Sunday, October 20, 2019

Jembatan Kaligarang “Amblas”


Suatu pagi penduduk di sekitar Kaligarang, Semarang, dibuat kaget sekaligus cemas mendengar berita pagi hari di satu stasiun televisi. Penyiar menyampaikan Jembatan Kaligarang amblas tergerus arus sungai setelah hujan deras mengguyur Kota Semarang semalaman. Ahh ... yang bener saja. Berduyun-duyun warga Kota Semarang mendatangi jembatan dan sekali lagi mereka harus kaget .. tapi kali ini diikuti dengan rasa lega. Kekhawatiran mereka akan jembatan yang hilang musna digondol jin hilang seketika ketika mereka menjumpai jembatan kesayangannya masih utuh terbentang dari ujung barat ke timur. Hanya sebagian jembatan saja yang ‘ambles’ ke bawah karena salah satu tiangnya bergeser terseret derasnya arus sungai.
Tak jarang kita temui kesalahpahamaan pemaknaan bahasa ketika salah terjadi kesalahan alihbahasa dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia. Ambles dalam bahasa Jawa artinya turun atau masuk ke dalam tanah. Orang di luar etnis Jawa akan mengira kata ambles akan berubah menjadi amblas ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Padahal amblas dalam bahasa Jawa mempunyai arti jauh berbeda dari kata ambles. Amblas adalah hilang musna, pergi entah ke mana. Ternyata mengalihbahasakan sebuah kata apalagi kalimat tidak bisa sembarangan, harus tahu sejarah dan kronologisnya, harus paham latar belakang budaya bahasa tersebut  agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Orang Indonesia menyatakan janggut yang bagus itu bak sarang lebah bergantung. Orang Inggris tidak mengatakan hanging base untuk menunjukkan janggut yang cantik tapi mereka menamainya dengan sebutan triangle. Ini karena latar budaya yang berbeda.
Televisi, radio, media daring, atau media cetak berpengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat. Bahkan dapat dikatakan media elektronik maupun cetak sekarang sudah dijadikan sebagai rujukan bagi masyarakat untuk menentukan gaya hidupnya. Masyarakat meniru gaya hidup, gaya berbusana, gaya berbicara, dan lain-lain yang dilihat dan didengarnya di media massa. Begitu juga dengan berbahasa. Kesalahan penggunaan bahasa di media massa sangat besar pengaruhnya terhadap penggunaan bahasa yang ada di masyarakat. Masyarakat menganggap apa yang dilihat dan didengarnya di media selalu benar. Apabila media tidak mampu  menggunakan bahasa dengan benar, akan menjadi perjuangan yang sangat berat bagi bapak dan ibu guru Bahasa Indonesia untuk membiasakan anak didiknya menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Bekal yang didapat di sekolah akan hilang tak berbekas ketika anak-anak melihat dan mendengar bahasa yang digunakan di televisi karena sering apa yang mereka lihat tidak sesuai dengan apa yang telah diajarkan bapak ibu gurunya di sekolah. Celakanya televisi lebih penetratif daripada “doktrin” guru bahasa.  Celakanyanya pula, yang terpenting dalam berbahasa atau berkomunikasi adalah pemahaman. Jadi ketika orang bisa memahami apa yang diucapkan orang lain, dianggap benar pula bahasa yang digunakan. Padahal belum tentu seperti itu. Dalam bahasa lisan, kebenaran gramatika tidak begitu diperhitungkan karena ada intonasi, mimik, dan gestur untuk mendukung makna yang akan disampaikan. Anak-anak sering berhadapan dengan bahasa yang ‘salah’ tetapi bisa dipahami sehingga mereka tidak bisa lagi membedakan bahasa yang salah dan benar secara gramatika. Jadi, ketika anak-anak dihadapkan pada situasi harus menggunakan bahasa dengan benar, benar-benar mereka kesulitan.
Sering juga guru disalahkan sebagai orang yang tidak bisa mendidik ketika anak berbicara kasar. Mungkin ada satu atau dua orang guru bahasa yang berbicara kasar, tetapi aku yakini benar sebagian besar guru sudah mengajari anak didiknya untuk berbicara dengan santun. Ternyata anak tidak hanya belajar dari gurunya di sekolah, mereka juga belajar dari lingkungannya, dari tontonan yang dilihatnya di televisi, dari teman sepergaulannya.  Mereka tidak hanya belajar yang baik saja, tetapi bisa saja mereka belajar yang buruk dari lingkungannya. Itu yang tidak bisa di-handle oleh guru di sekolah.
Lebih nelangsa lagi ketika ada orang bertanya, mengapa jarang ada anak yang mendapatkan nilai 100 dalam ujian Bahasa Indonesia dibandingkan Matematika. Padahal  Bahasa Indoensia dianggap pelajaran yang lebih mudah dibandingkan Matematika. Sekali lagi ada peran media dan lingkungan di sini. Membedakan sewenang-wenang dan semena-mena kadang awak media tidak bisa. Tadi pagi ketika berangkat ke kantor aku mendengar sendiri ada penyiar televisi yang memberitakan tindakan arogansi pengemudi mobil di jalan raya. Dia mengatakan “ ... seharusnya di jalan raya pengemudi tidak semena-mena terhadap pengguna lalu lintas yang lain.” Salah, kan? Tidak semua yang diterima dan dipahami anak-anak dari media dan lingkungan sesuai dengan apa yang telah diajarkan guru di sekolah.
Ternyata guru tidak bisa berjuang sendirian. Guru butuh bantuan dan dukungan dari lingkungan dan media khusunya televisi agar anak-anak bisa menggunakan bahasa dengan benar. Apabila anak-anak melihat contoh yang benar, mereka akan dapat menggunakan bahasa dengan benar pula. Apabila ada sinergi yang bagus antara sekolah, lingkungan anak, dan media, akan lebih mudah untuk mendidik anak agar mereka bisa berbahasa dengan baik, benar, dan santun. Dengan begitu insya Allah akan lebih banyak anak yang akan mendapatkan nilai 100 di dalam ujian. Eh ... omong-omong kalau televisi butuh editor bahasa ... kita siap ... hahahaha


Semarang, Juni 2018

No comments:

Post a Comment

Alat Transportasi Populer

  Transportasi merupakan kegiatan yang sangat penting bagi manusia. Transportasi adalah aktivitas yang melibatkan pemindahan atau pengangkut...