Ridwanda merupakan fotografer yang cukup ternama di Kota Semarang. Sebenarnya banyak fotografer di kota lunpia ini, tetapi ada satu hal yang membuatnya Ridwanda istimewa, yaitu keterbatasan fisiknya. Sudah banyak penghargaan yang diperolehnya selama berkarier sebagai fotografer. Sekarang dia sangat menikmati profesi yang sesuai dengan passion-nya itu.
Ridwanda lahir pada tanggal
20 Mei 2001 dengan ‘ketidaksempurnaan’ pada jari tangan kanannya. Jari-jari
tangannya tidak tumbuh sempurna seperti pada jari tangan yang satunya. Padahal
jari bagi fotografer adalah ‘senjata’ utama, bukan? Tentu pada mulanya hal itu
membuat kaget, bahkan shock, kedua orang tuanya, terutama ibunya. Tetapi, lambat
laun, orang tuanya dapat menerima kekurangan itu sebagai anugerah yang
diberikan Allah kepada keluarga kecil mereka.
Sejak kecil ayah
ibunya memperlakukan Ridwanda selayaknya anak yang tanpa keterbatasan. ‘Kekurangan’
yang dimiliki anaknya tidak pernah ditutupi. Bahkan Ridwanda terus didorong
untuk terbuka dengan kekurangan yang dimilikinya kepada siapa pun. Hal itu
membuat kepercayaan dirinya terasah. Menjadi sesuatu yang wajar apabila orang
tua mempunyai kekhawatiran terhadap anaknya itu. Apakah anaknya mampu melewati
ejekan atau hinaan dari orang di sekitarnya? Untungnya Ridwanda mampu melewati
masa itu dengan cukup mudah.
Pernah suatu saat,
guru SMP-nya marah melihat Ridwanda mengacungkan jari tangan kirinya ketika
ditanya sesuatu oleh gurunya. Beliau mungkin menganggap anak itu tidak sopan
dengan mengacungkan jari tangan kirinya. “Angkat tangan kananmu!” bentaknya.
Dengan perlahan Ridwanda mengangkat tangannya. Melihat tangan kanan Ridwan
dengan jari yang tidak tumbuh sempurna, seketika tercekatlah suara sang guru.
Dipeluknya Ridwanda tanpa berkata apa-apa. Hanya air mata penyesalan yang bercucuran
dari kedua pelupuk mata guru itu. Ia paham anak sekecil Ridwanda, tentu masih
ada rasa malu dengan keterbatasan yang dimilikinya.
Saat Ridwanda sekolah di SMA, dia betul-betul menemukan tempat yang tepat, dunia yang sesuai dengan gairahnya. Dia mendapatkan guru pembimbing yang tepat, yang bisa mengarahkan dan mengasah potensi yang ada pada diri Ridwanda. Dia mulai belajar fotografi dengan tekun dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah itu. Setiap ada event lomba fotografi, ia mengikutinya. Kalah atau menang tidak menjadi pikirannya. Yang ada di benaknya hanyalah ia dapat mengasah keterampilannya melalui berbagai lomba. Hasilnya tidak begitu mengecewakan. Ia pernah menjadi Juara 1 Lomba Fotografi USM. Juga pernah menjadi Juara I Lomba Fotografi yang diadakan oleh Pemerintah Kota Semarang. Sampai sekarang sudah banyak prestasi yang ditorehkannya dari dunia fotografi. Ia sangat menikmati profesinya sebagai seorang fotografer
Melalui kisah Ridwanda, Sang Fografer kita bisa belajar bnayak bahwa keterbatasan tidak menjadi kunci kesuksesan seseorang. Jangan merendahkan atau menghina orang lain hanya karena keterbatasan fisiknya. Keterbatasan fisik mestinya tidak menjadi penghalang untuk berprestasi. Setiap orang dapat menjadi orang yang hebat selama ada peluang, kemauan yang kuat, dan kerja keras.
No comments:
Post a Comment