Sunday, October 20, 2019

Morfologi


Morfologi adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata. Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik. (http://id.wikipedia.org/wiki/linguistik). Kata Morfologi berasal dari kata morphologie. Kata morphologie berasal dari bahasa Yunani morphe yang digabungkan dengan logos. Morphe berarti bentuk dan dan logos berarti ilmu. Jadi, berdasarkan makna unsur-unsur pembentukannya itu, kata morfologi berarti ilmu tentang bentuk. Morfologi berarti pengetahuan tentang bentuk. Morfologi adalah bidang linguistik atau tata bahasa yang mengkaji tentang pembentukan kata atau morfem-morfem dalam suatu bahasa.
Dalam kaitannya dengan kebahasaan, yang dipelajari dalam morfologi ialah bentuk kata. Selain itu, perubahan bentuk kata dan makna (arti) yang muncul serta perubahan kelas kata yang disebabkan perubahan bentuk kata itu, juga menjadi objek pembicaraan dalam morfologi. Dengan kata lain, secara struktural objek pembicaraan dalam morfologi adalah morfem pada tingkat terendah dan kata pada tingkat tertinggi. Itulah sebabnya, dikatakan bahwa morfologi adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk kata (struktur kata) serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap makna (arti) dan kelas kata.

a.         Morfem

1)        Pengertian Morfem

Morfem adalah suatu bentuk bahasa yang tidak mengandung bagian-bagian yang mirip dengan bentuk lain, baik bunyi maupun maknanya. (Bloomfield, 1974: 6). Menurut Hooket dalam Sutawijaya dkk morfem adalah unsur-unsur terkecil yang memiliki makna dalam tutur suatu bahasa. Kalau dihubungkan dengan konsep satuan gramatik, unsur yang dimaksud oleh Hockett itu, tergolong  ke dalam satuan gramatik yang paling kecil. Morfem dapat juga dikatakan unsur terkecil dari pembentukan kata dan disesuaikan dengan aturan suatu bahasa. Pada bahasa Indonesia morfem dapat berbentuk imbuhan. Misalnya kata praduga memiliki dua morfem yaitu /pra/ dan /duga/. Kata duga merupakan kata dasar penambahan morfem /pra/ menyebabkan perubahan arti pada kata duga. (http://id.wikipedia.org/wiki/linguistik). Berdasarkan konsep-konsep di atas di atas dapat dikatakan bahwa morfem adalah satuan gramatik yang terkecil yang mempunyai makna, baik makna leksikal maupun makna gramatikal.
Contoh:
Kata memperbesar dapat dipenggal menjadi memper- + besar. Afiks memper- dapat dipenggal lagi menjadi mem- + per-. Afiks mem- dan per- masih mempunyai makna, yaitu makna gramatikal. Akan tetapi, kata besar tidak dapat dipenggal menjadi be + sar karena menghasilkan bentukan yang tidak bermakna, baik makna leksikal maupun makna gramatikal. Jadi, morfem yang terdapat pada kata memperbesar ada tiga, yaitu  mem-, per-, dan besar.
Morfem yang bergabung dengan morfem lain sering mengalami perubahan. Misalnya, morfem terikat me- bisa berubah menjadi mem-, men-, meny-, menge-, dan menge- sesuai dengan lingkungan yang dimasuki. Lingkungan itu membentuk variasi morfem yang disebut alomorf. Alomorf yaitu variasi morfem yang terjadi karena pengaruh lingkungan yang dimasuki.
Contoh alomorf:
No
Morfem
Alomorf
Contoh Kata
1
Me-
Mem-, men-, meng-, meny-, menge-
Membaca, menulis, menggambar, menyikat, mengecat
2
Ber-
Bel-, be-
Belajar, berenang
3
Ter-
Te-
Telentang
4
Pe-
Pem-, pen-, peng-, peny-, penge-
Pemborong, pencuci, pengunci,


2)      Klasifikasi Morfem
(1)     Morfem Bebas dan Morfem Terikat
Morfem ada yang bersifat bebas dan ada yang bersifat terikat. Morfem terikat yaitu morfem yang tidak mampu berdiri sendiri sehingga harus selalu berikatan dengan morfem bebas melalui proses morfologis atau proses pembentukan kata. Morfem bebas yaitu morfem yang dapat berdiri sendiri sebagai kata serta secara gramatikal menduduki satu fungsi pada kalimat. Morfem bebas disebut juga sebagai kata dasar.
Contoh:
(a)      Morfem bebas      : buku, kantor, pantau, uji, ajar, kali, arsip, dan liput, dsb.
(b)     Morfem terikat     : me-, pe-, -an, ke--an, di-, swa-, trans-, -logi, -isme, dsb.

