Monday, October 21, 2019

Menyoal Tulisan Dr. Fahrudin


Foto Ilustrasi : Foto/istockphoto

Senin, 21 Oktober 2019, di salah satu grup wa yang saya ikuti mucul sebuah pemberitahuan. Pesan datang dari Dr. Fahrudin Eko Hardiyanto, M.Pd.  Beliau menginformasikan pemuatan salah satu tulisannya di salah satu surat kabar nasional di Jawa Tengah. Ada yang menarik perhatian saya saat membaca tulisan beliau, terutama yang berkaitan dengan aspek kebahasaan.

Tulisannya berjudul “Mengenal dan Menyoal Program Sekolah Digital”. Isi tulisannya bagus, informatif, dan penuh harap atas keterlaksanaan program sekolah digital. Namun, justru aspek bahasalah yang menjadi perhatian saya. Mengapa itu jadi penting bagi saya? Alasan pertama adalah tulisan itu dimuat di media cetak yang bica dibaca oleh semua kalangan. Tulisan di koran akan menjadi rujukan bagi pembacanya. Masyarakat menganggap tulisan yang muncul di koran pastilah benar, sesuai dengan kaidah. Oleh karena itu, tulisan yang dimuat di koran hendaknya dijaga kebakuannya. Yang kedua adalah karena penulisnya. Penulis adalah Dr. Fahrudin Eko Hardiyanto, M.Pd, seorang doktor di bidang Pendidikan Bahasa Indonesia sehingga mau tidak mau beliau harus menanggung ‘beban’ untuk selalu berbahasa dengan baik dan benar, apa pun medianya. Mungkin saja, tulisan itu sudah mengalami proses editing di redaksi. Tapi bukankah proses penyuntingan semestinya harus tetap menjaga kebenaran isi dan kebakuan bahasanya?

Baiklah, mari kita simak bersama tulisan beliau sebagai berikut. (Saya tulis apa adanya sesuai dengan apa yang tertulis di koran)

Sejak kali pertama program Digitalisasi Sekolah diluncurkan secara nasional oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) di Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau dipertengahan September 2019, telah membawa angin segar dan harapan baru untuk melahirkan sekolah berkemajuan yang unggul dalam pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai implementasi dari gerakan pembelajaran new learning yang disiapkan untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Program pendidikan terutama dalam penerapan pendekatan, teknik, metode, sumber belajar, dan media pembelajran yang mampu menjawab ekspektasi dan tantangan zaman melalui penciri pembelajaran yang berpusat pada siswa, pendayagunaan media yang relevan, kreatif, inovatif, dan menggembirakan yang dikembangkan melalui model pembelajaran kolaboratif.

Pada tahun ini, program digitalisasi sekolah akan direalisasikan kepada 30.227 sekolah melalui BOS Afirmasi, dan 6.004 sekolah melalui BOS Kinerja. Melalui program ini, pemerintah akan memberikan sarana pembelajaran di sekolah berupa tablet kepada 1.753.000 siswa kelas 6, kelas 7, dan kelas 10 di seluruh Indonesia, khususnya sekolah yang berada di pinggiran. Komputer tablet tersebut telah dipasangkan aplikasi rumah belajar yang menyediakan delapan fitur utama, yakni sumber belajar, buku sekolah elektronik, bank soal, laboratorium maya, peta budaya, wahana jelajah angkasa, pengembangan keprofesian berkelanjutan, dan kelas maya.
(masih ada beberapa paragraf, tetapi cukuplah itu sebagai bahasan dalam esai ini)

Ada beberapa hal yang perlu dicermati dalam tulisan tersebut. Kalimat pertama paragraf pertama, menurut saya tidak lengkap fungsi sintaksisnya.  Analisisnya sebagai berikut.
1.    Sejak kali pertama program Digitalisasi Sekolah diluncurkan secara nasional oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) di Kabupaten Natuna Provinsi Kepualauan Riau dipertengahan September 2019, (Keterangan)
2.      telah membawa (Predikat)
3.      angin segar dan harapan baru (Objek)
4.    untuk melahirkan sekolah berkemajuan yang unggul dalam pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai implementasi dari gerakan pembelajaran new learning yang disiapkan untuk menghadapi revolusi industri 4.0. (Keterangan)

Menurut saya subjek kalimat tersebut tidak ada. Meskipun subjek dalam kalimat dapat dilesapkan, subjek dalam kalimat tetap dapat dicari dan dirunut keberadaannya. Saya tidak bisa menemukan subjek dalam kalimat itu. Subjek kalimat tersebut sebenarnya dapat dicari dengan menjawab  pertanyaan ‘Apa yang telah membawa angin segar dan harapan baru?’. Jawabannya adalah  program Digitalisasi Sekolah. Masalah itu dapat diselesaikan dengan pemindahan frasa program Digitalisasi Sekolah saja.

