Fungsi sintaksis pada hakikatnya adalah ”tempat” atau ”laci”
yang dapat diisi oleh bentuk bahasa tertentu (Manaf, 2009:34). Wujud fungsi
sintaksis adalah subjek (S), prediket (P), objek (O), pelengkap (Pel.), dan
keterangan (ket). Tidak semua kalimat harus mengandung semua fungsi sintaksis
itu. Unsur fungsi sintaksis yang harus ada dalam setiap kalimat adalah subjek
dan prediket, sedangkan unsur lainnya, yaitu objek, pelengkap dan keterangan
merupakan unsur penunjang dalam kalimat. Fungsi sintaksis akan dijelaskan
berikut ini.
a) Subjek
Fungsi subjek merupakan pokok dalam sebuah kalimat. Pokok
kalimat itu dibicarakan atau dijelaskan oleh fungsi sintaksis lain, yaitu
prediket.
Ciri-ciri
subjek adalah sebagai berikut:
·
Dalam kalimat normal, S selalu berada di
awal atau ditulis sebelum predikat (P);
·
S dapat ditentukan dengan menggunakan
kata tanya apa atau siapa;
·
Dalam kalimat transitif, S akan menjadi
O apabila kalimatnya dipasifkan atau diakifkan;
·
Berupa
kata atau frasa benda (nomina);
·
Dapat
diserta kata ini atau itu;
·
Dapat
disertai pewatas yang;
·
Tidak
didahului preposisi di, dalam, pada, kepada, bagi, untuk, dan lain-lain;
·
Tidak
dapat diingkarkan dengan kata tidak, tetapi dapat diingkarkan dengan kata
bukan.
Contoh:
a.
Ayah membaca koran di teras.
S
P O
Ket. Tempat
b. Koran dibaca Ayah Tuti di halaman belakang sore
tadi.
S P O Ket. Tempat Ket.
Waktu
c. Meja kayu ini akan dijual di
pasar.
S P Ket. Tempat
b) Predikat
Predikat merupakan unsur yang membicarakan atau menjelaskan
pokok kalimat atau subjek.
Ciri-cirinya:
·
Dalam
kalimat normal, P selalu berada di belakang S atau ditulis setelah S.
·
P
dapat berupa KK, KB, KS, K Bil atau frasa kerja, benda, sifat, atau bilangan.
·
Dapat
dicari dengan pertanyaan: Apa pekerjaan atau perbuatan S, bagaimana keadaan S,
berapa jumlah S-nya.
Contoh:
a.
Adik sedang mengerjakan tugas di
kamar.
S P O Ket. Tempat
b.
Ayahnya penjahit.
S P
c.
Anak itu sangat pandai.
S
P
d.
Kambingnya enam ekor.
S P
c) Objek
Fungsi objek adalah unsur kalimat yang kehadirannya dituntut
oleh verba transitif pengisi predikat dalam kalimat aktif. Objek dapat dikenali
dengan melihat verba transitif pengisi predikat yang mendahuluinya.
Ciri-cirinya:
·
Dalam
kalimat transitif yang normal, O selalu berada di belakang P atau ditulis
setelah P.
·
O
akan menjadi S apabila kalimatnya dipasifkan atau diaktifkan.
·
O
hanya terdapat pada kalimat transitif.
Contoh:
a.
Semua siswa membawa bahan prakarya dari
rumah.
S P O Ket. Tempat
b.
Kelas itu sudah dibersihkan Pak Parsana.
S P O
c.
Ibu membelikan ayah sepotong
sarung di pasar Johar.
S P O Pel. Ket. Tempat
d) Pelengkap
Pelengkap adalah unsur kalimat yang berfungsi melengkapi
informasi, mengkhususkan objek, dan melengkapi struktur kalimat. Pelengkap
(pel.) bentuknya mirip dengan objek karena sama-sama diisi oleh nomina atau
frasa nominal dan keduanya berpotensi untuk berada langsung di belakang
predikat.
Ciri-cirinya:
·
Pel.
mengikuti P dalam kalimat intransitif.
·
Pel.
tidak bisa menjadi S.
·
Pel.
Tidak berpindah tempat meskipun kalimatnya bisa dibalik.
·
Biasanya
berupa KB atau frasa benda.
Contoh:
a.
Orang itu berjualan batik.
S P Pel.
b.
Adik bertemu temannya di
sekolah.
S P Pel. Ket. tempat
c.
Bunga membawakan Kumbang secangkir
kopi tadi malam.
S P O Pel. Ket. Waktu
e) Keterangan
Keterangan adalah unsur kalimat yang memberikan keterangan
kepada seluruh kalimat. Sebagian besar unsur keterangan merupakan unsur
tambahan dalam kalimat.
Ciri-cirinya:
·
Mobilitasnya
tinggi (bisa berada di mana saja)
·
Biasanya
menggunakan kata depan
Jenis-jenis Keterengan:
a.
Keterangan
Tempat ( di, ke)
b.
Keterangan
Waktu ( ketika, saat, tatkala )
c.
Keterangan
Alat ( dengan )
d.
Keterangan
Tujuan ( agar, supaya )
e.
Keterangan
Cara ( dengan, sambil, sembari, seraya )
f.
Keterangan
Penyerta ( dengan, bersama )
g.
Keterangan
Perbandingan ( seperti, bagai )
h.
Keterangan
Sebab ( karena, sebab)
i.
Keterangan
Kesalingan ( dengan )
4)
Intonasi
Kalimat
Sebuah klausa yang sama, artinya terdiri dari unsur
segmental yang sama, dapat manjadi kalimat deklaratif atau kalimat interogatif
hanya dengan mengubah intonasinya. Kalau konstituen dasar kalimat dapat
diuraikan atas segmen-segmennya berdasarkan ciri morfologi dan sintaksis,
intonasinya dapat diuraikan atas ciri-cirinya yang berupa tekanan, tempo, dan
nada. Tekanan adalah ciri-ciri suprasegmental yang menyertai bunyi ujaran.
Tempo adalah waktu yang dibutuhkan untuk melafalkan suatu arus ujaran. Nada
adalah unsur suprasegmental yang diukur berdasarkan kenyaringan suatu segmen
dalam suatu arus ujaran.
No comments:
Post a Comment