi. Daripada kalian, sawah melulu yang diurus. Sekali-kali ikut festival dong kayak saya. Ini hiburan sehat, rekreasi sekaligus melestarikan budaya leluhur.
            Kata partisipasi, festival, dan rekreasi adalah kata serapan yang diserap dari bahasa asing. Meskipun kata-kata tersebut sudah sering digunakan dalam bahasa Indonesia, namun tetap mengesankan bahwa pengarang adalah orang  yang luas wawasannya. Penggunaan kata asing dalam dalam dialog Parjan tersebut dipadukan dengan bahasa daerah. Hal ini menyiratkan tokoh Parjan adalah tokoh yang cukup intelek dengan katar belakang budaya daerah yang cukup kuat.
            Penggunaan kata-kata asing juga dapat ditemukan pada dialog berikut ini:
Ket. Panitia     :  …. Tim juri bukanlah kelompok tandingan bagi penilaian masyarakat terhadap festival lain, tetapi dimaksudkan sebagai “partner” kerja saudara-saudara. Agar dalam memberikan penilaian nanti, saudara-saudara bisa lebih terarah, lebih bijaksana, lebih fair, dan memuaskan semua pihak.
            Kata asing yang dapat ditemukan dalam kutipan tersebut adalah partner, festival, dan fair. Sebenarnya kata-kata tersebut ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Akan tetapi, karena pengarang ingin memberikan kesan intelek, dia menggunakan kata-kata tersebut dalam dialog itu.

3.2.2. Pemanfaatan Gaya Bahasa
3.2.2.1 Gaya Bahasa Paradoks
Paradoks adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu secara berlawanan, tetapi sebenarnya tidak apabila dicermati dan dipikir dengan sungguh-sungguh. Majas paradoks tampak dalam kalimat berikut ini:
Di pinggir jalan itu, tampat orang-orang sedang bergerombol menonton dan menambah meriah suasana. Mereka saling berbisik, mengomentari, menyoraki, dan mengolok. Juga mengumpat dan memaki. Semua ucapan itu serba spontan dan jujur sehingga tak seorang pun sakit hati.
Kutipan di atas menyiratkan ada sesuatu yang bertentangan.Mestinga olokan, umpatan, makian akan mengakibatkan orang lain akan sakit hati. Ternyata dalam kutipan itu dinyatakan bahawa hal itu tidak menimbulkan kesakithatian. Ini dianggap sebagai suatu pertentangan.

3.2.2.2 Pleonasme
            Pleonasme adalah gaya bahasa yang berlebihan dengan menggunakan kata-kata yang tidak perlu. Kesan yang diinginkan pengerang adalah penekanan pada maksud pengarang. Gaya bahasa pleonasme terlihat pada kutipan berikut ini:
Ket. Panitia     :  …. Saya tidak akan berpanjang lebar sebab segala sesuatunya sesungguhnya sudah jelas.
            Penggunaan kata berpanjang lebar terasa berlebihan. Dalam berbicara, untuk mengemukakan keluasan pembicaraan tidak perlu menggunakan frasa berpanjang lebar.

3.2.2.3 Repetisi
            Majas repetisi adalah majas yang menegaskan sesuatu dengan mengulangi bagian yang dianggap penting sehingga menimbulkan rasa semangat/dorongan. Majas repetisi dalam naskah drama “Festival Topeng” di antaranya terdapat dalam kutipan berikut ini:
Ket. Panitia     :  …. Kami hanya berpesan agar acara ini berlangsung see … meriah mungkin, see … khidmat mungkin, namun tetap aman dan tertib.
            Pengulangan kata see … dalam kutipan di atas termasuk repetisi.  Pengulangan tersebut memberikan penekanan pada hal yang diulang oleh pengarang. Repetisi juga tampak dalam kutipan berikut ini.
Ket. Panitia     :  …. Tim juri bukanlah kelompok tandingan bagi penilaian masyarakat terhadap festival lain, tetapi di maksudkan sebagai “partner” kerja saudara-saudara. Agar dalam memberikan penilaian nanti, saudara-saudara bisa lebih terarah, lebih bijaksana, lebih fair, dan memuaskan semua pihak.
………………………………………………………………………………………………………..
Kasmun           :  Anu, Yu, belum tahu saya. …. Anu … kalau ada yang tanya, bilang saja nggak tahu.

