Sunday, October 20, 2019

Lupa Bahagia


Pagi tadi saat aku berangkat ke kantor, aku lihat begitu banyak siswa berseragam kaos olah raga warna-warni  berjalan menyusuri jalan raya. Aku tidak tahu dari sekolah mana. Yang kulihat hanya wajah-wajah ceria menikmati kegiatan keluar di luar rutinitas belajar di kelas. Oh iyaa ... ini adalah tanggal 16 Agustus 2018. Besok adalah hari ulang tahun ke-73 republik ini. Banyak masyarakat yang menjadikan hari ini sebagai hari spesial untuk menyambut datangnya perayaan hari kemerdekaan. Tak harus selalu mengisi hari-hari kita dengan pekerjaan yang serius. Sesekali menikmati hidup yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita dengan aktivitas yang menceriakan.
Aku kok jadi iri dengan mereka ... kenapa sekolahku dulu tidak seperti itu ya. Perayaan hari ulang tahun negeri ini di sekolahku tidak semeriah yang aku inginkan. Hahahaha ... mungkin aku terlalu kekanak-kanakan. Pingin-nya selalu bermain daripada belajar di kelas. Tapi memang lomba-lomba di sekolahku menurutku hanya sekadar mengisi waktu luang setelah upacara. Tidak ada kemeriahan menyambut hari bersejarah bagi bangsa ini. Semua disibukkan dengan pelajaran. Dari pucuk pimpinan sampai “keset” paling bawah. Semua fokus belajar untuk mencapai nilai terbaik yang bisa diraih. Apakah salah? Tidak!!! Karena memang seorang pelajar harus berusaha keras untuk mencapai prestasi terbaik.
Indikator keberhasilan pendidikan, di sekolah terutama, yang paling mudah dan cepat diketahui adalah nilai. Entah itu nilai ulangan harian, nilai semesteran, apalagi nilai ujian. Maka semuanya berlomba-lomba untuk meraih nilai terbaik bagi anak-anaknya. Aparat sekolah dan yang tak kalah antusiasnya adalah orang tua tak henti-hentinya mendorong anak-anaknya untuk belajar. Semua orang tua di negeri ini rata-rata akan malu besar bila anaknya memperoleh nilai merah. Barangkali aku juga begitu. Jarang yang ingat bahwa karakter, kedisiplinan, nilai-nilai agamis yang melekat pada diri anak jauh lebih penting daripada angka-angka akademis. Lain dengan guru dan orang tua di negeri tetangga ... Ostrali. Mereka tak begitu hirau ketika anak-anaknya tak pintar-pintar amat hitung-hitungan Matematika. Karena bagi mereka Matematika itu bisa dipelajari dengan mudah, hanya butuh tiga bulan untuk pandai Matematika. Mareka jauh lebih khawatir apabila anak-anaknya tak punya kebiasaan mengantre.  Butuh waktu dua belas tahun atau lebih untuk membuat anak-anak punya kebiasaan mengantre. Matematika penting untuk hidup, tapi yang  jauh lebih penting adalah nilai moral dan etika yang terkandung dalam budaya antre.
Dengan mengantre anak belajar mengatur waktu. Anak yang ingin urusannya segera beres ia akan berangkat lebih awal agar mendapatkan antrean yang paling awal. Anak juga belajar bersabar ketika mengantre. Belajar menghormati hak orang lain. Belajar disiplin dan tidak menyerobot antrean orang lain. Anak belajar menunggu antreannya dengan sabar dan menghormati orang yang datang lebih awal. Sambil menunggu antrean anak akan belajar memanfaatkan waktunya dengan kreatif. Belajar bersosialisasi dengan orang lain agar waktu antre tidak ‘membunuhnya’ dalam kebosanan. Anak belajar menikmati proses mencapai tujuan dengan antre. Anak belajar hukum sebab akibat dengan mengantre. Kalau datang terlambat, konsekuensinya semakin lama ia mengantre. Anak belajar disiplin, mengatur waktu, dan menghargai orang lain. Anak belajar rasa malu bila ia menyerobot antrean orang lain. Nilai-nilai itulah yang akan sangat berguna di hidupnya kelak.
Tapi begitulah …  rata-rata guru akan ngedrill siswanya dengan latihan soal ujian di tahun terakhir, terutama di paruh kedua. Orang tua juga tidak mau kalah. Bimbingan belajar mana saja akan dikejarnya untuk menjadikan anaknya semakin pintar. Jangan lupa … untuk meraih nilai terbaik dibutuhkan lingkungan yang sejuk, kondisi belajar yang nyaman. Suasana hati anak-anak yang bahagia akan membuat anak-anak mudah menerima pelajaran. Kenyamanan ini muncul dalam hubungan kekelurgaan yang intim, ceria, dan bahagia. Saling menghormati dan saling membutuhkan. ‘Celakanya’ suasana ini dapat dibangun dengan kegiatan di luar rutinitas belajar di dalam kelas. Contohnya, ya itu … lomba-lomba ceria menyambut hari ulang tahun kemerdekaan negara kita.
Maka jadi pertanyaan besar bagiku ketika Ge Pamungkas, komika besar negeri ini, memberikan kritik keras terhadap lomba makan krupuk dan balap karung yang biasa diadakan pada setiap perayaan tujuh belasan. Dia mengatakan lomba-lomba seperti itu tidak ada manfaatnya … tidak berfaedah. Begitu yang dikatakannya pada merahputih.com seperti yang termuat dalam berita online tanggal 11 Agustus 2018. Lama sekali aku merenungkan pernyataan itu. Atau barangkali aku yang terlalu ‘goblok’ untuk memahami tesisnya itu, ya.
Menurutku tidak harus dengan lomba baca puisi heroik untuk menumbuhkan nasionalisme. Tak perlu harus dengan lomba hias bambu runcing untuk menumbuhkan kecintaan pada negeri ini. Cukuplah bagi anak-anak kita merasa nyaman dan bahagia hidup di negeri  ini maka dia akan membela mati-matian tanah airnya .. tumpah darahnya .. dengan segala pengorbannya apabila ada yang mengusik martabat bangsanya. Dengan lomba makan krupuk tidak lantas membuat anak-anak tidak hormat kepada pahlawannya. Lomba balap karung tidak akan membuat bangsa kita menjadi lebih rendah dari bangsa lain. Nilai-nilai kompetisi dalam lomba-lomba ceria itulah yang dibutuhkan untuk berdiri sama tegak dengan bangsa lain. Biarkan anak-anak belajar bersaing dengan sportif, menghargai yang menang dan tidak merendahkan yang kalah, mengobarkan semangat kebangsaan, menjalin persatuan dan kerukunan dalam lomba-lomba yang ceria dan kreatif.
Terus dorong anak kita meraih nilai terbaik dan jangan lupa berikan kesempatan kepada anak-anak untuk menikmati hidupnya. Jangan lupa bahagia!

Semarang, 16 Agustus 2018

No comments:

Post a Comment

Alat Transportasi Populer

  Transportasi merupakan kegiatan yang sangat penting bagi manusia. Transportasi adalah aktivitas yang melibatkan pemindahan atau pengangkut...