Sunday, August 29, 2021

Kata Benda dan Pembendaan

 

Salah satu kelas atau kategori kata dalam bahasa Indonesia adalah Kata Benda atau Nomina. Nomina atau kata benda adalah kata yang menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan.

 Berdasarkan citranya, KB dapat dibagi menjadi 2, yaitu:

1.      Kata Benda Konkret

Kata benda konkret adalah kata benda yang merujuk pada benda yang dapat dikenal atau ditangkap citranya dengan pancaindra, baik itu penglihatan, pendengaran, penciuman, pencecapan, maupun perabaan.

Contoh: buku, wewangian, udara, kehangatan, raungan, dan lain-lain.

2.      Kata Benda Abstrak

Kata benda abstrak adalah kata yang merujuk pada  benda yang hanya dapat dikenal dengan pikiran; tidak dapat ditangkap citranya dengan pancaindra.

Contoh : cinta, pikiran, kemanusiaan, kesopanan, kemarahan, kasih sayang, dan lain-lain.

 

Berdasarkan bentuknya, KB dapat dibagi menjadi 4, yaitu:

1.      KB Dasar

Kata Benda Dasar adalah kata benda yang belum berubah dari aslinya, belum mendapatkan imbuhan, belum mengalami perulangan dan pemajemukan.

Contoh : cangkul, gigi, jalan, batu, rumah, dan lain-lain.

2.      KB Berimbuhan

Kata Benda Berimbuhan adalah kata benda yang dibentuk dengan menambahkan imbuhan, baik itu awalan, sisipan, akhiran, atau imbuhan gabung.

Contoh : pencangkul, gerigi, jalanan, batuan, perumahan, dan lain-lain.

3.      KB Ulang

Kata Benda Ulang adalah kata benda yang dibentuk dengan proses perulangan.

Contoh : cangkul-cangkul, bebatuan, rumah-rumahan, dan lain-lain.

4.      KB Majemuk

Kata Benda Majemuk adalah kata benda yang dibentuk dengan cara menggabungkan dua kata benda atau lebih dengan satu makna.

Contoh : rumah makan, batu loncatan, gigi susu, jalan hidup, dan lain-lain.

 

Ciri Umum Nomina

1.      Dapat diikuti kata ini atau itu.

2.      Dapat diperluas dengan kata yang.

3.      Penyangkalan KB menggunakan kata bukan, bukan … melainkan.

4.      Biasanya menempati S, O, Pel, atau Ket.

5.      Secara leksikal KB menyatakan makna kebendaan.

Contoh:

1.      Apel itu milik saya.

2.      Apel yang berada di atas meja itu milik saya.

3.      Itu bukan apel, melainkan mangga.

4.      Itu tidak apel, tetapi mangga)*

 

Pembendaan

Dari segi struktur, nomina dapat dibedakan menjadi nomina dasar dan nomina turunan. Nomina turunan ada yang berupa nomina turunan berimbuhan, nomina turunan berulang, dan nomina majemuk atau gabungan. Nomina dasar adalah nomina tidak mengalami proses morofologis; dari aslinya sudah berupa kata benda. Yang termasuk nomina dasar adalah pensil, buku, kaca, kain, dan lain-lain . Disamping itu, ada nomina yang dibentuk dari jenis kata lain, misalnya kata kerja atau kata sifat. Kata kerja atau kata sifat yang mengalami proses morfologis sehingga menjadi kata benda disebut mengalami proses pembendaan. Jadi, pembendaan adalah proses pembentukan kata benda dari jenis kata yang lain.

Contoh:

1.      pe + manis (KS)                     : pemanis (KB)

2.      pe + sedap (KS)                     : penyedap (KB)

3.      pe + cuci (KK)                        : pencuci (KB)

4.      pe + cari (KK)                         : pencari (KB)

5.      pikir (KK) + an                       : pikiran (KB)

6.      asin (KS) + an                        : asinan (KB)

7.      puji (KK) + an                         : pujian (KB)

8.      hina (KS) + an                        : hinaan (KB)

9.      ke + mewah (KS) + an         : kemewahan (KB)

10.  ke + hidup (KK) + an            : kehidupan (KB)

Proses pembendaan dapat terjadi tanpa adanya proses morfologis. Perhatikan kalimat berikut ini!

1.      Bapak sedang mencangkul sawah.

2.      Mencangkul itu bukan pekerjaan ringan.

Berdasarkan perilaku sintaksisnya, mencangkul dalam kalimat (1) termasuk KK karena dapat didampingi dengan kata sedang, sedangkan mencangkul dalam kalimat (2) termasuk KB karena dapat diikuti kata itu dan diingkarkan dengan kata bukan meskipun kata itu tidak mengalami perubahan apa-apa.

 

Pelatihan

I.           Tentukan kata berikut termasuk KB Konkret atau Abstrak!

No

Kata

K/A

No

Kata

K/A

1.

Bunga

 

6.

Kebijaksanaan

 

2.

Bau

 

7.

Motivasi

 

3.

Asap

 

8.

Hati

 

4.

Impian

 

9.

Otak

 

5.

tangisan

 

10.