(2)     Morfem Segmental dan Morfem Supra Segmental
Morfem segmental adalah morfem yang terjadi dari fonem atau susunan fonem segmental. Sebagai contoh, morfem {rumah}, dapat dianalisis ke dalam segmen-segmen yang berupa fonem [r,u,m,a,h]. Fonem-fonem itu tergolong ke dalam fonem segmental. Oleh karena itu, morfem {rumah} tergolong ke dalam jenis morfem segmental. Morfem suprasegmental adalah morfem  yang terjadi dari fonem suprasegmental. Misalnya, jeda dalam bahasa Indonesia. Contoh:
(a)      bapak wartawan   : bapak//wartawan
(b)     ibu guru                : ibu//guru

(3)     Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tak Bermakna Leksikal
Morfem yang bermakna leksikal merupakan satuan dasar bagi terbentuknya kata. Morfem yang bermakna leksikal itu merupakan leksem, yakni bahan dasar yang setelah mengalami pengolahan gramatikal menjadi kata ke dalam subsistem gramatika. Yang termasuk morfem bermakna leksikal misalnya morfem {sekolah} berarti ‘tempat belajar’. Morfem yang tak bermakna leksikal dapat berupa morfem imbuhan, seperti {ber-}, {ter-}, dan {se-}. morfem-morfem tersebut baru bermakna jika berada dalam pemakaian. Contoh morfem tak bermakna leksikal adalah {bersepatu} berarti ‘memakai sepatu’.

(4)   Morfem Utuh dan Morfem Terbelah
Morfem utuh merupakan morfem-morfem yang unsur-unsurnya bersambungan secara langsung. Contohnya adalah {makan}, {tidur}, dan {pergi}. Morfem terbelah adalah morfem-morfem yang tidak tergantung menjadi satu keutuhan. Morfem-morfem itu terbelah oleh morfem yang lain. Contohnya yaitu {kehabisan} terdapat imbuhan ke-an atau {ke….an. Contoh lain adalah morfem{gerigi. Morfem gerigi memilki morf /g..igi/. Jadi, ciri terbelahnya terletak pada morfnya, tidak terletak pada morfemnya itu sendiri. Morfem itu direalisasikan menjadi morf terbelah jika mendapatkan sisipan, yakni morfem sisipan {-er-}.
(5)  Morfem Monofonemis  dan Morfem Polifonemis
Morfem monofonemis merupakan morfem yang terdiri dari satu fonem. Dalam bahasa Indonesia pada dapat dilihat pada morfem {-i} kata datangi atau morfem{a} dalam bahasa Inggris pada seperti pada kata asystematic. Morfem polifonemis merupakan morfem yang terdiri dari dua, tiga, dan empat fonem. Contoh dalam bahasa Inggris adalah morfem {un-} berarti ‘tidak’ dan dalam bahasa Indonesia morfem {se-} berarti ‘satu, sama’.

(6)  Morfem Aditif, Morfem Replasif, dan Morfem Substraktif
Morfem aditif adalah morfem yang ditambah atau ditambahkan. Kata-kata yang mengalami afiksasi, seperti yang terdapat pada contoh-contoh berikut merupakan kata-kata yang terbentuk dari morfem aditif itu. Contohnya dapat dilihat sebagai berikut.
(a)      Meng + tulis         : menulis
(b)     House + s             : houses
Morfem replasif merupakan morfem yang bersifat penggantian. Dalam bahasa Inggris, misalnya, terdapat morfem penggantian yang menandai jamak. Contohnya pada kata foot {fut} dan feet {fi:t}. Morfem substraktif adalah morfem yang alomorfnya terbentuk dari hasil pengurangan terhadap unsur (fonem) yang terdapat morf yang lain. Biasanya terdapat dalam bahasa Perancis, misalnya fos – fo, bon – bo, dll.

No comments:

Post a Comment

Alat Transportasi Populer

  Transportasi merupakan kegiatan yang sangat penting bagi manusia. Transportasi adalah aktivitas yang melibatkan pemindahan atau pengangkut...