Suatu
pagi penduduk di sekitar Kaligarang, Semarang, dibuat kaget sekaligus cemas
mendengar berita pagi hari di satu stasiun televisi. Penyiar menyampaikan Jembatan
Kaligarang amblas tergerus arus sungai setelah hujan deras mengguyur Kota
Semarang semalaman. Ahh ... yang bener
saja. Berduyun-duyun warga Kota Semarang mendatangi jembatan dan sekali lagi
mereka harus kaget .. tapi kali ini diikuti dengan rasa lega. Kekhawatiran
mereka akan jembatan yang hilang musna digondol
jin hilang seketika ketika mereka menjumpai jembatan kesayangannya masih utuh
terbentang dari ujung barat ke timur. Hanya sebagian jembatan saja yang
‘ambles’ ke bawah karena salah satu tiangnya bergeser terseret derasnya arus
sungai.
Tak
jarang kita temui kesalahpahamaan pemaknaan bahasa ketika salah terjadi
kesalahan alihbahasa dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia. Ambles dalam bahasa Jawa artinya turun
atau masuk ke dalam tanah. Orang di luar etnis Jawa akan mengira kata ambles akan berubah menjadi amblas
ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Padahal amblas dalam bahasa
Jawa mempunyai arti jauh berbeda dari kata ambles. Amblas adalah hilang musna,
pergi entah ke mana. Ternyata mengalihbahasakan sebuah kata apalagi kalimat
tidak bisa sembarangan, harus tahu sejarah dan kronologisnya, harus paham latar
belakang budaya bahasa tersebut agar
tidak menimbulkan kesalahpahaman. Orang Indonesia menyatakan janggut yang bagus
itu bak sarang lebah bergantung. Orang Inggris tidak mengatakan hanging base untuk menunjukkan janggut
yang cantik tapi mereka menamainya dengan sebutan triangle. Ini karena latar budaya yang berbeda.
Televisi,
radio, media daring, atau media cetak berpengaruh besar terhadap kehidupan
masyarakat. Bahkan dapat dikatakan media elektronik maupun cetak sekarang sudah
dijadikan sebagai rujukan bagi masyarakat untuk menentukan gaya hidupnya.
Masyarakat meniru gaya hidup, gaya berbusana, gaya berbicara, dan lain-lain
yang dilihat dan didengarnya di media massa. Begitu juga dengan berbahasa. Kesalahan
penggunaan bahasa di media massa sangat besar pengaruhnya terhadap penggunaan
bahasa yang ada di masyarakat. Masyarakat menganggap apa yang dilihat dan
didengarnya di media selalu benar. Apabila media tidak mampu menggunakan bahasa dengan benar, akan menjadi
perjuangan yang sangat berat bagi bapak dan ibu guru Bahasa Indonesia untuk
membiasakan anak didiknya menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Bekal yang didapat di sekolah akan hilang tak berbekas ketika anak-anak melihat
dan mendengar bahasa yang digunakan di televisi karena sering apa yang mereka
lihat tidak sesuai dengan apa yang telah diajarkan bapak ibu gurunya di sekolah.
Celakanya televisi lebih penetratif daripada “doktrin” guru bahasa. Celakanyanya pula, yang terpenting dalam
berbahasa atau berkomunikasi adalah pemahaman. Jadi ketika orang bisa memahami
apa yang diucapkan orang lain, dianggap benar pula bahasa yang digunakan. Padahal
belum tentu seperti itu. Dalam bahasa lisan, kebenaran gramatika tidak begitu
diperhitungkan karena ada intonasi, mimik, dan gestur untuk mendukung makna
yang akan disampaikan. Anak-anak sering berhadapan dengan bahasa yang ‘salah’
tetapi bisa dipahami sehingga mereka tidak bisa lagi membedakan bahasa yang
salah dan benar secara gramatika. Jadi, ketika anak-anak dihadapkan pada
situasi harus menggunakan bahasa dengan benar, benar-benar mereka kesulitan.
Sering
juga guru disalahkan sebagai orang yang tidak bisa mendidik ketika anak
berbicara kasar. Mungkin ada satu atau dua orang guru bahasa yang berbicara kasar,
tetapi aku yakini benar sebagian besar guru sudah mengajari anak didiknya untuk
berbicara dengan santun. Ternyata anak tidak hanya belajar dari gurunya di
sekolah, mereka juga belajar dari lingkungannya, dari tontonan yang dilihatnya
di televisi, dari teman sepergaulannya.
Mereka tidak hanya belajar yang baik saja, tetapi bisa saja mereka
belajar yang buruk dari lingkungannya. Itu yang tidak bisa di-handle oleh guru di sekolah.
Lebih
nelangsa lagi ketika ada orang
bertanya, mengapa jarang ada anak yang mendapatkan nilai 100 dalam ujian Bahasa
Indonesia dibandingkan Matematika. Padahal
Bahasa Indoensia dianggap pelajaran yang lebih mudah dibandingkan
Matematika. Sekali lagi ada peran media dan lingkungan di sini. Membedakan sewenang-wenang dan semena-mena kadang awak media tidak bisa. Tadi pagi ketika
berangkat ke kantor aku mendengar sendiri ada penyiar televisi yang
memberitakan tindakan arogansi pengemudi mobil di jalan raya. Dia mengatakan “
... seharusnya di jalan raya pengemudi tidak semena-mena terhadap pengguna lalu
lintas yang lain.” Salah, kan? Tidak
semua yang diterima dan dipahami anak-anak dari media dan lingkungan sesuai
dengan apa yang telah diajarkan guru di sekolah.
Ternyata guru tidak bisa berjuang sendirian. Guru
butuh bantuan dan dukungan dari lingkungan dan media khusunya televisi agar anak-anak
bisa menggunakan bahasa dengan benar. Apabila anak-anak melihat contoh yang
benar, mereka akan dapat menggunakan bahasa dengan benar pula. Apabila ada
sinergi yang bagus antara sekolah, lingkungan anak, dan media, akan lebih mudah
untuk mendidik anak agar mereka bisa berbahasa dengan baik, benar, dan santun. Dengan
begitu insya Allah akan lebih banyak anak yang akan mendapatkan nilai 100 di
dalam ujian. Eh ... omong-omong kalau televisi butuh editor bahasa ... kita
siap ... hahahaha
Semarang, Juni 2018
No comments:
Post a Comment