Pikiran

 

 

II.         Carilah KB Dasar, KB Berimbuhan, KB Ulang, dan KB Majemuk dari teks berikut ini!

Nomina merupakan jenis kata yang digunakan untuk menunjukan suatu benda atau bentuk benda baik benda abstrak maupun konkret. Benda abstrak yang dimaksud adalah jenis benda yang wujudnya tidak ada secara fisik namun bisa dirasakan, dan disadari memang ada. Misalnya perasaan kecewa, kekuatan, kasih sayang, cinta, dan lain-lain. Sedangkan benda konkret adalah kebalikannya, yaitu jenis benda yang memiliki bentuk fisik. Seperti meja, sepatu, lemari, pintu, mobil, smartphone, sayur-sayuran, gelombang, dan lain sebagainya. Secara umum nomina dalam suatu kalimat berperan sebagai subjek atau objek sehingga sifatnya wajib ada dan bisa ditemukan di semua kalimat.

Sumber : https://penerbitbukudeepublish.com/kata-benda/ (dengan perubahan seperlunya)

Friday, July 23, 2021

Tidak Pandang Bulu Kok Memilih?

 


Jumat, 23 Juli 2021, saya membaca sebuah berita di detik.com. Ada satu kalimat atau lebih tepatnya paragraf yang memantik rasa penasaran saya. Akan lebih enak apabila kalimat-kalimat itu saya kutip apa adanya.

Infeksi coronavirus tidak pandang bulu dan memilih penyintasnya. Setelah terjangkit Covid-19, penyintas dengan gejala ringan diwajibkan untuk melakukan isolasi mandiri (isoman) untuk mencegah penularan virus lebih masif lagi.

Paling tidak ada dua hal yang perlu dicermati. Yang pertama adalah kalimat pertama. Dilihat dari strukturnya, kalimat tersebut termasuk kalimat majemuk setara dengan dua klausa. Subjek klausa pertama adalah infeksi coronavirus dan predikatnya adalah tidak pandang bulu. Subjek klausa kedua tetap infeksi coronavirus (dilesapkan), predikatnya memilih, dan objeknya adalah penyintasnya.

Apabila kita sepakat dengan analisis srtruktur seperti itu, tampaknya ada ketidaksetaraan bahkan pertentangan makna atau maksud secara semantis. Tidak pandang bulu berarti memilih semuanya, tidak pilih-pilih, semuanya dipilih. Oleh karena itu, frase ideomatik tersebut menjadi tidak pas apabila disandingkan dengan kata memilih. Yang benar yang mana? Infeksi coronavirus itu tidak memilih penyintasnya atau memilih penyintasnya? Bingung, kan?

Penggunaan frase tidak pandang bulu dan memilih secara bersamaan dalam kalimat tersebut bisa diterima dengan perubahan seperlunya. Yang dimaksud penulis berita tentu infeksi coronavirus bisa menyasar siapa saja, tidak pilih-pilih. Mungkin kalimat yang tepat adalah sebagai berikut.

·       Infeksi coronavirus tidak pandang bulu dalam memilih penyintasnya.

              Kata sambung dan diganti dengan kata depan dalam. Hal itu mengubah kalimatnya menjadi kalimat majemuk bertingkat dengan subjek infeksi coronavirus, predikat tidak pandang bulu, dan keterangan dalam memilih penyintasnya. Keterangan kalimat tersebut berupa klausa anak dengan subjek infeksi coronavirus (dilesapkan), predikat memilih, dan objek penyintasnya. Perubahan kalimat tersebut, menurut saya masih selaras dengan maksud penulis.

              Hal lain yang perlu dicermati adalah penggunaan kata penyintas pada kalimat pertama maupun kedua. Menurut KBBI, arti penyintas adalah orang yang mampu bertahan hidup. Penyintas merupakan padanan kata survivor, yaitu orang yang selamat dari suatu marabahaya. Apabila bermakna demikian, tentu penggunaan penyintas pada kalimat pertama dan kedua menjadi tidak tepat.

              Mari kita lihat kalimat yang sudah diperbaiki tadi!

·       Infeksi coronavirus tidak pandang bulu dalam memilih penyintasnya.

Yang biasanya terkena infeksi coronovirus adalah orang yang belum pernah terserang virus corona. Para penyintas atau orang yang selamat dari serangan virus corona biasanya sudah mempunyai antibodi yang dapat menangkal serangan virus yang sama. Jadi, penggunaan kata penyintas pada kalimat tersebut kurang tepat. Mungkin akan lebih pas apabila kata penyintas diganti dengan kata orang, sasaran, atau penderita.

·       Infeksi coronavirus tidak pandang bulu dalam memilih orang.

·       Infeksi coronavirus tidak pandang bulu dalam memilih sasaran.

·       Infeksi coronavirus tidak pandang bulu dalam memilih penderita.

Lalu, bagaimana dengan penggunaan kata penyintas pada kalimat yang kedua? Mari kita lihat lagi kalimatnya!

Setelah terjangkit Covid-19, penyintas dengan gejala ringan diwajibkan untuk melakukan isolasi mandiri (isoman) untuk mencegah penularan virus lebih masif lagi.

