Jumat, 23 Juli 2021,
saya membaca sebuah berita di detik.com. Ada satu kalimat atau lebih
tepatnya paragraf yang memantik rasa penasaran saya. Akan lebih enak apabila
kalimat-kalimat itu saya kutip apa adanya.
Infeksi coronavirus
tidak pandang bulu dan memilih penyintasnya. Setelah terjangkit Covid-19,
penyintas dengan gejala ringan diwajibkan untuk melakukan isolasi mandiri
(isoman) untuk mencegah penularan virus lebih masif lagi.
Paling tidak ada dua
hal yang perlu dicermati. Yang pertama adalah kalimat pertama. Dilihat dari
strukturnya, kalimat tersebut termasuk kalimat majemuk setara dengan dua
klausa. Subjek klausa pertama adalah infeksi coronavirus dan
predikatnya adalah tidak pandang bulu. Subjek klausa kedua tetap infeksi
coronavirus (dilesapkan), predikatnya memilih, dan objeknya adalah penyintasnya.
Apabila kita sepakat
dengan analisis srtruktur seperti itu, tampaknya ada ketidaksetaraan bahkan
pertentangan makna atau maksud secara semantis. Tidak pandang bulu
berarti memilih semuanya, tidak pilih-pilih, semuanya dipilih. Oleh karena itu,
frase ideomatik tersebut menjadi tidak pas apabila disandingkan dengan kata memilih.
Yang benar yang mana? Infeksi coronavirus itu tidak memilih penyintasnya atau
memilih penyintasnya? Bingung, kan?
Penggunaan frase tidak
pandang bulu dan memilih secara bersamaan dalam kalimat tersebut bisa diterima
dengan perubahan seperlunya. Yang dimaksud penulis berita tentu infeksi
coronavirus bisa menyasar siapa saja, tidak pilih-pilih. Mungkin kalimat yang
tepat adalah sebagai berikut.
·
Infeksi coronavirus tidak pandang bulu dalam
memilih penyintasnya.
Kata
sambung dan diganti dengan kata depan dalam. Hal itu mengubah
kalimatnya menjadi kalimat majemuk bertingkat dengan subjek infeksi coronavirus,
predikat tidak pandang bulu, dan keterangan dalam memilih penyintasnya.
Keterangan kalimat tersebut berupa klausa anak dengan subjek infeksi coronavirus
(dilesapkan), predikat memilih, dan objek penyintasnya. Perubahan
kalimat tersebut, menurut saya masih selaras dengan maksud penulis.
Hal
lain yang perlu dicermati adalah penggunaan kata penyintas pada kalimat
pertama maupun kedua. Menurut KBBI, arti penyintas adalah orang yang mampu
bertahan hidup. Penyintas merupakan padanan kata survivor, yaitu orang
yang selamat dari suatu marabahaya. Apabila bermakna demikian, tentu penggunaan
penyintas pada kalimat pertama dan kedua menjadi tidak tepat.
Mari
kita lihat kalimat yang sudah diperbaiki tadi!
· Infeksi
coronavirus tidak pandang bulu dalam memilih penyintasnya.
Yang biasanya terkena
infeksi coronovirus adalah orang yang belum pernah terserang virus corona. Para
penyintas atau orang yang selamat dari serangan virus corona biasanya sudah mempunyai
antibodi yang dapat menangkal serangan virus yang sama. Jadi, penggunaan kata penyintas
pada kalimat tersebut kurang tepat. Mungkin akan lebih pas apabila kata penyintas
diganti dengan kata orang, sasaran, atau penderita.
· Infeksi
coronavirus tidak pandang bulu dalam memilih orang.
· Infeksi
coronavirus tidak pandang bulu dalam memilih sasaran.
·
Infeksi coronavirus tidak pandang bulu dalam
memilih penderita.
Lalu, bagaimana
dengan penggunaan kata penyintas pada kalimat yang kedua? Mari kita lihat lagi
kalimatnya!
Setelah
terjangkit Covid-19, penyintas dengan gejala ringan diwajibkan untuk melakukan
isolasi mandiri (isoman) untuk mencegah penularan virus lebih masif lagi.
Sama dengan kalimat
pertama, penggunaan penyintas pada kalimat kedua ini pun tidak tepat. Para
penyintas dapat dikatakan sudah tidak terjangkit lagi oleh virus corona. Mekipun
para penyintas bisa saja masih merasakan gejala-gejala ringan, tetapi itu
sebagai gejala ikutan setelah terserang virus corona, bukan gejala utama ketika
terkena serangan virus corona. Jadi, sekali lagi penggunaan kata penyintas
pada kalimat tersebut tidak tepat. Kata yang lebih tepat adalah penderita
sehingga kalimatnya akan menjadi seperti ini.
Setelah
terjangkit Covid-19, penderita dengan gejala ringan diwajibkan untuk melakukan
isolasi mandiri (isoman) untuk mencegah penularan virus lebih masif lagi.
Demikian analisis
saya. Barangkali Anda mempunyai pandangan yang berbeda atau tambahan analisis?
Mari berbagi di sini!
Sholihul Hadi, 23 Juli 2021

No comments:
Post a Comment