Pagi tadi saat aku berangkat ke kantor, aku lihat begitu banyak siswa
berseragam kaos olah raga warna-warni
berjalan menyusuri jalan raya. Aku tidak tahu dari sekolah mana. Yang
kulihat hanya wajah-wajah ceria menikmati kegiatan keluar di luar rutinitas
belajar di kelas. Oh iyaa ... ini adalah tanggal 16 Agustus 2018. Besok adalah
hari ulang tahun ke-73 republik ini. Banyak masyarakat yang menjadikan hari ini
sebagai hari spesial untuk menyambut datangnya perayaan hari kemerdekaan. Tak
harus selalu mengisi hari-hari kita dengan pekerjaan yang serius. Sesekali
menikmati hidup yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita dengan aktivitas
yang menceriakan.
Aku kok jadi iri dengan mereka ... kenapa sekolahku dulu tidak seperti itu ya.
Perayaan hari ulang tahun negeri ini di sekolahku tidak semeriah yang aku
inginkan. Hahahaha ... mungkin aku terlalu kekanak-kanakan. Pingin-nya selalu bermain daripada
belajar di kelas. Tapi memang lomba-lomba di sekolahku menurutku hanya sekadar
mengisi waktu luang setelah upacara. Tidak ada kemeriahan menyambut hari
bersejarah bagi bangsa ini. Semua disibukkan dengan pelajaran. Dari pucuk
pimpinan sampai “keset” paling bawah. Semua fokus belajar untuk mencapai nilai
terbaik yang bisa diraih. Apakah salah? Tidak!!! Karena memang seorang pelajar
harus berusaha keras untuk mencapai prestasi terbaik.
Indikator keberhasilan pendidikan, di sekolah
terutama, yang paling mudah dan cepat diketahui adalah nilai. Entah itu nilai
ulangan harian, nilai semesteran, apalagi nilai ujian. Maka
semuanya berlomba-lomba untuk meraih nilai terbaik bagi anak-anaknya. ‘Aparat’ sekolah dan yang tak kalah
antusiasnya adalah orang tua tak henti-hentinya mendorong anak-anaknya untuk belajar. Semua orang
tua di negeri ini rata-rata akan malu besar bila anaknya memperoleh nilai ‘merah’. Barangkali aku juga begitu.
Jarang yang ingat bahwa karakter, kedisiplinan, nilai-nilai agamis yang melekat
pada diri anak jauh lebih penting daripada angka-angka akademis. Lain dengan
guru dan orang tua di negeri tetangga ... Ostrali.
Mereka tak begitu hirau ketika anak-anaknya tak pintar-pintar amat
hitung-hitungan Matematika. Karena bagi mereka Matematika itu bisa dipelajari
dengan mudah, hanya butuh tiga bulan untuk pandai Matematika. Mareka jauh lebih
khawatir apabila anak-anaknya tak punya kebiasaan mengantre. Butuh waktu dua belas tahun atau lebih untuk
membuat anak-anak punya kebiasaan mengantre. Matematika penting untuk
hidup, tapi yang jauh lebih
penting adalah nilai moral dan etika yang terkandung dalam budaya antre.
Dengan mengantre anak belajar mengatur waktu. Anak
yang ingin urusannya segera beres ia akan berangkat lebih awal agar mendapatkan
antrean yang paling awal. Anak juga belajar bersabar ketika
mengantre. Belajar menghormati hak orang lain. Belajar disiplin dan
tidak menyerobot antrean orang lain. Anak belajar menunggu
antreannya dengan sabar dan menghormati orang yang datang lebih
awal. Sambil menunggu antrean anak akan belajar memanfaatkan
waktunya dengan kreatif. Belajar bersosialisasi dengan orang lain agar waktu
antre tidak ‘membunuhnya’ dalam kebosanan. Anak belajar
menikmati proses mencapai tujuan dengan antre. Anak belajar hukum sebab
akibat dengan mengantre. Kalau datang terlambat, konsekuensinya semakin lama ia mengantre. Anak belajar disiplin,
mengatur waktu, dan menghargai orang lain. Anak belajar rasa malu bila ia menyerobot antrean orang lain. Nilai-nilai
itulah yang akan sangat berguna di hidupnya kelak.
Tapi begitulah … rata-rata guru akan ngedrill siswanya dengan latihan soal ujian di tahun terakhir,
terutama di paruh kedua. Orang tua juga tidak mau kalah. Bimbingan belajar mana
saja akan dikejarnya untuk menjadikan anaknya semakin pintar. Jangan lupa …
untuk meraih nilai terbaik dibutuhkan lingkungan yang sejuk, kondisi belajar
yang nyaman. Suasana hati anak-anak yang bahagia akan membuat anak-anak mudah
menerima pelajaran. Kenyamanan ini muncul dalam hubungan kekelurgaan yang
intim, ceria, dan bahagia. Saling menghormati dan saling membutuhkan.
‘Celakanya’ suasana ini dapat dibangun dengan kegiatan di luar rutinitas
belajar di dalam kelas. Contohnya, ya itu … lomba-lomba ceria menyambut hari
ulang tahun kemerdekaan negara kita.
Maka jadi pertanyaan besar
bagiku ketika Ge Pamungkas, komika besar negeri ini, memberikan ‘kritik keras’ terhadap
lomba makan krupuk dan balap karung yang biasa diadakan pada setiap perayaan
tujuh belasan. Dia mengatakan lomba-lomba seperti itu tidak ada manfaatnya …
tidak berfaedah. Begitu yang dikatakannya pada merahputih.com seperti yang
termuat dalam berita online tanggal 11 Agustus 2018. Lama sekali aku
merenungkan pernyataan itu. Atau barangkali aku yang terlalu ‘goblok’ untuk
memahami tesisnya itu, ya.
Menurutku tidak harus dengan
lomba baca puisi heroik untuk menumbuhkan nasionalisme. Tak perlu harus dengan lomba
hias bambu runcing untuk menumbuhkan kecintaan pada negeri ini. Cukuplah bagi
anak-anak kita merasa nyaman dan bahagia hidup di negeri ini maka dia akan membela mati-matian tanah
airnya .. tumpah darahnya .. dengan segala pengorbannya apabila ada yang
mengusik martabat bangsanya. Dengan lomba makan krupuk tidak lantas membuat
anak-anak tidak hormat kepada pahlawannya. Lomba balap karung tidak akan
membuat bangsa kita menjadi lebih rendah dari bangsa lain. Nilai-nilai
kompetisi dalam lomba-lomba ceria itulah yang dibutuhkan untuk berdiri sama tegak
dengan bangsa lain. Biarkan anak-anak belajar bersaing dengan sportif,
menghargai yang menang dan tidak merendahkan yang kalah, mengobarkan semangat
kebangsaan, menjalin persatuan dan kerukunan dalam lomba-lomba yang ceria dan
kreatif.
Terus dorong anak kita meraih
nilai terbaik dan jangan lupa berikan kesempatan kepada anak-anak untuk
menikmati hidupnya. Jangan lupa bahagia!
Semarang, 16 Agustus 2018
No comments:
Post a Comment