Masalah kedua yang terdapat pada kalimat tersebut adalah penggunaan kata depan pada kata dipertengahan. Saya yakin Anda paham bahwa penulisan kata depan berbeda dengan imbuhan. Kata depan ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, tetapi imbuhan ditulis serangkai. Termasuk penulisan kata depan di. Penulisan yang tepat adalah di pertengahan.

Satu lagi, penggunaan kata berkemajuan pada klausa untuk melahirkan sekolah berkemajuan yang unggul dalam pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Saya tidak dapat membayangkan sekolah yang berkemajuan itu seperti apa. Ini bisa saja karena saya yang tidak terlalu sigap mengikuti perkembangan bahasa. Kata berkemajuan dapat diartikan mempunyai kemajuan. Relevankah bila kita sandingkan dengan kata sekolah menjadi sekolah mempunyai kemajuan? Saya kira cukup menggunakan kata maju saja, menjadi sekolah yang maju. Tentu saja perubahan itu harus diikuti dengan penggantian kata yang dengan konjungsi dan sehingga ada dua keterangan untuk kata sekolah, yaitu maju dan unggul

Secara keseluruhan, kalimat tersebut dapat diubah menjadi kalimat seperti berikut ini.
Sejak kali pertama diluncurkan secara nasional oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) di Kabupaten Natuna Provinsi Kepualauan Riau di pertengahan September 2019, program Digitalisasi Sekolah telah membawa angin segar dan harapan baru untuk melahirkan sekolah yang maju dan unggul dalam pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai implementasi dari gerakan pembelajaran new learning yang disiapkan untuk menghadapi revolusi industri 4.0.

Berikutnya kalimat(?) kedua. Menurutku deretan kata tersebut tidak bisa disebut dengan kalimat, bahkan klausa pun belum bisa. Hal itu karena deretan kata tersebut tidak mempunyai predikat (bersifat nonpredikatfi), apalagi fungsi sintaksis yang lengkap sebagai sebuah kalimat. Menurutku seluruh kata yang ditulis setelah frasa program pendidikan adalah kata-kata yang menerangkan atau memperjelas frasa tersebut. Meskipun ada klausa yang mampu menjawab ekspektasi dan tantangan zaman melalui penciri pembelajaran yang berpusat pada siswa, pendayagunaan media yang relevan, kreatif, inovatif, dan menggembirakan yang dikembangkan melalui model pembelajaran kolaboratif, tetapi klausa itu pun hanya memberikan keterangan tambahan frasa program pendidikan, bukan sebagai bagian dari sebuah kalimat. Jadi, secara keseluruhan deretan kata itu merupakan frasa dan tentu belum mempunyai fungsi sintaksis. Karena belum mempunyai funggi sintaksis, deretan kata itu pasti bukanlah sebuah kalimat karena kalimat harus bersifat predikatif dan punya fungsi sintaksis yang lengkap (minimal subjek dan predikat). Agar deretan kata tersebut berubah menjadi deratan kata yang bersifat predikatif, perlu ditambahkan predikat dalam deretan kata itu. Cara yang paling mudah adalah dengan mengganti kata yang, misalnya dengan kata diharapkan

Hal yang juga menggelitik hati saya adalah deretan kata Program pendidikan terutama dalam penerapan pendekatan, teknik, metode, sumber belajar, dan media pembelajaran. Bagi saya, itu agak susah dipahami. Menurutku pendekatan, teknik, metode, dan seterusnya bukanlah sebuah program pendidikan, melainkan hal-hal yang disasar oleh program pendidikan tersebut. Oleh karena itu, barangkali akan lebih mudah dipahami apabila deretan kata tersebut diubah menjadi Program pendidikan terutama yang berkaitan dengan penerapan pendekatan, teknik, metode, sumber belajar, dan media pembelajaran.

Selanjutnya adalah penggunaan kata penciri. Jujur saja saya baru petama kali ini membaca kata ini. Sebelumnya belum pernah saya menemukan (membaca atau mendengar) kata tersebut. Saya tidak tahu apa maknanya. Saya buka kamus juga tidak ada kata itu. Saya mencoba untuk menelaahnya, mungkin saja kata itu berasal dari kata ciri yang mendapatkan awalan pen-. Namun, saya masih belum menemukan makna yang pas untuk konteks satuan kebahasaan tersebut. Penciri mungkin bisa diartikan pembeda. Tetapi, pembeda pun kurang pas dalam konteks tersebut. Menurut saya, satuan kebahasaan itu akan lebih mudah dipahami dengan menghilangkan saja kata penciri.