Sama dengan kalimat pertama, penggunaan penyintas pada kalimat kedua ini pun tidak tepat. Para penyintas dapat dikatakan sudah tidak terjangkit lagi oleh virus corona. Mekipun para penyintas bisa saja masih merasakan gejala-gejala ringan, tetapi itu sebagai gejala ikutan setelah terserang virus corona, bukan gejala utama ketika terkena serangan virus corona. Jadi, sekali lagi penggunaan kata penyintas pada kalimat tersebut tidak tepat. Kata yang lebih tepat adalah penderita sehingga kalimatnya akan menjadi seperti ini.

Setelah terjangkit Covid-19, penderita dengan gejala ringan diwajibkan untuk melakukan isolasi mandiri (isoman) untuk mencegah penularan virus lebih masif lagi.

Demikian analisis saya. Barangkali Anda mempunyai pandangan yang berbeda atau tambahan analisis? Mari berbagi di sini!

 

Sholihul Hadi, 23 Juli 2021


Wednesday, March 3, 2021

Ridwanda, Sang Fotografer

            

           Ridwanda merupakan fotografer yang cukup ternama di Kota Semarang. Sebenarnya banyak fotografer di kota lunpia ini, tetapi ada satu hal yang membuatnya Ridwanda istimewa, yaitu keterbatasan fisiknya. Sudah banyak penghargaan yang diperolehnya selama berkarier sebagai fotografer. Sekarang dia sangat menikmati profesi yang sesuai dengan passion-nya itu.

Ridwanda lahir pada tanggal 20 Mei 2001 dengan ‘ketidaksempurnaan’ pada jari tangan kanannya. Jari-jari tangannya tidak tumbuh sempurna seperti pada jari tangan yang satunya. Padahal jari bagi fotografer adalah ‘senjata’ utama, bukan? Tentu pada mulanya hal itu membuat kaget, bahkan shock, kedua orang tuanya, terutama ibunya. Tetapi, lambat laun, orang tuanya dapat menerima kekurangan itu sebagai anugerah yang diberikan Allah kepada keluarga kecil mereka.

Sejak kecil ayah ibunya memperlakukan Ridwanda selayaknya anak yang tanpa keterbatasan. ‘Kekurangan’ yang dimiliki anaknya tidak pernah ditutupi. Bahkan Ridwanda terus didorong untuk terbuka dengan kekurangan yang dimilikinya kepada siapa pun. Hal itu membuat kepercayaan dirinya terasah. Menjadi sesuatu yang wajar apabila orang tua mempunyai kekhawatiran terhadap anaknya itu. Apakah anaknya mampu melewati ejekan atau hinaan dari orang di sekitarnya? Untungnya Ridwanda mampu melewati masa itu dengan cukup mudah.

Pernah suatu saat, guru SMP-nya marah melihat Ridwanda mengacungkan jari tangan kirinya ketika ditanya sesuatu oleh gurunya. Beliau mungkin menganggap anak itu tidak sopan dengan mengacungkan jari tangan kirinya. “Angkat tangan kananmu!” bentaknya. Dengan perlahan Ridwanda mengangkat tangannya. Melihat tangan kanan Ridwan dengan jari yang tidak tumbuh sempurna, seketika tercekatlah suara sang guru. Dipeluknya Ridwanda tanpa berkata apa-apa. Hanya air mata penyesalan yang bercucuran dari kedua pelupuk mata guru itu. Ia paham anak sekecil Ridwanda, tentu masih ada rasa malu dengan keterbatasan yang dimilikinya.

Saat Ridwanda sekolah di SMA, dia betul-betul menemukan tempat yang tepat, dunia yang sesuai dengan gairahnya. Dia mendapatkan guru pembimbing yang tepat, yang bisa mengarahkan dan mengasah potensi yang ada pada diri Ridwanda. Dia mulai belajar fotografi dengan tekun dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah itu. Setiap ada event lomba fotografi, ia mengikutinya. Kalah atau menang tidak menjadi pikirannya. Yang ada di benaknya hanyalah ia dapat mengasah keterampilannya melalui berbagai lomba. Hasilnya tidak begitu mengecewakan. Ia pernah menjadi Juara 1 Lomba Fotografi USM. Juga pernah menjadi Juara I Lomba Fotografi yang diadakan oleh Pemerintah Kota Semarang. Sampai sekarang sudah banyak prestasi yang ditorehkannya dari dunia fotografi. Ia sangat menikmati profesinya sebagai seorang fotografer

Melalui kisah Ridwanda, Sang Fografer kita bisa belajar bnayak bahwa keterbatasan tidak menjadi kunci kesuksesan seseorang. Jangan merendahkan atau menghina orang lain hanya karena keterbatasan fisiknya. Keterbatasan fisik mestinya tidak menjadi penghalang untuk berprestasi. Setiap orang dapat menjadi orang yang hebat selama ada peluang, kemauan yang kuat, dan kerja keras.

Alat Transportasi Populer

  Transportasi merupakan kegiatan yang sangat penting bagi manusia. Transportasi adalah aktivitas yang melibatkan pemindahan atau pengangkut...