![]() |
| Sumber Gambar : https://www.dreamstime.com |
Naskah drama sebagai salah satu karya
sastra mempunyai unsur-unsur yang sama
dengan karya sastra pada umumnya,
terutama karya prosa, yakni alur, tema,
dan penokohan. Namun, naskah drama mempunyai karakteristik yang tidak dipunyai karya
sastra lain, yaitu dapat dipentaskan. Naskah drama dapat dibedakan dengan
bentuk-bentuk lainnya terutama karena karya ini harus dapat disajikan kembali
di atas pentas. Naskah drama dibuat tidak sekadar untuk dibaca, melainkan
dipertunjukkan sebagai tontonan. Drama akan dapat dinikmati secara total apabila dipentaskan.
Bahasa dalam suatu karya sastra adalah
alat yang digunakan pengarang untuk menuangkan imajinasi dan kreativitasnya.
Makna sebuah karya sastra dapat digali dan ditelusuri melalui bahasa yang
digunakannya. Dengan demikian, pemakaian gaya bahasa dan diksi sangat
menentukan penyampaian makna suatu karya sastra. Pemakaian gaya bahasa itu
meliputi bunyi, rangkaian bunyi, kata, rangkaian kata, frase hingga kalimat
yang dipilih dan digunakan dengan seksama. Hal-hal itu dapat menggugah simpati atau empati
pembaca (Sukesti, 2003:141). Selain itu, gaya bahasa mempunyai fungsi estetis
atau sebagai variasi untuk menghindari kebosanan.
Budi Ros atau Budi Yuwono adalah salah satu
penulis naskah drama yang kenyang pengalaman di Teater Koma. Darah seninya
muncul ketika semasa kanak-kanak ia sering diajak nonton wayang olah bapaknya.
“FestovalTopeng” adalah salah satu karyanya yang sangat dipengaruhi oleh darah Jawanya
karena banyak menggunakan kata-kata bahasa Jawa dan ideom-ideom Jawa. Pandangan
tentang nilai-nilai hidup, pertentangan batin antara perbuatan baik dan buruk
tercermin dalam naskah drama yang ditulisnya itu. Selain itu, naskah drama
tersebut banyak mengungkapkan masalah sosial yang terjadi di masyarakat, sangat
menarik untuk dikaji lebih lanjut dari pendekatan stilistika.
Stilistika ialah ilmu yang menyelidiki
bahasa yang digunakan dalam karya sastra dan penerapan linguistik pada
penelitian gaya bahasa (Kridalaksana, 1982:157). Dengan kata lain stilistika
adalah ilmu tentang gaya (bahasa). Stilistika itu sesungguhnya tidak hanya
merupakan studi gaya bahasa dalam kesusastraan, tetapi juga dalam bahasa pada
umumnya. Analisis stilistika secara umum dilakukan sebagai upaya untuk menggali
totalitas makna karya sastra dan analisis secara khusus yang mencoba melihat
gaya bahasa bagian perbagian.
Gaya bahasa ialah pemanfaatan kekayaan
bahasa oleh seorang penutur dalam bertutur atau menulis, pemakaian ragam
tertentu untuk memperoleh efek tertentu pula, dan keseluruhan ciri bahasa
sekelompok penulis sastra (Kridalaksana, 1982:49-50; Mas, 1990:13-14; Suwondo,
2003:151-152). Junus yang merujuk pada pendapat Enkvist (1989:4), menyatakan
bahwa gaya adalah bungkus yang membungkus inti pemikiran yang telah ada
sebelumnya; pilihan antara berbagai-bagai pernyataan yang mungkin; sekumpulan
ciri pribadi; penyimpangan norma atau
kaidah; sekumpulan ciri kolektif; dan hubungan antarsatuan bahasa yang
dinyatakan dalam teks yang lebih luas daripada kalimat.
Dengan demikian, stilistika adalah cara
yang memanfaatkan aspek-aspek linguistik untuk mengkaji atau melakukan kritik
terhadap karya sastra. Hubungan itu tercipta karena stilistika mengkaji wacana
sastra dengan orientasi linguistik. Stilistika mengkaji cara sastrawan dalam
menggunakan unsur dan kaidah bahasa serta efek yang ditimbulkan oleh
penggunaannya itu. Stilistika meneliti ciri khas penggunaan bahasa dalam wacana
sastra, ciri yang membedakannya dengan wacana nonsastra, dan meneliti deviasi
terhadap tata bahasa sebagai sarana literer. Dengan kata
lain, stilistika meneliti fungsi puitik bahasa (Sudjiman, 1993:3; Suwondo,
2003:152).
Secara umum, lingkup telaah stilistika mencakupi
diksi atau pilihan kata (pilihan leksikal), struktur kalimat, majas, citraan,
pola rima dan matra yang digunakan seorang sastrawan atau yang terdapat dalam
karya sastra (Sudjiman, 1993:13-14). Menurut Suwondo yang merujuk pada pendapak
Pradopo, aspek-aspek bahasa yang ditelaah dalam studi stilistika meliputi
intonasi, bunyi, kata, dan kalimat sehingga lahirlah gaya intonasi, gaya bunyi,
gaya kata, dan gaya kalimat (2003:152).
Daftar Pustaka
Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus
Linguistik. Jakarta: Gramedia.
Sudjiman, Panuti. 1993. Bunga Rampai Stilistika. Jakarta:
Pustaka Utama Grafiti.
Sukesti, Restu. 2003. ‘’Cerpen Derabat Karya Budi
Darma: Analisis Stilistika’’ dalam Widya Parwa.Yogyakarta: Pusat Bahasa
– Departemen Pendidikan Nasional.
Suwondo, Tirto. 2003. Studi Sastra: Beberapa
Alternatif. Yogyakarta : Hanindita.

No comments:
Post a Comment