Sehubungan dengan itu, barangkali deretan kata tersebut perlu diubah sebagai berikut supaya menjadi kalimat yang lengkap dan benar.
Program pendidikan terutama yang berkaitan dengan penerapan pendekatan, teknik, metode, sumber belajar, dan media pembelajaran diharapkan mampu menjawab ekspektasi dan tantangan zaman melalui pembelajaran yang berpusat pada siswa, pendayagunaan media yang relevan, kreatif, inovatif, dan menggembirakan yang dikembangkan melalui model pembelajaran kolaboratif.

Telaah fungsi sintaksis kalimat tersebut adalah sebagai berikut.
1.  Program pendidikan terutama yang berkaitan dengan penerapan pendekatan, teknik, metode, sumber belajar, dan media pembelajaran (Subjek)
2.      diharapkan mampu menjawab (Predikat)
3.      ekspektasi dan tantangan zaman (Objek)
4.   melalui pembelajaran yang berpusat pada siswa, pendayagunaan media yang relevan, kreatif, inovatif, dan menggembirakan yang dikembangkan melalui model pembelajaran kolaboratif. (Keterangan)

Hal yang menarik perhatian saya pada paragraf yang kedua adalah masalah diksi, terutama pemilihan kata kepada dan dipasangkan. Kata depan kepada ditemukan pada frasa kepada 30.227 sekolah. Kata depan kepada mestinya digunakan untuk menunjuk pada orang. Untuk mengacu benda yang menunjukkan tempat, lebih tepat menggunakan kata di atau ke. Perhatikan kalimat berikut ini!
1.      Serahkan surat ini kepada gurumu!
2.      Kumbang memberikan selendang itu kepada Bunga dengan perasaan berbinar-binar.
3.      Letakkan surat itu di meja!
4.      Kumbang menemui Bunga di halaman rumah untuk menyerahkan selendang itu.

Kata kepada selalu diikuti oleh kata yang mengacu pada orang, sedangkan kata di diikuti kata yang merujuk pada tempat. Karena sekolah adalah tempat, pada kalimat tersebut lebih tepat digunakan kata depan di.

Yang juga agak mengganggu perasaan saya adalah penggunaan kata dipasangkan pada klausa Komputer tablet tersebut telah dipasangkan aplikasi rumah belajar…. Saya tidak menemukan alasan penggunaan kata dipasangkan pada klausa tersebut. Tidakkah lebih tepat menggunakan kata dipasangi? Itu pun harus diikuti dengan kata depan dengan.  Saya kira penggunaan kata dipasangi sepadan dengan penggunaan kata berimbuhan di-i berikut ini.
1.      Dinding itu dilapisi dengan kertas dinding.
2.      Tong sampah itu ditutupi dengan kertas koran.
3.      Kelas itu dihiasi dengan kertas warna-warni.

Jadi, secara keseluruhan paragraf kedua dapat diubah sebagai berikut.
Pada tahun ini, program digitalisasi sekolah akan direalisasikan di 30.227 sekolah melalui BOS Afirmasi, dan 6.004 sekolah melalui BOS Kinerja. Melalui program ini, pemerintah akan memberikan sarana pembelajaran di sekolah berupa tablet kepada 1.753.000 siswa kelas 6, kelas 7, dan kelas 10 di seluruh Indonesia, khususnya sekolah yang berada di pinggiran. Komputer tablet tersebut telah dipasangi (dilengkapi) dengan aplikasi rumah belajar yang menyediakan delapan fitur utama, yakni sumber belajar, buku sekolah elektronik, bank soal, laboratorium maya, peta budaya, wahana jelajah angkasa, pengembangan keprofesian berkelanjutan, dan kelas maya.

Demikian persepsi saya. Barangkali Anda punya sudut pandang yang berbeda, mari kita berbagi. Terima kasih Dr. Fahrudin, mohon maaf bila ada kata saya yang menyakiti, sehat selalu, teruslah berkarya bagi bangsa ini.

Semarang, 22 Oktober 2019
Sholihul Hadi

No comments:

Post a Comment

Alat Transportasi Populer

  Transportasi merupakan kegiatan yang sangat penting bagi manusia. Transportasi adalah aktivitas yang melibatkan pemindahan atau pengangkut...