3.2.2.4 Retoris
            Retoris adalah kalimat tanya yang tidak membutuhkan jawaban karena pendengar dianggap sudah tahu jawabannya. Tujuan penanya bukan untuk mencari informasi, tetapi hanya ingin mendapatkan penegasan terhadap apa yang ditanyakan. Gaya bahasa retoris dalam naskah drama “Festival Topeng” di antaranya terdapat dalam kutipan berikut ini:
Ket. Panitia     :  …. Apalah artinya sawah ladang kita yang subur, panen melimpah, dan ternak kita yang gemuk-gemuk jika perasaan kita tidak aman dan bahagia? Dan, untuk itulah diperlukan upaya-upaya .
            Dialog tersebut mengandung kalimat tanya tetapi penanya tidak membutuhkan jawaban dari lawan dialognya. Ini dinamakan retoris. Kalimat retoris juga tampak dalam kutipan berikut ini:
Sami’un           :  …. Oh, kamu benar-benar celaka 7 kali. Kamu pikir, aduh … tolol, tolol. Kamu pikir semua yang kita lakukan untuk apa, hah? Kok pakai tidak tega segala?

3.2.2.5 Kontardiksi Interminis
            Gaya bahasa kotardiksi interminis adalah gaya bahasa yang mempertentangkan antara pernyataan satu dengan pernyataan yang lain. Hal itu misalnya terdapat pada dialog sebagai berikut:
Ket. Panitia     :  Itu pertanyaan penting, tapi tidak perlu dipertanyakan. Atau sebaliknya, pertanyaan itu perlu ada, tapi tidak penting dipertanyakan.
            Dialog tersebut mengandung pernyataan yang saling bertentangan. Kalau memang penting, mestinya pertanyaan itu harus disampaikan. Sebaliknya, kalau memang ada pertanyaan berarti memang ada hal penting yang harus ditanyakan.

3.2.2.6 Simile
            Simile adalah majas perumpamaan yang secara tersurat menggunakan kata-kata perumpamaan seperti bagai, laksana, atau seperti. Hal itu tampak pada kutipan dialog sebagai berikut:
Sami’un           :  Begini. Kalau saya umpamakan Pak Jarkoni dan saya sebaga sopir … andong misalnya, siapa keneknya?
            Perumpamaan Pak Jarkoni dengan sopir dijembatani dengan kata perumpamaan sebagai. Ini termasuk simile.

3.2.2.7 Sarkasme
            Sarkasme adalah majas sindiran yang paling kasar. Dalam majas ini digunakan kata-kata makian untuk merendahkan lawan bicara. Dalam naskah drama “Festival Topeng” hal itu tampak dalam dialog sebagai berikut:
Sami’un           :  …. Oh, kamu benar-benar celaka 7 kali. Kamu pikir, aduh … tolol, tolol. Kamu pikir semua yang kita lakukan untuk apa, hah? Kok pakai tidak tega segala?
            Penggunaan kata tolol dalam kutipan tersebut menyiratkan suau penghinaan yang sangat. Makian itu disampaikan secara langsung. Itu dinamakan sarkasme.

3.2.2. 8 Metafora
            Metafora adalah majas perumpamaan langsung tanpa menggunakan kata-kata perumpamaan. Apa yang dimaksudkan langsung diumpamakan dengan kata-kata  atau frasa tertentu. Metafora dalam naskah drama “Festival Topeng” misalnya terdapat dalam dialog sebagai berikut:
Laras               :  Jangan beranggapan buruk dulu, Pak. Mimpi kan bisa saja Cuma kembangnya orang tidur.
            Mimpi diperbandingkan dengan kembang secara langsung tanpa menggunakan kata-kata perumpamaan.



Daftar Pustaka
Junus, Umar. 1989. Stilistika: Suatu Pengantar. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Keraf, Gorys. 1984. Diksi dan Komposisi. Ende: Nusa Indah.
Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.
Nusantara, A. Ariobimo. 2005. 5 Naskah Drama Pemenang Sayembara Dewan Kesenian Jakarta 2003 ”Festival Topeng”. Jakarta: PT Grasindo
Sudjiman, Panuti. 1993. Bunga Rampai Stilistika. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Sukesti, Restu. 2003. ‘’Cerpen Derabat Karya Budi Darma: Analisis Stilistika’’ dalam Widya Parwa.Yogyakarta: Pusat Bahasa – Departemen Pendidikan Nasional.
Suwondo, Tirto. 2003. Studi Sastra: Beberapa Alternatif. Yogyakarta : Hanindita.

No comments:

Post a Comment

Alat Transportasi Populer

  Transportasi merupakan kegiatan yang sangat penting bagi manusia. Transportasi adalah aktivitas yang melibatkan pemindahan atau pengangkut...